Klinik Mutiara Cikutra

Imunisasi MR, Solusi Pencegahan Efektif untuk Campak dan Rubella pada Anak

Imunisasi MR, Solusi Pencegahan Efektif untuk Campak dan Rubella pada Anak

Imunisasi MR, Solusi Pencegahan Efektif untuk Campak dan Rubella pada Anak

Imunisasi anak
Sumber : Envanto

Sejak dulu, imunisasi telah menjadi bagian penting dari upaya pencegahan penyakit sejak dini bagi si kecil. Prosedur medis ini membantu anak membentuk daya tahan tubuh yang kebal terhadap berbagai penyakit menular yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka.

Nah, tahukah Anda? Salah satu imunisasi yang dianjurkan untuk si kecil adalah imunisasi MR yang disebut-sebut sebagai upaya efektif untuk melindungi anak dari risiko penyakit campak dan rubella.

Pertanyaannya, benarkah demikian? Berikut penjelasan lengkapnya untuk Anda. Mulai dari informasi menarik tentang penyakit campak dan rubella, peran imunisasi MR sebagai upaya pencegahan efektif, hingga rekomendasi layanan imunisasi lengkap nan berkualitas di akhir artikel. Yuk, simak!

Mengenal Penyakit Campak dan Rubella

Imunisasi
Sumber : Envanto

Setiap tahunnya, menurut laporan WHO, setidaknya 1,4 juta kematian anak di bawah usia 5 tahun disebabkan oleh penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi. Dua contohnya, yaitu campak dan rubella.

Kedua penyakit ini merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus melalui saluran napas. Memiliki gejala umum yang cukup serupa, campak dan rubella sebenarnya berbeda.

Campak (measles) atau rubeola merupakan infeksi yang terjadi karena adanya pertumbuhan virus di sel yang berada di tenggorokan dan paru-paru. Ini termasuk penyakit yang sangat mudah menular melalui udara, misalnya saat orang yang telah terinfeksi batuk atau bersin.

Sementara itu, rubella adalah penyakit yang juga disebut dengan sebutan “campak Jerman”, sama-sama disebabkan penularan virus melalui udara. Namun, satunya adalah jenis campak biasa, sedangkan satunya lagi dikenal sebagai campak Jerman.

Campak biasa umumnya mulai menunjukkan gejala setelah 8-12 hari penderitanya terpapar virus, sedangkan campak Jerman baru akan menunjukkan gejala setelah 16-18 hari terinfeksi.

Selain itu, gejala awal campak biasa umumnya lebih parah/berat, sedangkan gejala awal campak Jerman lebih ringan—bahkan seringnya tidak terdeteksi sama sekali. Dari segi tingkat bahaya pun, campak biasa (measles) jauh lebih berisiko dibandingkan campak Jerman (rubella).

Pentingnya Imunisasi MR untuk Pencegahan Campak dan Rubella

Imunisasi anak
Sumbr : Envanto

Imunisasi MR, sesuai namanya, adalah jenis imunisasi yang menggunakan kombinasi dua vaksin, yaitu vaksin campak atau “measles” (M) dan “rubella” (R).

Ini merupakan imunisasi yang dilakukan sebagai upaya perlindungan terhadap penyakit campak dan rubella. Digunakan di lebih dari 141 negara di dunia, imunisasi MR sudah terbukti aman untuk anak. Terlebih, imunisasi ini juga telah mendapat rekomendasi dari WHO serta izin edar dari BPOM.

Lantas, bagaimana dengan efektivitasnya? Apa benar imunisasi MR efektif untuk mencegah penyakit campak dan rubella? Ya, imunisasi ini diklaim 95 persen efektif dalam pencegahan campak maupun rubella.

Oleh karena itu, imunisasi MR berperan sangat penting untuk membantu memperkuat sistem imunitas anak agar kebal terhadap penyakit campak dan rubella. Reaksi yang ditimbulkannya pun terbilang normal, biasanya hanya berupa demam ringan atau nyeri di area yang disuntik–yang bisa hilang dalam 2-3 hari.

Hal ini menunjukkan bahwa imunisasi MR memiliki tingkat keamanan yang baik bagi anak. Termasuk untuk anak yang sudah mendapat dua dosis imunisasi campak.

Sebagai informasi, selama masa kampanye imunisasi MR, imunisasi ini diberikan pada anak mulai usia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun. Namun, setelahnya, imunisasi MR masuk ke dalam jadwal imunisasi rutin untuk anak usia 9 bulan, 18 bulan, serta kelas 1 SD/sederajat.

