Klinik Mutiara Cikutra

Apakah Aman Cabut Gigi si Kecil di Rumah? Atau Haruskah ke Dokter Gigi Anak?

Apakah Aman Cabut Gigi si Kecil di Rumah? Atau Haruskah ke Dokter Gigi Anak?

Apakah Aman Cabut Gigi si Kecil di Rumah? Atau Haruskah ke Dokter Gigi Anak?

 

Menjaga kesehatan gigi si kecil menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan orang tua, termasuk untuk hal pencabutan gigi. Tak dimungkiri bahwa momen goyangnya gigi buah hati ini kerap menjadi momen mendebarkan sekaligus membingungkan.

Di satu sisi, gigi goyang dapat menjadi tanda positif bahwa anak kini sudah mulai tumbuh besar dan mengalami fase alami dalam pertumbuhan gigi mereka. Namun, di sisi lainnya, Anda juga mungkin merasa kebingungan terkait langkah terbaik apa yang harus diambil.

Apakah sebaiknya menunggu gigi si kecil lepas sendiri, dicabut secara mandiri di rumah, atau justru perlu bantuan profesional seperti dokter gigi anak? Yuk, simak informasi berikut untuk menemukan jawabannya!

Gigi
Sumber : Envanto

Tujuan dan Manfaat Cabut Gigi

Sebisa mungkin, jika gigi alami memang masih bisa diselamatkan tanpa prosedur pencabutan, dokter gigi umumnya akan tetap mempertahankannya. Namun, apabila gigi sudah mengalami kerusakan yang parah, maka mau tak mau gigi harus segera dicabut agar tidak menimbulkan infeksi dan hal-hal tidak diinginkan lainnya.

Jadi, secara umum, cabut gigi bertujuan untuk “membuang” gigi yang dapat menimbulkan kerusakan lebih lanjut. Berikut beberapa indikasi gigi yang biasanya memerlukan prosedur pencabutan:

  • Gigi patah.
  • Gigi berjejal.
  • Gigi berlubang.
  • Gigi yang mengalami kerusakan parah.
  • Gigi yang tidak dapat tumbuh normal karena terhalang tulang, gigi lain, ataupun jaringan gusi, sehingga tertanam di dalam gusi (impaksi gigi).

Selain itu, pencabutan gigi juga biasanya perlu dilakukan jika Anda memiliki penyakit gusi yang parah, gigi mengalami luka, ataupun terjadi cedera gigi.

Adapun manfaat mencabut gigi, yaitu untuk mencegah infeksi, sekaligus membantu menyelaraskan gigi agar tampak lebih rapih.

Waktu Tepat Gigi Anak Dicabut

dokter gigi anak
Sumber : Envanto

Umumnya, gigi anak mulai goyang pada saat mereka memasuki usia sekolah dasar, tepatnya pada usia sekitar 6-7 tahun—yang dimulai dengan gigi seri atas dan gigi seri bawah.

Kemudian, saat anak menginjak usia 7-8 tahun, biasanya gigi taring pun akan mulai ikut copot. Terakhir, memasuki usia 9-12 tahun, gigi geraham menjadi gigi yang akan copot selanjutnya.

Pada waktu-waktu tersebut, anak sudah bisa melakukan prosedur pencabutan gigi. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua anak memiliki momen yang sama dalam pergantian gigi susu ke gigi permanen.

Jadi, waktu yang “tepat” ini bisa sangat bervariasi, tergantung kondisi masing-masing anak dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Nah, kini pertanyaannya adalah, di mana tempat terbaik untuk melakukan prosedur cabut gigi anak?

Apakah bisa dan aman jika dilakukan sendiri di rumah atau sebaiknya memang harus mengunjungi dokter gigi anak?

Cabut di Rumah atau ke Dokter Gigi Anak, Mana yang Lebih Aman?

Sejatinya, mencabut gigi susu anak bisa dilakukan sendiri di rumah oleh orang tua. Dengan catatan, gigi anak memang sudah hampir lepas karena goyang secara alami, bukan karena kecelakaan atau insiden tertentu. Namun, di luar dari alasan itu, pencabutan gigi anak harus ditangani oleh dokter gigi anak.

Adapun beberapa kasus pencabutan gigi yang memerlukan penanganan profesional oleh dokter gigi anak dengan alasan keamanan, yaitu:

  • Infeksi gigi.
  • Cedera gigi.
  • Gigi berlubang.
  • Gigi patah karena kecelakaan.
  • Gigi susu yang belum tanggal, padahal sudah melewati waktunya.
  • Gigi susu yang menghalangi pertumbuhan gigi permanen sehingga menyebabkan tidak adanya ruang untuk gigi tersebut tumbuh.

Nah, bagi Anda yang ingin memberikan pengalaman cabut gigi terbaik untuk buah hati, Klinik Mutiara Cikutra (KMC) bisa menjadi pilihan yang tepat. Ini adalah klinik kesehatan resmi yang telah mendapat izin Kementerian Kesehatan. Jadi, soal kualitas dan pelayanan, Anda tidak perlu khawatir.

Di sini tersedia berbagai layanan kesehatan, termasuk salah satunya layanan dokter gigi anak yang dijamin aman dan nyaman untuk buah hati kesayangan. Selain itu, Klinik Mutiara Cikutra juga menawarkan layanan praktik gigi lainnya, seperti layanan dokter gigi untuk orang dewasa serta layanan dokter spesialis bedah mulut.

Dengan pelayanan yang seramah keluarga dan tempat yang senyaman rumah sendiri, Klinik Mutiara Cikutra sangat layak menjadi pilihan utama Anda dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut si kecil. Yuk, jadwalkan kunjungan Anda sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Mengenal Imunisasi BCG, Bisa Sebabkan Bisulan pada Anak?

Mengenal Imunisasi BCG, Bisa Sebabkan Bisulan pada Anak?

Mengenal Imunisasi BCG, Bisa Sebabkan Bisulan pada Anak?

 

Imunisasi adalah proses pemberian vaksin ke dalam tubuh yang tujuannya untuk merangsang imunitas atau sistem kekebalan tubuh agar ke depannya kebal terhadap berbagai jenis penyakit.

Jenis-jenis imunisasi sebenarnya cukup banyak dan beragam. Salah satunya adalah imunisasi BCG. Apa itu? Benarkah efek sampingnya dapat menyebabkan munculnya bisul pada anak? Jika iya, apakah berbahaya?