Layanan Imunisasi Lengkap di KMC

Bagi Anda yang menginginkan pengalaman imunisasi lengkap dan terbaik bagi si kecil, Anda bisa mengandalkan fasilitas kesehatan KMC alias Klinik Mutiara Cikutra.

Klinik Mutiara Cikutra adalah klinik yang telah terdaftar resmi dan memiliki izin Kementerian Kesehatan, sehingga kualitas maupun keamanannya sudah terbukti terjamin.

KMC menawarkan berbagai layanan kesehatan yang aman dan berkualitas. Salah satunya layanan imunisasi lengkap, termasuk imunisasi MR untuk pencegahan efektif penyakit campak dan rubella.

Selain itu, klinik ini juga didukung oleh tenaga medis profesional yang ahli serta berpengalaman di bidangnya. Tentunya dengan pelayanan memuaskan yang seramah keluarga serta tempat yang senyaman rumah sendiri.

Terdiri dari beberapa cabang, Klinik Mutiara Cikutra tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia. Jadi, Anda bisa menyesuaikannya dengan klinik terdekat dari lokasi Anda.

Bagaimana? Tertarik? Yuk, jadwalkan kunjungan Anda bersama si kecil ke KMC sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

https://web.rshs.go.id/imunisasi-campak-dan-rubella-untuk-anak-kita-berikan-yang-terbaik-untuk-buah-hati-anda/

Si Kecil Tidak Imunisasi atau Terlambat Melakukannya? Ini Dampaknya, yuk Konsultasi Segera ke Dokter Anak!

Si Kecil Tidak Imunisasi atau Terlambat Melakukannya? Ini Dampaknya, yuk Konsultasi Segera ke Dokter Anak!

Si Kecil Tidak Imunisasi atau Terlambat Melakukannya? Ini Dampaknya, yuk Konsultasi Segera ke Dokter Anak!

konsultasi anak
Sumber : Envanto

Imunisasi adalah upaya efektif untuk melindungi tubuh dari penyakit-penyakit tertentu melalui pemberian vaksin. Adapun vaksin yang diberikan berupa kuman, bakteri, atau virus yang sudah dilemahkan ataupun dimatikan sebelumnya, sehingga dipastikan tidak berbahaya bagi tubuh.

Vaksin ini justru akan merangsang tubuh untuk memproduksi antibodi agar tubuh bisa lebih kebal terhadap berbagai penyakit. Lantas, bagaimana jika si kecil tidak diimunisasi atau terlambat melakukannya? Perlukah konsultasi ke dokter anak jika mengalami situasi ini?

Berikut penjelasan lengkapnya untuk Anda, termasuk rekomendasi dokter anak terbaik untuk konsultasi imunisasi si kecil yang berkualitas di akhir artikel. Yuk, simak!

Apa Bahayanya jika Anak Tidak Diimunisasi?

dokter anak
Sumber : Envanto

Imunisasi merupakan salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan anak sejak dini. Bahkan upaya ini dianggap sebagai investasi kesehatan yang paling cost-effective oleh World Health Organization (WHO) alias Organisasi Kesehatan Dunia.

Bukan tanpa alasan, ini karena imunisasi sudah terbukti ampuh dan efektif dalam mencegah maupun mengurangi kasus sakit, cacat, hingga bahkan kematian akibat PD3I yang diperkirakan bisa menembus angka 2-3 juta kematian per tahunnya.

Dengan pemberian vaksin melalui imunisasi, anak bisa tumbuh lebih kuat dan sehat. Oleh karena itu, sebagai orang tua bijak, penting bagi Anda untuk mengikutsertakan si kecil dalam program imunisasi secara terjadwal.

Namun, bagaimana jadinya jika anak tidak diimunisasi? Apa saja bahayanya? Pertama-tama, Anda harus paham bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang krusial. Pasalnya, di fase inilah pertumbuhan terjadi dengan pesat dan dapat memengaruhi kualitas hidup jangka panjang mereka di masa depan.

Kendati demikian, pada fase ini tubuh anak juga masih sangat rentan terhadap berbagai penyakit. Terlebih jika tidak dibarengi dengan perlindungan seperti imunisasi. Maka dari itu, anak yang tidak diimunisasi akan jauh lebih rentan terinfeksi penyakit berbahaya dibandingkan mereka yang diimunisasi.

Bagi anak yang sudah diimunisasi, meskipun suatu hari mereka terjangkit penyakit, maka setidaknya hanya akan berupa sakit ringan alias tidak parah. Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa bahaya yang bisa terjadi jika anak tidak menerima imunisasi:

  • Sistem imun atau kekebalan tubuh yang buruk.
  • Risiko komplikasi penyakit yang lebih besar.
  • Risiko penurunan harapan hidup.

Dampak Imunisasi Terlambat atau Terlewat

dokter anak
Sumber : Envanto

Imunisasi merupakan hal yang sangat penting, bahkan termasuk hal wajib untuk dilakukan sejak dini dan secara terjadwal. Namun, tak dimungkiri bahwa dalam praktiknya, berbagai faktor terkadang bisa membuat imunisasi menjadi terlambat, terlewat, atau tertunda.

Hal ini bisa disebabkan oleh keterbatasan akses hingga kurangnya informasi. Nah, pertanyaannya, apa dampaknya jika imunisasi terlewat atau terlambat diberikan kepada anak?

Ketika imunisasi tidak dilakukan sesuai jadwal, maka dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh anak yang bersangkutan, tetapi juga orang-orang di sekitar mereka yang rentan terhadap suatu penyakit.

Selain untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh anak itu sendiri, vaksin juga berfungsi sebagai pencegah penularan/penyebaran penyakit berbahaya. Terutama kepada bayi atau anak-anak lainnya yang memang paling rentan terhadap penyakit-penyakit menular.

Layanan Dokter Anak Terbaik untuk Konsultasi Imunisasi Berkualitas

Jika Anda sedang mengalami situasi yang membingungkan karena anak terlambat atau sempat melewatkan jadwal imunisasi, Anda tidak perlu terlalu khawatir. Pasalnya, anak Anda tetap bisa mendapat imunisasi susulan (catch-up immunization) melalui “imunisasi kejar”.

Untuk lebih jelasnya, Anda bisa berkonsultasi dulu dengan dokter anak untuk memperoleh arahan dan penanganan terbaik. Dan, salah satu fasilitas layanan dokter anak berkualitas yang dapat diandalkan yaitu, KMC atau Klinik Mutiara Cikutra.

Ini adalah klinik kesehatan berizin resmi Kementerian Kesehatan yang menawarkan pelayanan seramah keluarga serta tempat yang senyaman rumah sendiri. Jadi, sangat cocok bagi Anda yang memprioritaskan kualitas sekaligus kenyamanan.

Di Klinik Mutiara Cikutra juga tersedia berbagai layanan kesehatan, termasuk layanan dokter anak dan imunisasi berkualitas. Mulai dari imunisasi wajib program pemerintah hingga imunisasi tambahan.

Jadi, bagi Anda yang tertarik, Anda bisa datang langsung ke Klinik Mutiara Cikutra terdekat dari lokasi Anda. Sebab, KMC hadir dengan berbagai cabang di sejumlah wilayah Indonesia.

Nah, tunggu apa lagi? Yuk, jadwalkan kunjungan Anda dan si kecil kesayangan ke dokter anak berkualitas di Klinik Mutiara Cikutra sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Kondisi Anak yang Tidak Disarankan Melakukan Imunisasi

Kondisi Anak yang Tidak Disarankan Melakukan Imunisasi

Kondisi Anak yang Tidak Disarankan Melakukan Imunisasi

dokter anak
Sumber : Envanto

Salah satu langkah penting dalam melindungi anak dari berbagai penyakit berbahaya adalah dengan melakukan imunisasi. Namun, sama halnya dengan tindakan medis lainnya, upaya ini juga harus benar-benar memperhatikan kondisi kesehatan anak secara menyeluruh agar tetap aman dan hasilnya maksimal.

Nah, dalam artikel ini, Anda bisa mengetahui beberapa kondisi anak yang tidak disarankan untuk diimunisasi atau sebaiknya ditunda dulu. Apa saja kira-kira? Berikut informasi lengkapnya. Yuk, simak!

Imunisasi, Definisi dan Manfaatnya

dokter anak
Sumber : Envanto

Imunisasi adalah pemberian vaksin yang bertujuan untuk merangsang kekebalan tubuh. Dengan memberikan vaksin kepada anak, sistem imun mereka diharapkan meningkat sehingga bisa kebal terhadap penyakit-penyakit tertentu.