Tenang, jangan panik dulu. Sebab, artikel ini akan memberikan Anda informasi lengkap terkait imunisasi BCG, sekaligus rekomendasi klinik pilihan berkualitas di akhir artikel. Jadi, yuk, simak hingga akhir!

Mengenal Imunisasi BCG

imunisasi

Imunisasi BCG termasuk salah satu imunisasi dasar untuk anak di Indonesia. Biasanya diberikan ketika anak masih bayi dengan rentang usia 1-3 bulan, seringnya bersamaan imunisasi polio 1. Nah, di usia di usia-usia tersebut, sistem imun bayi sudah mulai matang.

Jadi, secara umum, vaksin BCG memang hanya dianjurkan untuk diberikan kepada bayi. Namun, dengan pertimbangan khusus, anak yang lebih besar juga bisa mendapat vaksin ini jika memiliki risiko tinggi tertular tuberkulosis.

Adapun untuk efeknya, vaksin BCG telah terbukti sangat efektif pada bayi. Sementara itu, untuk anak yang lebih besar, terlebih remaja dan orang dewasa, tingkat keberhasilannya bisa lebih bervariasi.

Sesuai namanya, imunisasi BCG adalah imunisasi yang menggunakan vaksin BCG. BCG sendiri merupakan kependekan dari Bacillus Calmette-Guerin, yaitu vaksin dengan kandungan bakteri hidup Mycobacterium bovis yang sudah dilemahkan.

Vaksin ini diberikan dengan tujuan untuk mencegah penyakit tuberkulosis (TB/TBC) dan juga radang otak akibat TB. Namun, apabila sudah telanjur terpapar, maka vaksin BCG bisa membantu mencegah bentuk penyakit TB yang parah, misalnya seperti meningitis TB.

Namun, perlu Anda ketahui bahwa pemberian vaksin BCG pada bayi disarankan ditunda terlebih dahulu jika mereka mengalami kondisi-kondisi tertentu, seperti:

  • Kondisi kesehatan bayi tidak stabil.
  • Bayi memiliki berat tubuh (bobot) di bawah 2,5 kilogram.
  • Bayi sedang demam atau menderita penyakit berat lainnya.
  • Bayi dilahirkan oleh seorang ibu yang positif HIV dan hasil tes HIV pada bayi hasilnya belum diketahui.

Proses Munculnya Bisul Setelah Imunisasi BCG, Bahayakah?

imunisasi anak
Sumber Envanto

Sama halnya dengan imunisasi lain pada umumnya, imunisasi BCG juga dapat menimbulkan reaksi tertentu alias efek samping. Adapun efek samping tersebut, yaitu munculnya bisul di area luka bekas suntikan. Tepatnya di sekitar area lengan atas bagian kanan.

Proses munculnya bisul ini dimulai dari bekas suntikan yang awalnya kemungkinan hanya terlihat seperti bintik merah biasa. Namun, bekas suntikan tersebut lambat laun akan berubah menjadi luka. Luka inilah yang kemudian dapat berkembang dengan isian nanah hingga akhirnya membentuk benjolan yang disebut bisul.

Ketika hal ini terjadi, biasanya sebagian orang tua akan merasa panik dan khawatir. Banyak di antara mereka yang lalu bertanya-tanya apakah hal tersebut merupakan hal normal atau justru tanda bahaya bagi buah hati kesayangan. Lantas, apa jawabannya?

Apabila si kecil bisulan setelah menerima vaksin BCG—yang biasanya muncul dalam waktu 2-12 minggu pascaimunisasi, Anda tidak perlu khawatir. Pasalnya, reaksi tersebut merupakan hal wajar setelah pemberian imunisasi ini. Tanpa penanganan khusus pun, bisul bisa sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Jadi, benjolan bisul yang berisi nanah tersebut nantinya akan mengering dan hanya meninggalkan bekas luka atau jaringan parut berdiameter sekitar 2-6 milimeter di area kulit yang telah disuntik.

Rekomendasi Klinik dengan Layanan Imunisasi Berkualitas

Setiap orang tua tentunya menginginkan semua hal terbaik untuk buah hati kesayangan, termasuk dalam persoalan imunisasi. Nah, bagi Anda yang mencari rekomendasi klinik kesehatan berkualitas dengan layanan imunisasi terbaik, rekomendasi yang dapat Anda pertimbangkan adalah Klinik Mutiara Cikutra (KMC).

KMC adalah klinik kesehatan yang telah terdaftar resmi dan memiliki izin Kementerian Kesehatan. Jadi, soal kualitas, tak perlu diragukan lagi. Pasalnya, Klinik Mutiara Cikutra berdedikasi memberikan pelayanan terbaik yang seramah keluarga dan tempat yang nyaman senyaman rumah sendiri.

Menyediakan berbagai layanan kesehatan, salah satunya ada layanan imunisasi. Mulai dari imunisasi wajib program pemerintah hingga imunisasi tambahan, semuanya tersedia lengkap di KMC.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, jadwalkan kunjungan Anda ke KMC bersama si kecil sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Gigi Berlubang, Sebaiknya Ditambal atau Dicabut? Yuk, Konsultasikan ke Poli Gigi

Gigi Berlubang, Sebaiknya Ditambal atau Dicabut? Yuk, Konsultasikan ke Poli Gigi

Gigi Berlubang, Sebaiknya Ditambal atau Dicabut? Yuk, Konsultasikan ke Poli Gigi

 

Ada cukup banyak permasalahan yang dapat terjadi pada gigi, salah satunya yaitu gigi berlubang. Ini merupakan keluhan umum yang sering dialami oleh orang-orang, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Sesuai namanya, gigi berlubang adalah kondisi ketika gigi mengalami kerusakan sehingga membentuk lubang dengan ukuran tertentu. Pertanyaannya, apakah gigi berlubang hanya perlu ditambal atau justru harus dicabut?

Berikut penjelasan lengkapnya untuk Anda, lengkap rekomendasi poli gigi berkualitas untuk konsultasi dan penanganan gigi berlubang yang tepat. Yuk, simak!

dokter gigi anak
Sumber : Envanto

Gigi Berlubang, Penyebab dan Pencegahannya

Gigi berlubang merupakan kerusakan pada gigi akibat terkikisnya lapisan terluar gigi (enamel). Umumnya, penyebab kondisi ini adalah adanya penumpukan bakteri di dalam mulut. Hal ini biasanya terjadi karena kebersihan gigi dan mulut yang kurang terjaga, atau bisa juga lantaran terlalu sering mengonsumsi makanan/minuman manis.