Dengan kata lain, vaksin yang diberikan berperan dalam menciptakan antibodi, yaitu zat yang bertugas melawan infeksi. Hasilnya, anak akan kebal terhadap penyakit-penyakit tertentu. Kalaupun di kemudian hari mereka sakit, maka setidaknya gejalanya tidak akan separah anak yang tidak melakukan imunisasi sama sekali.

Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa manfaat dari imunisasi:

  • Mencegah penyakit menular berbahaya.
  • Mengurangi risiko komplikasi dan kematian.
  • Menurunkan angka kejadian penyakit dan kecacatan.
  • Menghemat waktu dan biaya pengobatan jangka panjang.
  • Membantu membentuk kekebalan individu dan kelompok (herd immunity), sehingga dapat melindungi diri sendiri serta masyarakat dari wabah penyakit.

Kondisi Anak Tidak Disarankan Imunisasi

dokter anak
Sumber : Envanto

Berikut beberapa kondisi anak yang tidak disarankan/dibolehkan atau ditunda dulu untuk diimunisasi:

Sistem Kekebalan Tubuh Sedang Menurun

Imunisasi tidak disarankan dilakukan ketika sistem kekebalan tubuh anak sedang menurun. Hal ini biasanya terjadi pada anak yang menjalani pengobatan tertentu setelah transplantasi organ, kemoterapi, mengidap HIV, dan lain-lain.

Alasannya, memberikan vaksin hidup (meski sudah dilemahkan) pada anak dengan sistem imun yang lemah justru dapat membuat virus/bakteri hidup tersebut berkembang biak hingga menyebabkan infeksi serius.

Memiliki Gangguan Saraf Progresif

Anak dengan gangguan saraf progresif umumnya tidak dianjurkan untuk menerima imunisasi hingga kondisi mereka stabil. Sebab, sistem saraf yang belum terkendali dapat berisiko mengalami kerusakan lebih lanjut jika tubuh bereaksi terhadap vaksin.

Gangguan saraf progresif seperti epilepsi yang tidak terkontrol dapat memengaruhi fungsi otak, dan demam atau respon imun pasca vaksinasi bisa semakin memperburuk gejala tersebut.

Selain itu, pemberian vaksin yang mengandung virus hidup juga berpotensi memicu reaksi yang lebih kuat dan berisiko pada anak dengan masalah neurologis aktif. Oleh karena itu, imunisasi disarankan ditunda terlebih dahulu, setidaknya sampai gangguan saraf pada anak benar-benar teratasi.

Menderita Penyakit Kronis

Jika anak menderita penyakit akut atau kronis seperti kanker dan lain sejenisnya, imunisasi harus ditunda dulu sampai keadaan mereka benar-benar membaik. Jika tetap dipaksakan, maka kemungkinan besar vaksin tidak akan bisa bekerja secara optimal. 

Sebab, pemberian vaksin ke dalam tubuh anak bertujuan untuk merangsang sistem imun agar lebih kebal. Di sisi lain, ketika anak menderita penyakit kronis, respons imun mereka terhadap vaksin justru menurun.

Mengalami Alergi Parah

Apabila si kecil pernah mengalami reaksi alergi yang parah akibat imunisasi, sebaiknya Anda tidak melanjutkan tahap selanjutnya sebelum berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter.

Selain alergi, dalam sejumlah kasus, beberapa anak bahkan bisa mengalami reaksi lain seperti kejang setelah diimunisasi. Terlebih jika mereka menerima vaksin yang memang dapat memicu demam ringan sebagai efek sampingnya.

Demam Tinggi

Anak yang mengalami demam ringan tetap diperbolehkan menerima vaksin. Namun, lain halnya jika anak demam tinggi dengan suhu lebih dari 38,3 derajat Celcius. Apabila buah hati kesayangan Anda mengalami hal ini, terlebih jika memang memiliki riwayat kejang demam, maka imunisasi sebaiknya ditunda dulu.

Rekomendasi Layanan Imunisasi Berkualitas

Bagi Anda yang ingin memberikan pengalaman imunisasi terbaik untuk si kecil, pastikan Anda memilih fasilitas kesehatan berkualitas seperti KMC alias Klinik Mutiara Cikutra.

Ini adalah klinik kesehatan yang telah terdaftar resmi dan berizin Kementerian Kesehatan. Jadi, dipastikan sangat aman dan sesuai standar yang berlaku. Terlebih lagi, Klinik Mutiara Cikutra didukung oleh dokter serta tim medis profesional yang berpengalaman di bidangnya.

Selain itu, klinik ini juga menawarkan tempat senyaman rumah sendiri dan pelayanan yang seramah keluarga. Cocok bagi Anda yang memprioritaskan keamanan, sekaligus kenyamanan.

Di Klinik Mutiara Cikutra tersedia layanan imunisasi yang lengkap, baik imunisasi wajib dari pemerintah maupun imunisasi tambahan. Jadi, yuk, jadwalkan kunjungan Anda bersama si kecil sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Mengenal Imunisasi BCG, Bisa Sebabkan Bisulan pada Anak?

Mengenal Imunisasi BCG, Bisa Sebabkan Bisulan pada Anak?

Mengenal Imunisasi BCG, Bisa Sebabkan Bisulan pada Anak?

 

Imunisasi adalah proses pemberian vaksin ke dalam tubuh yang tujuannya untuk merangsang imunitas atau sistem kekebalan tubuh agar ke depannya kebal terhadap berbagai jenis penyakit.

Jenis-jenis imunisasi sebenarnya cukup banyak dan beragam. Salah satunya adalah imunisasi BCG. Apa itu? Benarkah efek sampingnya dapat menyebabkan munculnya bisul pada anak? Jika iya, apakah berbahaya?

Tenang, jangan panik dulu. Sebab, artikel ini akan memberikan Anda informasi lengkap terkait imunisasi BCG, sekaligus rekomendasi klinik pilihan berkualitas di akhir artikel. Jadi, yuk, simak hingga akhir!

Mengenal Imunisasi BCG

imunisasi

Imunisasi BCG termasuk salah satu imunisasi dasar untuk anak di Indonesia. Biasanya diberikan ketika anak masih bayi dengan rentang usia 1-3 bulan, seringnya bersamaan imunisasi polio 1. Nah, di usia di usia-usia tersebut, sistem imun bayi sudah mulai matang.

Jadi, secara umum, vaksin BCG memang hanya dianjurkan untuk diberikan kepada bayi. Namun, dengan pertimbangan khusus, anak yang lebih besar juga bisa mendapat vaksin ini jika memiliki risiko tinggi tertular tuberkulosis.

Adapun untuk efeknya, vaksin BCG telah terbukti sangat efektif pada bayi. Sementara itu, untuk anak yang lebih besar, terlebih remaja dan orang dewasa, tingkat keberhasilannya bisa lebih bervariasi.

Sesuai namanya, imunisasi BCG adalah imunisasi yang menggunakan vaksin BCG. BCG sendiri merupakan kependekan dari Bacillus Calmette-Guerin, yaitu vaksin dengan kandungan bakteri hidup Mycobacterium bovis yang sudah dilemahkan.

Vaksin ini diberikan dengan tujuan untuk mencegah penyakit tuberkulosis (TB/TBC) dan juga radang otak akibat TB. Namun, apabila sudah telanjur terpapar, maka vaksin BCG bisa membantu mencegah bentuk penyakit TB yang parah, misalnya seperti meningitis TB.

Namun, perlu Anda ketahui bahwa pemberian vaksin BCG pada bayi disarankan ditunda terlebih dahulu jika mereka mengalami kondisi-kondisi tertentu, seperti:

  • Kondisi kesehatan bayi tidak stabil.
  • Bayi memiliki berat tubuh (bobot) di bawah 2,5 kilogram.
  • Bayi sedang demam atau menderita penyakit berat lainnya.
  • Bayi dilahirkan oleh seorang ibu yang positif HIV dan hasil tes HIV pada bayi hasilnya belum diketahui.

Proses Munculnya Bisul Setelah Imunisasi BCG, Bahayakah?

imunisasi anak
Sumber Envanto

Sama halnya dengan imunisasi lain pada umumnya, imunisasi BCG juga dapat menimbulkan reaksi tertentu alias efek samping. Adapun efek samping tersebut, yaitu munculnya bisul di area luka bekas suntikan. Tepatnya di sekitar area lengan atas bagian kanan.

Proses munculnya bisul ini dimulai dari bekas suntikan yang awalnya kemungkinan hanya terlihat seperti bintik merah biasa. Namun, bekas suntikan tersebut lambat laun akan berubah menjadi luka. Luka inilah yang kemudian dapat berkembang dengan isian nanah hingga akhirnya membentuk benjolan yang disebut bisul.

Ketika hal ini terjadi, biasanya sebagian orang tua akan merasa panik dan khawatir. Banyak di antara mereka yang lalu bertanya-tanya apakah hal tersebut merupakan hal normal atau justru tanda bahaya bagi buah hati kesayangan. Lantas, apa jawabannya?