Di awal, kemungkinan gigi berlubang akan sulit terdeteksi. Pasalnya, pada tahap awal memang cenderung tidak menimbulkan rasa nyeri. Namun, seiring berjalannya waktu dan makin parahnya kondisi lubang yang ada, gigi akan mulai mengalami kerusakan signifikan yang bisa berujung pada infeksi hingga gigi tanggal.

Untuk mencegah gigi berlubang terjadi, berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan:

  • Mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis.
  • Mengurangi konsumsi makanan/minuman asam dan bertepung.
  • Rutin memeriksakan gigi ke dokter gigi, setidaknya enam bulan sekali atau dua kali setahun.
  • Mengonsumsi makanan bergizi yang baik untuk gigi. Misalnya makanan berserat seperti apel dan bayam atau makanan dengan kandungan kalsium tinggi seperti susu dan ikan laut.
  • Menjaga kebersihan dan gigi dan mulut. Contohnya rutin menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride, membersihkan celah-celah gigi dengan benang gigi, dan jika perlu gunakan obat kumur antiseptik.

Gigi Berlubang Sebaiknya Ditambal atau Dicabut?

Ketika seseorang mengalami masalah gigi berlubang, tidak sedikit di antaranya yang merasa bingung apakah gigi tersebut sebaiknya ditambal atau justru harus dicabut. Untuk menjawab hal ini, Anda bisa mengamati dan menyesuaikan kondisi gigi terlebih dahulu.

Hal ini karena ada gigi berlubang yang memang masih bisa diselamatkan dengan penambalan. Namun, ada pula yang harus segera dicabut agar tidak menimbulkan masalah yang tidak diinginkan.

Kondisi Gigi Berlubang yang Masih Bisa Ditambal

  • Gigi berlubang yang baru mencapai dentin dan belum menyebabkan infeksi pada pulpa gigi.
  • Gigi berlubang hanya sebatas email alias terjadi di lapisan terluar gigi—bisa ditangani dengan tambalan permanen.
  • Gigi berlubang dengan akar gigi yang masih utuh dan tidak mengalami kerusakan apa pun. Penambalan pada gigi seperti ini tak hanya memperkuat gigi, tetapi juga dapat membantu mencegah kerusakan lebih lanjut.
  • Gigi tidak mengalami kerusakan struktural yang serius. Dalam artian, sebagian besar struktur gigi masih utuh dan kuat. Gigi dengan kondisi ini masih bisa ditambal dengan tujuan memperkuat gigi agar tidak rapuh dan mudah patah.

Kondisi Gigi Berlubang yang Harus Dicabut

  • Gigi berlubang pada gigi yang bertumpuk.
  • Gigi berlubang yang berada di dekat jaringan abnormal
  • Gigi berlubang pada geraham bungsu yang tumbuh miring.
  • Gigi berlubang yang hanya menyisakan akar. Gigi dengan kondisi ini sebaiknya segera dicabut agar tidak menimbulkan infeksi.
  • Gigi berlubang yang sudah sangat rapuh karena memiliki banyak kerusakan. Pencabutan mungkin bisa menjadi opsi terbaik guna menghindari sakit gigi berkepanjangan.
  • Gigi berlubang yang memicu terjadinya permasalahan gigi yang lain. Contohnya berpotensi mengganggu posisi gigi lainnya atau dapat menyebabkan penyebaran infeksi.
  • Gigi berlubang parah yang lubangnya besar dan dalam. Penambalan gigi dengan kondisi ini umumnya hanya akan sia-sia sehingga sebaiknya gigi memang dicabut. Pasalnya, infeksi kemungkinan telah menyebar hingga ke bagian bawah gigi.

Konsultasi Berkualitas di Poli Gigi

dokter gigi anak
Sumber : Envanto

Untuk mendapatkan diagnosis serta penanganan yang tepat terkait permasalahan gigi berlubang yang Anda alami, sebaiknya Anda mengunjungi poli gigi dan berkonsultasi dengan dokter gigi berpengalaman.

Adapun salah satu fasilitas kesehatan resmi yang menyediakan layanan poli gigi berkualitas adalah KMC alias Klinik Mutiara Cikutra. Klinik ini didukung oleh tenaga medis profesional, tempat yang nyaman, serta pelayanan yang ramah.

Jadi, jika Anda mengutamakan pemeriksaan yang aman dan nyaman, maka poli gigi di Klinik Mutiara Cikutra-lah solusinya. Yuk, tunggu apa lagi? Segera jadwalkan kunjungan Anda bersama keluarga tercinta ke KMC!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Umum Terjadi di Usia Sekolah, Ini Masalah Kesehatan Si Kecil yang Perlu Diwaspadai Orang Tua, Kapan Harus ke Poli Anak?

Umum Terjadi di Usia Sekolah, Ini Masalah Kesehatan Si Kecil yang Perlu Diwaspadai Orang Tua, Kapan Harus ke Poli Anak?

Umum Terjadi di Usia Sekolah, Ini Masalah Kesehatan Si Kecil yang Perlu Diwaspadai Orang Tua, Kapan Harus ke Poli Anak?

 

Berbagai masalah kesehatan dapat dialami oleh siapa saja, termasuk anak usia sekolah. Bahkan mereka memang cenderung lebih rentan sakit dibandingkan dengan orang dewasa.

Oleh karena itu, sebagai orang tua bijak, penting bagi Anda untuk mengenali tanda atau gejala gangguan kesehatan tertentu pada anak. Termasuk mengetahui kapan harus membawa mereka ke poli anak untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Yuk, simak informasi berikut!

imunisasi anak
sumber : envanto

Alasan Anak Usia Sekolah Rentan Sakit

Ada cukup banyak alasan mengapa anak usia sekolah (6-12 tahun) lebih rentan terhadap penyakit. Berikut beberapa di antaranya:

  • Sistem imun belum sepenuhnya matang. Sebab, pada usia sekolah, sistem kekebalan anak memang masih dalam tahap perkembangan. Alhasil, tubuh mereka lebih rentan terpapar virus dan berbagai penyakit.
  • Kurangnya kesadaran akan kebersihan. Meski tampak sepele, nyatanya masih cukup banyak anak yang mengabaikan hal ini. Contohnya tidak mencuci tangan sebelum makan, jajan sembarangan, atau berbagi makanan dan minuman dengan teman yang berpotensi menularkan penyakit.
  • Pola makan tidak seimbang. Anak-anak cenderung belum terlalu memedulikan gizi, sehingga kebanyakan masih sering jajan sembarangan di sekolah hanya karena berdasarkan selera.
  • Interaksi sosial yang tinggi. Saat usia sekolah, anak-anak cenderung aktif bergaul dengan teman sebaya, sehingga rentan terhadap penularan virus dan penyakit.
  • Stres atau tekanan emosional. Ada kalanya anak-anak juga bisa merasa stres karena hal tertentu, contohnya seperti tekanan akademik, konflik dengan teman, dan lain-lain.