Apabila si kecil bisulan setelah menerima vaksin BCG—yang biasanya muncul dalam waktu 2-12 minggu pascaimunisasi, Anda tidak perlu khawatir. Pasalnya, reaksi tersebut merupakan hal wajar setelah pemberian imunisasi ini. Tanpa penanganan khusus pun, bisul bisa sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Jadi, benjolan bisul yang berisi nanah tersebut nantinya akan mengering dan hanya meninggalkan bekas luka atau jaringan parut berdiameter sekitar 2-6 milimeter di area kulit yang telah disuntik.

Rekomendasi Klinik dengan Layanan Imunisasi Berkualitas

Setiap orang tua tentunya menginginkan semua hal terbaik untuk buah hati kesayangan, termasuk dalam persoalan imunisasi. Nah, bagi Anda yang mencari rekomendasi klinik kesehatan berkualitas dengan layanan imunisasi terbaik, rekomendasi yang dapat Anda pertimbangkan adalah Klinik Mutiara Cikutra (KMC).

KMC adalah klinik kesehatan yang telah terdaftar resmi dan memiliki izin Kementerian Kesehatan. Jadi, soal kualitas, tak perlu diragukan lagi. Pasalnya, Klinik Mutiara Cikutra berdedikasi memberikan pelayanan terbaik yang seramah keluarga dan tempat yang nyaman senyaman rumah sendiri.

Menyediakan berbagai layanan kesehatan, salah satunya ada layanan imunisasi. Mulai dari imunisasi wajib program pemerintah hingga imunisasi tambahan, semuanya tersedia lengkap di KMC.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, jadwalkan kunjungan Anda ke KMC bersama si kecil sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Imunisasi Polio: Hal-Hal yang Perlu Diketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Melakukannya

Imunisasi Polio: Hal-Hal yang Perlu Diketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Melakukannya

Imunisasi Polio: Hal-Hal yang Perlu Diketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Melakukannya

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Pemberian imunisasi secara umum merupakan salah satu upaya untuk melindungi tubuh dari berbagai jenis penyakit, tak terkecuali imunisasi polio. Polio (poliomyelitis) sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio.

Penyakit polio menyerang sistem saraf pusat (otak serta sumsum tulang belakang) dan dapat merusak sistem saraf motorik. Akibatnya, seseorang yang terjangkit penyakit polio akan mengalami kelumpuhan anggota gerak, bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Nah, terkait imunisasi polio ini, berikut hal-hal yang perlu Anda ketahui. Di sini, Anda juga akan tahu rekomendasi dokter anak berkualitas untuk melakukannya. Yuk, simak!

Mengenal Imunisasi Polio dan Jenisnya

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Sesuai namanya, imunisasi polio adalah imunisasi yang menggunakan vaksin polio. Ini termasuk salah satu imunisasi dasar yang berlaku di Indonesia. Tujuannya adalah memperkuat sistem imun tubuh seseorang agar kebal terhadap virus tersebut.

Imunisasi polio menjadi imunisasi wajib bagi anak Indonesia. Tindakan ini merupakan langkah preventif untuk melindungi anak sejak dini dari serangan virus polio yang berbahaya.

Terlebih lagi, kebanyakan anak-anak berusia di bawah 5 tahun sangat rentan tertular penyakit polio. Biasanya, virusnya menular melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Selain itu, virus polio juga dapat menyebar melalui makanan atau air yang telah terkontaminasi feses penderita.

Adapun untuk jenisnya, imunisasi polio terbagi atas dua: Oral Polio Vaccine (OPV) dan Inactivated Polio Vaccine (IPV). OPV juga dikenal sebagai “vaksin polio suntik”, sedangkan IPV sebutan lainnya adalah “vaksin polio oral”.

Inactivated Polio Vaccine (IPV)

Ini adalah pemberian vaksin polio melalui suntikan. Jadi, virus polio yang telah mati/tidak aktif diinjeksi ke lengan atas atau paha anak. Namun, vaksin ini hanya membentuk kekebalan dalam darah, tetapi tidak pada usus.

Alhasil, masih ada kemungkinan anak tetap dapat terserang penyakit polio lantaran virus yang bisa berkembang bebas di usus. Oleh karena itu, pemberian IPV perlu didampingi dengan OPV.

Oral Polio Vaccine (OPV)

Ini adalah pemberian vaksin melalui oral. Dengan kata lain, vaksin diberikan dengan cara diteteskan langsung ke mulut anak. Berbeda dengan IPV yang menggunakan virus polio yang telah dinonaktifkan, OPV menggunakan virus polio yang masih aktif tetapi sudah dilemahkan. Jadi, imunisasi ini tetap aman dan tidak berbahaya.

Tujuan pemberian OPV untuk membentuk zat kekebalan tubuh (antibodi) di dalam usus, tak hanya darah. Jadi, dengan IPV dan OPV, virus polio yang berkembang di usus dan darah bisa terbunuh sekaligus. Hasilnya? Anak pun akan terhindar dari penyakit polio.

Kapan Anak Harus Diberikan Imunisasi Polio?

Berdasarkan jadwal imunisasi polio dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin polio umumnya diberikan saat anak masih bayi sebanyak 4 kali. Waktunya adalah ketika bayi baru lahir serta ketika mereka menginjak usia 2, 3, dan 4 bulan.

Untuk bayi yang baru lahir, dokter menganjurkan imunisasi polio pertama berupa OPV. Sementara itu, IPV bisa diberikan pada imunisasi selanjutnya, meski bayi tetap bisa diberikan OPV kembali.

Sebagai tambahan, anak juga bisa mendapat vaksin booster saat mereka memasuki usia 18-24 bulan dan 5 tahun. Hal ini bertujuan untuk menjaga sekaligus memperkuat kekebalan tubuh terhadap virus polio yang kemungkinan sudah mulai menurun.

Hal-Hal yang Perlu Anda  Ketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Imunisasi Polio

Meski sangat bermanfaat, Anda perlu tahu bahwa imunisasi polio tetap memiliki risiko efek samping. Beberapa di antaranya, yaitu:

  • Demam ringan.
  • Rasa nyeri di bekas suntikan.
  • Pengerasan kulit di area suntikan.

Selain itu, Anda juga harus memperhatikan reaksi alergi anak. Jika sebelumnya anak pernah mengalami alergi berat terhadap IPV, maka sebaiknya mereka tidak menerimanya kembali pada imunisasi selanjutnya .

Nah, bagi Anda yang ingin memberikan pengalaman imunisasi terbaik untuk buah hati kesayangan, Klinik Mutiara Cikutra bisa menjadi pilihan utama Anda. Sebab, klinik ini menyediakan berbagai layanan kesehatan, termasuk layanan dokter anak berkualitas.

Imunisasi lengkap dengan dokter anak di KMC dipastikan aman dan nyaman bagi si kecil. Pasalnya, Klinik Mutiara Cikutra berdedikasi memberikan pelayanan terbaik yang seramah keluarga dan tempat yang senyaman rumah sendiri.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, jadwalkan kunjungan Anda bersama si kecil ke dokter anak KMC sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Anak Bisulan Setelah Imunisasi, Bahayakah? Ini Penjelasannya, Lengkap Rekomendasi Imunisasi Bandung

Anak Bisulan Setelah Imunisasi, Bahayakah? Ini Penjelasannya, Lengkap Rekomendasi Imunisasi Bandung

Anak Bisulan Setelah Imunisasi, Bahayakah? Ini Penjelasannya, Lengkap Rekomendasi Imunisasi Bandung

imunisasi Anak
Sumber : Envanto

Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk tumbuh kembang buah hati, termasuk dalam pemberian imunisasi. Sayangnya, terlepas dari berbagai manfaatnya, ada kalanya Anda juga mungkin merasa khawatir akan timbulnya efek samping atau reaksi tertentu setelah melakukan prosedur ini.

Salah satu contohnya, yaitu munculnya bisul pada anak setelah melakukan imunisasi. Pertanyaannya, apakah hal tersebut normal? Atau justru berbahaya bagi si kecil?

Jika saat ini Anda sedang mengalami permasalahan serupa, jangan panik dulu. Sebab, bisa jadi itu memang termasuk salah satu reaksi pascaimunisasi. Untuk lebih jelasnya, berikut informasinya untuk Anda, lengkap rekomendasi layanan imunisasi Bandung terbaik bagi Anda yang berdomisili di Bandung. Yuk, simak!

Penyebab Anak Bisulan Setelah Imunisasi

Munculnya bisul atau anak menjadi bisulan setelah imunisasi biasanya disebabkan oleh vaksin BCG, yang merupakan salah satu imunisasi dasar untuk anak di Indonesia. Imunisasi sendiri adalah prosedur pemberian vaksin ke dalam tubuh guna meningkatkan sistem imun/kekebalan terhadap berbagai jenis penyakit.