Masalah Kesehatan yang Umum Terjadi di Usia Sekolah

konsultasi dokter anak
Sumber : Envato

Berikut beberapa masalah kesehatan atau penyakit yang umum menyerang anak di usia sekolah:

Masalah Kesehatan Fisik

  • Infeksi Saluran Pernapasan.

Contohnya flu, radang tenggorokan, batuk, dan lain-lain. Berbagai masalah kesehatan ini rentan tertular di sekolah.

  • Infeksi Saluran Pencernaan

Contohnya diare atau muntaber (muntah dan berak). Masalah kesehatan ini biasanya terjadi ketika anak jajan sembarangan atau mengonsumi makanan/minuman yang tidak sehat dan higienis.

  • Masalah Gigi dan Mulut.

Di usia sekolah, khususnya sekolah dasar, biasanya anak mulai mengalami berbagai masalah terkait gigi dan mulut. Contohnya seperti gigi berlubang, sakit gigi, radang gusi, dan lain-lain.

  • Masalah Mata

Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, tak dimungkiri bahwa banyak anak usia sekolah yang terlalu terpapar gadget. Akibatnya, kebiasaan ini dapat menimbulkan masalah mata seperti miopi (rabun jauh).

  • Cacar Air

Ini merupakan penyakit yang umum menyerang anak-anak dan penularannya cukup sering terjadi di sekolah. Sebab, jika satu orang terkena cacar, maka biasanya akan menular dengan cepat ke teman-teman sekitarnya. Baik melalui udara, kontak langsung, dan lain-lain.

  • Cacingan

Ini juga menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering dialami oleh anak usia sekolah, terutama bagi anak di bawah 10 tahun. Penyakit ini bermula dari telur cacing yang masuk ke dalam organ tubuh, baik melalui makanan maupun kontak dengan benda yang terkontaminasi.

  • Obesitas

Masalah kesehatan yang satu ini juga cukup sering dialami oleh anak-anak usia sekolah. Penyebabnya bisa karena pola makan yang salah, gaya hidup yang tidak sehat (jarang berolahraga atau beraktivitas aktif), penyakit tertentu, atau memang faktor keturunan.

  • Campak

Sama halnya dengan cacar air, campak juga termasuk jenis penyakit yang mudah menular di sekolah melalui tetesan cairan dari orang yang terinfeksi.

Masalah Kesehatan Mental

Selain berbagai masalah kesehatan fisik, sejatinya anak juga dapat mengalami masalah yang terkait dengan mental mereka. Meski mungkin tidak seumum masalah kesehatan fisik, tak dimungkiri kesehatan mental seperti stres dan gangguan kecemasan turut perlu diwaspadai oleh orang tua.

Kapan Harus ke Poli Anak?

Ketika buah hati kesayangan menunjukkan gejala-gejala masalah kesehatan tertentu, sebaiknya Anda segera memeriksakan mereka ke poli anak. Dengan demikian, anak bisa mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat oleh dokter profesional.

Adapun salah satu rekomendasi fasilitas kesehatan terbaik dengan layanan poli anak berkualitas adalah KMC alias Klinik Mutiara Cikutra. Di sini tersedia berbagai layanan kesehatan, baik untuk anak maupun orang dewasa.

Didukung oleh tenaga medis ahli nan berpengalaman di bidangnya, Klinik Mutiara Cikutra memastikan anak mendapat pengalaman pemeriksaan dan penanganan terbaik.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, segera jadwalkan kunjungan Anda bersama buah hati kesayangan ke poli anak KMC sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Imunisasi Polio: Hal-Hal yang Perlu Diketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Melakukannya

Imunisasi Polio: Hal-Hal yang Perlu Diketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Melakukannya

Imunisasi Polio: Hal-Hal yang Perlu Diketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Melakukannya

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Pemberian imunisasi secara umum merupakan salah satu upaya untuk melindungi tubuh dari berbagai jenis penyakit, tak terkecuali imunisasi polio. Polio (poliomyelitis) sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio.

Penyakit polio menyerang sistem saraf pusat (otak serta sumsum tulang belakang) dan dapat merusak sistem saraf motorik. Akibatnya, seseorang yang terjangkit penyakit polio akan mengalami kelumpuhan anggota gerak, bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Nah, terkait imunisasi polio ini, berikut hal-hal yang perlu Anda ketahui. Di sini, Anda juga akan tahu rekomendasi dokter anak berkualitas untuk melakukannya. Yuk, simak!

Mengenal Imunisasi Polio dan Jenisnya

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Sesuai namanya, imunisasi polio adalah imunisasi yang menggunakan vaksin polio. Ini termasuk salah satu imunisasi dasar yang berlaku di Indonesia. Tujuannya adalah memperkuat sistem imun tubuh seseorang agar kebal terhadap virus tersebut.

Imunisasi polio menjadi imunisasi wajib bagi anak Indonesia. Tindakan ini merupakan langkah preventif untuk melindungi anak sejak dini dari serangan virus polio yang berbahaya.

Terlebih lagi, kebanyakan anak-anak berusia di bawah 5 tahun sangat rentan tertular penyakit polio. Biasanya, virusnya menular melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Selain itu, virus polio juga dapat menyebar melalui makanan atau air yang telah terkontaminasi feses penderita.

Adapun untuk jenisnya, imunisasi polio terbagi atas dua: Oral Polio Vaccine (OPV) dan Inactivated Polio Vaccine (IPV). OPV juga dikenal sebagai “vaksin polio suntik”, sedangkan IPV sebutan lainnya adalah “vaksin polio oral”.

Inactivated Polio Vaccine (IPV)

Ini adalah pemberian vaksin polio melalui suntikan. Jadi, virus polio yang telah mati/tidak aktif diinjeksi ke lengan atas atau paha anak. Namun, vaksin ini hanya membentuk kekebalan dalam darah, tetapi tidak pada usus.

Alhasil, masih ada kemungkinan anak tetap dapat terserang penyakit polio lantaran virus yang bisa berkembang bebas di usus. Oleh karena itu, pemberian IPV perlu didampingi dengan OPV.

Oral Polio Vaccine (OPV)

Ini adalah pemberian vaksin melalui oral. Dengan kata lain, vaksin diberikan dengan cara diteteskan langsung ke mulut anak. Berbeda dengan IPV yang menggunakan virus polio yang telah dinonaktifkan, OPV menggunakan virus polio yang masih aktif tetapi sudah dilemahkan. Jadi, imunisasi ini tetap aman dan tidak berbahaya.

Tujuan pemberian OPV untuk membentuk zat kekebalan tubuh (antibodi) di dalam usus, tak hanya darah. Jadi, dengan IPV dan OPV, virus polio yang berkembang di usus dan darah bisa terbunuh sekaligus. Hasilnya? Anak pun akan terhindar dari penyakit polio.

Kapan Anak Harus Diberikan Imunisasi Polio?

Berdasarkan jadwal imunisasi polio dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin polio umumnya diberikan saat anak masih bayi sebanyak 4 kali. Waktunya adalah ketika bayi baru lahir serta ketika mereka menginjak usia 2, 3, dan 4 bulan.

Untuk bayi yang baru lahir, dokter menganjurkan imunisasi polio pertama berupa OPV. Sementara itu, IPV bisa diberikan pada imunisasi selanjutnya, meski bayi tetap bisa diberikan OPV kembali.

Sebagai tambahan, anak juga bisa mendapat vaksin booster saat mereka memasuki usia 18-24 bulan dan 5 tahun. Hal ini bertujuan untuk menjaga sekaligus memperkuat kekebalan tubuh terhadap virus polio yang kemungkinan sudah mulai menurun.

Hal-Hal yang Perlu Anda  Ketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Imunisasi Polio

Meski sangat bermanfaat, Anda perlu tahu bahwa imunisasi polio tetap memiliki risiko efek samping. Beberapa di antaranya, yaitu:

  • Demam ringan.
  • Rasa nyeri di bekas suntikan.
  • Pengerasan kulit di area suntikan.

Selain itu, Anda juga harus memperhatikan reaksi alergi anak. Jika sebelumnya anak pernah mengalami alergi berat terhadap IPV, maka sebaiknya mereka tidak menerimanya kembali pada imunisasi selanjutnya .

Nah, bagi Anda yang ingin memberikan pengalaman imunisasi terbaik untuk buah hati kesayangan, Klinik Mutiara Cikutra bisa menjadi pilihan utama Anda. Sebab, klinik ini menyediakan berbagai layanan kesehatan, termasuk layanan dokter anak berkualitas.

Imunisasi lengkap dengan dokter anak di KMC dipastikan aman dan nyaman bagi si kecil. Pasalnya, Klinik Mutiara Cikutra berdedikasi memberikan pelayanan terbaik yang seramah keluarga dan tempat yang senyaman rumah sendiri.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, jadwalkan kunjungan Anda bersama si kecil ke dokter anak KMC sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Lindungi Anak Sejak Dini, Ketahui Jenis Imunisasi Wajib Ini

Lindungi Anak Sejak Dini, Ketahui Jenis Imunisasi Wajib Ini

Lindungi Anak Sejak Dini, Ketahui Jenis Imunisasi Wajib Ini

 

Langkah terbaik dari orang tua untuk melindungi anak dari berbagai macam penyakit berbahaya adalah dengan memberikan imunisasi wajib.

Oleh karena itu, mengetahui serta memahami jenis-jenisnya sangat dianjurkan agar Anda bisa memberikan perlindungan maksimal untuk buah hati kesayangan sejak dini, baik dari penyakit polio, campak, tetanus, maupun gangguan kesehatan serius lainnya.

Jenis-Jenis Imunisasi Wajib untuk Anak

imunisasi anak
Sumber Envanto

Imunisasi adalah upaya untuk memperkuat atau meningkatkan sistem imun/kekebalan melalui vaksin agar tubuh dapat menangkal berbagai penyakit berbahaya. Kalaupun suatu hari terjangkit penyakit tertentu, setidaknya efeknya tidak akan parah alias kemungkinan besar hanya berupa sakit ringan.

Lantas, apa itu imunisasi wajib? Sesuai namanya, ini adalah jenis imunisasi yang bersifat wajib alias harus diberikan kepada anak sebelum mereka genap berusia satu tahun.

Adapun istilah ini sebenarnya merujuk pada program pemerintah, yaitu program pemberian beberapa jenis vaksin dengan dosis lengkap secara gratis untuk anak-anak. Di Indonesia sendiri, ada 5 jenis imunisasi yang wajib diperoleh anak—yang pemberiannya perlu mengikuti jadwal IDAI agar hasilnya efektif.

Apa saja kira-kira? Berikut detailnya:

Imunisasi Polio

Ini adalah imunisasi yang berfungsi untuk melindungi anak dari risiko tertular infeksi virus polio. Seperti diketahui, polio merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh adanya infeksi virus pada sistem saraf otak dan sistem saraf sumsum tulang belakang.

Penyakit ini terbilang serius, karena pada kasus yang parah dapat menyebabkan gangguan-gangguan lain. Mulai dari sesak napas, meningitis, kelumpuhan, bahkan hingga kematian.

Nah, untuk imunisasi polio, anak akan diberikan vaksin dalam bentuk tetes atau oral sebanyak empat kali, yaitu pada saat bayi baru lahir serta saat bayi berusia 2, 3, dan 4 bulan. Sementara itu, vaksin polio suntik atau IPV diberikan satu kali pada usia 4 bulan untuk menyempurnakan kekebalan.

Imunisasi BCG

Ini adalah jenis imunisasi yang bertujuan untuk melindungi tubuh anak dari kuman penyebab TBC alias penyakit tuberkulosis, dan bisa diberikan segera setelah bayi lahir dengan metode suntik di lengan kanan atas.

Imunisasi Hepatitis B

Seperti namanya, ini merupakan jenis imunisasi untuk melindungi tubuh dari penyakit hepatitis B, yaitu infeksi hati karena serangan virus hepatitis B (HBV) yang dapat berujung pada kerusakan hati, kanker hati, gagal hati, dan lain-lain.

Imunisasi Hepatitis B ini diberikan sebanyak lima kali, yaitu sesaat setelah bayi lahir, lalu dosis selanjutnya berturut-turut pada usia 2, 3, 4, dan 18 bulan melalui suntikan di bagian otot paha.