Nah, kalaupun di kemudian hari anak yang telah diimunisasi ternyata terjangkit penyakit, maka setidaknya hanya akan berupa sakit ringan alias tidak parah seperti mereka yang tidak pernah menerima imunisasi sama sekali.

Seperti yang telah dipaparkan di atas, vaksin BCG merupakan salah satu jenis vaksin yang diterima anak ketika melakukan imunisasi dasar. Biasanya pemberiannya dilakukan ketika mereka berusia 2-3 bulan (masih bayi) di saat sistem imunnya mulai matang.

BCG merupakan singkatan dari Bacillus Calmette-Guerin, yaitu vaksin yang mengandung kuman Mycobacterium bovis yang sudah dilemahkan. Pemberiannya bertujuan untuk mencegah penyakit TB/TBC alias tuberkulosis serta radang otak akibat TB.

Namun, sama halnya dengan imunisasi-imunisasi lain pada umumnya, pemberian vaksin BCG sebagai salah satu imunisasi dasar juga dapat menimbulkan efek samping atau reaksi tertentu. Nah, salah satunya adalah bisulan di area suntikan yang biasanya berada di area lengan atas sebelah kanan.

Bekas suntikan tersebut dapat menimbulkan luka. Awalnya mungkin hanya akan terlihat seperti bintik merah biasa, tetapi lama-kelamaan dapat berkembang dengan isian nanah hingga akhirnya berubah menjadi benjolan yang disebut bisul. Lantas, apakah ini termasuk hal wajar atau justru berbahaya?

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Berbahayakah Bisul yang Muncul Setelah Imunisasi?

Bisul pada buah hati yang telah diimunisasi dengan vaksin BCG biasanya baru akan muncul saat 2-12 minggu pascaimunisasi. Setelah itu, bisul akan sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Luka yang tadinya berupa benjolan berisi cairan nanah, lambat laun akan mengering hingga akhirnya hanya akan meninggalkan bekas luka atau jaringan parut di area yang telah disuntik. Adapun jaringan parut tersebut biasanya terbentuk dalam kurun waktu tiga bulan dengan diameter sekitar 2-6 milimeter (mm).

Nah, sekarang pertanyaannya adalah, apakah bisul yang muncul setelah imunisasi dengan vaksin BCG ini tergolong berbahaya bagi tumbuh kembang buah hati kesayangan?

Jawabannya “tidak”. Bisul yang muncul akibat efek samping atau reaksi setelah pemberian vaksin BCG tidaklah berbahaya, sehingga Anda tidak perlu khawatir akan hal ini.

Dalam artian, Anda tidak perlu memeriksakan si kecil ke dokter, kecuali memang muncul gejala-gejala lain yang kemungkinan terjadi karena anak telah terpapar kuman TB sebelum vaksin dilakukan. Beberapa gejala tersebut, antara lain:

  • Anak demam tinggi.
  • Terbentuk keloid pada bekas luka.
  • Nanah pada bisul tergolong banyak (abses).

Rekomendasi Imunisasi Bandung Layanan Berkualitas

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Bagi Anda yang tinggal di area Bandung dan sekitarnya, jangan lupa untuk memberikan imunisasi Bandung terbaik untuk buah hati kesayangan. Jika Anda bingung mencari fasilitas kesehatan berkualitas dengan layanan imunisasi Bandung yang baik, Anda dapat mempertimbangkan KMC alias Klinik Mutiara Cikutra.

Klinik Mutiara Cikutra merupakan klinik kesehatan yang terdaftar secara resmi dan memiliki izin Kementerian Kesehatan, sehingga kualitas serta pelayanannya sudah pasti terjamin.

Di sini tersedia berbagai layanan kesehatan, baik untuk ibu, keluarga, bahkan untuk anak. Salah satunya ada layanan imunisasi lengkap yang didukung oleh dokter bersertifikasi yang ahli dan berpengalaman di bidangnya.

Jika tertarik, Anda bisa langsung mengunjungi Klinik Mutiara Cikutra Bandung yang berlokasi di Jl. Cikutra No. 115 Blok A-B, Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat.

Yuk, segera jadwalkan kunjungan Anda bersama buah hati ke KMC dan dapatkan pengalaman imunisasi Bandung terbaik untuk kesayangan!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/