Imunisasi DPT-HB-HiB

Ini adalah jenis imunisasi yang kegunaannya cukup banyak karena dapat melindungi tubuh dan mencegah anak terjangkit enam penyakit sekaligus. Adapun keenam penyakit tersebut meliputi tetanus, difteri, pneumonia, meningitis, hepatitis B, dan batuk rejan.

Metode pemberian imunisasi ini juga melalui suntikan vaksin di otot paha anak, yang diberikan secara berturut-turut pada usia 2, 3, 4, dan 18 bulan.

Imunisasi Campak Rubella

Ini merupakan imunisasi wajib yang diberikan kepada anak sebagai upaya pencegahan penyakit campak dan rubella. Kuantitas pemberiannya adalah tiga kali melalui suntikan di lengan atas pada saat anak menginjak usia 9 bulan, 18 bulan, dan 5 tahun.

Rekomendasi Tempat Imunisasi Berkualitas untuk Anak

imunisasi anak

Sebenarnya, imunisasi dapat dilakukan di berbagai fasilitas layanan kesehatan, seperti rumah sakit, klinik, puskesmas, hingga posyandu. Namun, tak dimungkiri bahwa vaksin yang tersedia di rumah sakit maupun klinik umumnya lebih lengkap dari imunisasi dasar yang biasanya ada di puskesmas atau posyandu.

Anda juga bisa mempertimbangkan untuk melakukannya di klinik kesehatan berkualitas seperti Klinik Mutiara Cikutra (KMC).

Klinik Mutiara Cikutra merupakan klinik kesehatan yang menyediakan berbagai layanan kesehatan, termasuk salah satunya imunisasi. Di klinik ini tersedia pilihan imunisasi yang super lengkap, mulai dari imunisasi wajib program pemerintah hingga imunisasi tambahan tertentu.

Didukung oleh tenaga medis profesional, pelayanan seramah keluarga, dan tempat yang senyaman rumah sendiri, Klinik Mutiara Cikutra dipastikan bisa menjadi solusi tepat untuk imunisasi berkualitas si kecil.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, jadwalkan kunjungan Anda ke KMC sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

https://www.alodokter.com/daftar-imunisasi-wajib-yang-harus-didapat-si-kecil

Anak Bisulan Setelah Imunisasi, Bahayakah? Ini Penjelasannya, Lengkap Rekomendasi Imunisasi Bandung

Anak Bisulan Setelah Imunisasi, Bahayakah? Ini Penjelasannya, Lengkap Rekomendasi Imunisasi Bandung

Anak Bisulan Setelah Imunisasi, Bahayakah? Ini Penjelasannya, Lengkap Rekomendasi Imunisasi Bandung

imunisasi Anak
Sumber : Envanto

Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk tumbuh kembang buah hati, termasuk dalam pemberian imunisasi. Sayangnya, terlepas dari berbagai manfaatnya, ada kalanya Anda juga mungkin merasa khawatir akan timbulnya efek samping atau reaksi tertentu setelah melakukan prosedur ini.

Salah satu contohnya, yaitu munculnya bisul pada anak setelah melakukan imunisasi. Pertanyaannya, apakah hal tersebut normal? Atau justru berbahaya bagi si kecil?

Jika saat ini Anda sedang mengalami permasalahan serupa, jangan panik dulu. Sebab, bisa jadi itu memang termasuk salah satu reaksi pascaimunisasi. Untuk lebih jelasnya, berikut informasinya untuk Anda, lengkap rekomendasi layanan imunisasi Bandung terbaik bagi Anda yang berdomisili di Bandung. Yuk, simak!

Penyebab Anak Bisulan Setelah Imunisasi

Munculnya bisul atau anak menjadi bisulan setelah imunisasi biasanya disebabkan oleh vaksin BCG, yang merupakan salah satu imunisasi dasar untuk anak di Indonesia. Imunisasi sendiri adalah prosedur pemberian vaksin ke dalam tubuh guna meningkatkan sistem imun/kekebalan terhadap berbagai jenis penyakit.

Nah, kalaupun di kemudian hari anak yang telah diimunisasi ternyata terjangkit penyakit, maka setidaknya hanya akan berupa sakit ringan alias tidak parah seperti mereka yang tidak pernah menerima imunisasi sama sekali.

Seperti yang telah dipaparkan di atas, vaksin BCG merupakan salah satu jenis vaksin yang diterima anak ketika melakukan imunisasi dasar. Biasanya pemberiannya dilakukan ketika mereka berusia 2-3 bulan (masih bayi) di saat sistem imunnya mulai matang.

BCG merupakan singkatan dari Bacillus Calmette-Guerin, yaitu vaksin yang mengandung kuman Mycobacterium bovis yang sudah dilemahkan. Pemberiannya bertujuan untuk mencegah penyakit TB/TBC alias tuberkulosis serta radang otak akibat TB.

Namun, sama halnya dengan imunisasi-imunisasi lain pada umumnya, pemberian vaksin BCG sebagai salah satu imunisasi dasar juga dapat menimbulkan efek samping atau reaksi tertentu. Nah, salah satunya adalah bisulan di area suntikan yang biasanya berada di area lengan atas sebelah kanan.

Bekas suntikan tersebut dapat menimbulkan luka. Awalnya mungkin hanya akan terlihat seperti bintik merah biasa, tetapi lama-kelamaan dapat berkembang dengan isian nanah hingga akhirnya berubah menjadi benjolan yang disebut bisul. Lantas, apakah ini termasuk hal wajar atau justru berbahaya?

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Berbahayakah Bisul yang Muncul Setelah Imunisasi?

Bisul pada buah hati yang telah diimunisasi dengan vaksin BCG biasanya baru akan muncul saat 2-12 minggu pascaimunisasi. Setelah itu, bisul akan sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Luka yang tadinya berupa benjolan berisi cairan nanah, lambat laun akan mengering hingga akhirnya hanya akan meninggalkan bekas luka atau jaringan parut di area yang telah disuntik. Adapun jaringan parut tersebut biasanya terbentuk dalam kurun waktu tiga bulan dengan diameter sekitar 2-6 milimeter (mm).

Nah, sekarang pertanyaannya adalah, apakah bisul yang muncul setelah imunisasi dengan vaksin BCG ini tergolong berbahaya bagi tumbuh kembang buah hati kesayangan?

Jawabannya “tidak”. Bisul yang muncul akibat efek samping atau reaksi setelah pemberian vaksin BCG tidaklah berbahaya, sehingga Anda tidak perlu khawatir akan hal ini.

Dalam artian, Anda tidak perlu memeriksakan si kecil ke dokter, kecuali memang muncul gejala-gejala lain yang kemungkinan terjadi karena anak telah terpapar kuman TB sebelum vaksin dilakukan. Beberapa gejala tersebut, antara lain:

  • Anak demam tinggi.
  • Terbentuk keloid pada bekas luka.
  • Nanah pada bisul tergolong banyak (abses).

Rekomendasi Imunisasi Bandung Layanan Berkualitas

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Bagi Anda yang tinggal di area Bandung dan sekitarnya, jangan lupa untuk memberikan imunisasi Bandung terbaik untuk buah hati kesayangan. Jika Anda bingung mencari fasilitas kesehatan berkualitas dengan layanan imunisasi Bandung yang baik, Anda dapat mempertimbangkan KMC alias Klinik Mutiara Cikutra.

Klinik Mutiara Cikutra merupakan klinik kesehatan yang terdaftar secara resmi dan memiliki izin Kementerian Kesehatan, sehingga kualitas serta pelayanannya sudah pasti terjamin.

Di sini tersedia berbagai layanan kesehatan, baik untuk ibu, keluarga, bahkan untuk anak. Salah satunya ada layanan imunisasi lengkap yang didukung oleh dokter bersertifikasi yang ahli dan berpengalaman di bidangnya.

Jika tertarik, Anda bisa langsung mengunjungi Klinik Mutiara Cikutra Bandung yang berlokasi di Jl. Cikutra No. 115 Blok A-B, Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat.

Yuk, segera jadwalkan kunjungan Anda bersama buah hati ke KMC dan dapatkan pengalaman imunisasi Bandung terbaik untuk kesayangan!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Si Kecil Alergi? Kenali Tanda dan Jenisnya, Jangan Lupa Konsultasi ke Dokter Anak!

Si Kecil Alergi? Kenali Tanda dan Jenisnya, Jangan Lupa Konsultasi ke Dokter Anak!

Si Kecil Alergi? Kenali Tanda dan Jenisnya, Jangan Lupa Konsultasi ke Dokter Anak!

 

Pernahkah Anda melihat si kecil mengalami reaksi seperti bersin, batuk, gatal, dan lain-lain ketika berinteraksi dengan hal-hal tertentu? Jika iya, kemungkinan itu adalah reaksi alergi.

Yuk, simak artikel berikut untuk informasi lebih lanjut terkait alergi, termasuk definisi, tanda, jenis, solusi, hingga rekomendasi dokter anak terbaik untuk atasi alergi pada buah hati kesayangan.

Alergi pada Anak dan Tandanya

batuk pilek anak
Sumber : Envanto

Alergi adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap zat tertentu, yang sebenarnya bagi sebagian orang tidak berbahaya, tetapi justru dapat memicu sejumlah gejala/reaksi pada sebagian lainnya.

Alergi dapat menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Adapun tanda-tandanya cukup beragam. Beberapa di antaranya, yaitu:

  • Batuk.
  • Sering bersin.
  • Kulit terasa gatal.
  • Hidung tersumbat.
  • Pusing/sakit kepala.
  • Muncul ruam pada kulit.
  • Wajah dan bibir bengkak.
  • Alami gangguan pernapasan.
  • Kulit kemerahan atau terasa panas.
  • Muncul gangguan pencernaan, seperti mual atau diare.

Jenis-Jenis Alergi pada Anak dan Solusinya

Sumber : Envato

Sejatinya, alergi pada anak terbagi atas beberapa jenis. Apa saja? Berikut beberapa di antaranya:

Alergi Obat

Beberapa obat-obatan, termasuk vaksin, suplemen herbal, atau antibiotik bisa menimbulkan alergi pada anak seperti gatal dan kemerahan di kulit.

Alergi Debu

Jika Anda melihat buah hati kesayangan gatal-gatal, pilek, hingga mata berair ketika berada di tempat kotor, maka kemungkinan mereka memiliki alergi terhadap debu. Reaksi ini biasanya muncul saat debu beterbangan, menempel, dan terhirup oleh mereka.

Alergi Makanan

Beberapa makanan tertentu, seperti telur, kacang-kacangan, gandum, kerang, dan lain-lain juga bisa menimbulkan alergi pada anak. Adapun gejalanya, biasanya meliputi gatal, perasaan lelah, gelisah, hingga sakit kepala.

Alergi Susu Sapi

Selain makanan-makanan tertentu, ternyata minuman seperti susu sapi juga dapat memicu alergi, bahkan menjadi salah satu yang paling umum dialami anak-anak. Biasanya reaksi muncul tidak lama setelah mereka mengonsumsi susu sapi.

Alergi Bulu Hewan

Apabila Anda mendapati anak sering bersin dan mengi ketika berinteraksi dengan hewan, misalnya hewan peliharaan, maka kemungkinan mereka sedang mengalami reaksi alergi. Alergi ini umumnya berasal dari bulu hewan, tetapi juga bisa dari air liur, urin, serta sel kulit mati hewan.

Alergi pada Hidung

Selanjutnya, jenis alergi pada hidung atau saluran pernapasan, biasanya dialami oleh anak dengan rentang usia 2 hingga 3 tahun. Beberapa gejalanya yang dapat berlangsung selama lebih dari beberapa minggu, yaitu mata berair yang tampak merah, sering batuk, hidung tersumbat—gatal dan juga berair.

Alergi Serbuk Sari (Pollens)

Sesuai namanya, ini merupakan jenis alergi yang dipicu oleh serbuk sari, yaitu bubuk halus yang dihasilkan oleh bagian jantan bunga (benang sari). Fungsinya agar tanaman dapat bereproduksi ketika mencapai bagian betina bunga (putik sari).

Nah, lantaran sangat ringan, maka serbuk ini mudah terbawa angin dan menyebar di udara, sehingga memicu reaksi alergi pada sebagian orang yang tak sengaja menghirupnya.

Alergi Kulit (Dermatitis Atopik)

Alergi ini juga sering disebut eksim (eczema), yang penyebabnya adalah perbedaan dalam cara sistem kekebalan tubuh anak bereaksi terhadap berbagai hal. Adapun gejala-gejalanya, antara lain kulit gatal, kemerahan, bersisik, dan bahkan dalam kondisi tertentu dapat berupa benjolan yang mengeluarkan cairan lalu mengeras.

Lantas, bagaimana solusi mengatasi alergi-alergi di atas? Sebagai orang tua bijak, Anda perlu mengawasi buah hati agar mereka dapat terhindar dari hal-hal yang dapat memicu reaksi alergi tertentu, misalnya tidak memakan/meminum pantangannya, tidak berinteraksi langsung dengan hewan penyebab alergi, dan lain sejenisnya.

Namun, untuk penanganan lebih tepat, sangat disarankan Anda mengunjungi dan berkonsultasi dengan dokter anak secara langsung. 

Rekomendasi Dokter Anak untuk Atasi Alergi

vaksin

Salah satu fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan dokter anak berkualitas adalah KMC alias Klinik Mutiara Cikutra. Ini merupakan klinik kesehatan yang telah terdaftar dan memiliki izin resmi dari Kementerian Kesehatan.

Di sini tersedia berbagai layanan, salah satunya layanan kesehatan anak yang ditunjang oleh poli anak yang nyaman dan penanganan oleh dokter anak bersertifikat nan berpengalaman di bidangnya.

Klinik Mutiara Cikutra berdedikasi memberikan pelayanan terbaik yang seramah keluarga dan tempat yang senyaman rumah sendiri. Jadi, Anda tidak perlu khawatir soal kualitasnya.

Tunggu apa lagi? Yuk, jadwalkan kunjungan Anda bersama buah hati kesayangan ke KMC untuk mendapat penanganan alergi terbaik oleh dokter anak berkualitas!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Vaksin Internasional untuk Umrah dan Liburan: Hal yang Perlu Diketahui Serta Rekomendasi Kliniknya

Vaksin Internasional untuk Umrah dan Liburan: Hal yang Perlu Diketahui Serta Rekomendasi Kliniknya

Vaksin Internasional untuk Umrah dan Liburan: Hal yang Perlu Diketahui Serta Rekomendasi Kliniknya

 

Sebagian besar dari Anda pastinya sudah tahu bahwa bepergian ke luar negeri, seperti umrah, haji, ataupun sekadar liburan, membutuhkan persiapan tertentu. Salah satunya, yaitu melakukan vaksin internasional.

Adapun untuk jenisnya bisa berbeda-beda, tergantung apa negara tujuan Anda dan bagaimana persyaratan yang berlaku di negara tersebut. Hal ini membuat vaksinasi internasional menjadi krusial. Pasalnya, vaksinasi tersebut dapat memengaruhi kenyamanan serta kelancaran perjalanan Anda, khususnya ketika pengurusan visa ataupun proses imigrasi.

vaksin internasional
Sumber : Envanto

Apa Itu Vaksin Internasional?

Sesuai namanya, vaksin internasional adalah jenis vaksin yang bersifat internasional. Dalam artian, ini merupakan vaksinasi yang berlaku di kancah internasional, diberikan untuk seseorang yang hendak bepergian ke luar negeri. Terlebih lagi, tujuannya adalah negara-negara yang memiliki risiko tinggi akan penularan penyakit tertentu.

Biasanya, vaksin internasional ini direkomendasikan atau bahkan diwajibkan bagi orang-orang yang hendak melakukan perjalanan umrah, haji, serta liburan. Untuk haji dan umrah ke Arab Saudi, misalnya, salah satu syarat utamanya adalah jemaah harus melakukan vaksin meningitis.

Contoh lainnya, ada vaksin demam kuning (yellow fever), yang biasanya dianjurkan ketika Anda ingin berlibur ke tempat tertentu seperti sejumlah daerah di Afrika dan Amerika Selatan.

Vaksin Internasional yang Penting untuk Perjalanan Umrah dan Liburan

Berikut beberapa jenis vaksin internasional yang penting Anda ketahui jika hendak melakukan perjalanan umrah, haji, ataupun liburan:

Vaksin Influenza

Vaksin influenza adalah vaksin yang dilakukan untuk melindungi diri dari penyakit flu yang pada dasarnya memang sangat mudah menyebar. Pasalnya, meskipun tampak sepele dan termasuk penyakit ringan, nyatanya flu tetap dapat menimbulkan masalah. Bahkan dalam kasus tertentu, penyakit ini bisa berujung menjadi komplikasi serius.

Namun, terlepas dari pemberiannya yang biasanya untuk tujuan bepergian ke luar negeri, vaksin influenza sebenarnya memang dianjurkan dilakukan setiap setahun sekali. Utamanya untuk orang-orang yang berisiko, seperti lansia di atas 65 tahun, anak di bawah 5 tahun, dan wanita hamil.

Selain itu, vaksin influenza juga sebaiknya diberikan rutin untuk penderita penyakit-penyakit tertentu, seperti penyakit jantung, asma, paru kronis, HIV/AIDS, dan lain-lain.

Vaksin Meningitis

Vaksin meningitis adalah vaksin untuk mencegah meningitis. Penyakit ini merupakan peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri.

Ini merupakan vaksin yang menjadi syarat wajib bagi orang yang akan melakukan umrah, haji, maupun perjalanan ke negara tujuan tertentu yang tingkat penyebaran meningitis-nya tinggi.

Vaksin Poliomyelitis

Vaksin poliomyelitis atau yang familier disebut “vaksin polio” merupakan jenis vaksin yang berfungsi untuk mencegah terjadinya polio. Ini adalah penyakit saraf karena virus polio yang dapat membuat kelumpuhan secara permanen, kesulitan bernapas, bahkan kematian.

Biasanya, penularan penyakit polio terjadi melalui beberapa cara, yaitu:

  • Paparan percikan air liur, misalnya ketika pengidapnya batuk atau bersin.
  • Pengonsumsian makanan dan minuman yang telah terkontaminasi atau tercemar oleh virus polio.
  • Kontak langsung dengan feses atau cairan tubuh penderita polio. Biasanya juga dapat tertular dari interaksi kontak fisik dengan pengidap terinfeksi.

Lainnya

Selain ketiga vaksin di atas, masih ada beberapa jenis vaksin internasional lainnya yang biasanya dianjurkan untuk tujuan bepergian ke negara-negara tertentu, seperti:

  • Vaksin Typhoid
  • Vaksin Hepatitis A
  • Vaksin Hepatitis B
  • Vaksin Pneumonia
  • Vaksin Yellow Fever (Demam Kuning)
  • Vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella)

Rekomendasi Klinik dengan Layanan Vaksin Internasional Berkualitas

vaksin
Sumber : Envanto

Bagi Anda yang ingin melakukan vaksin internasional, seperti vaksin influenza, meningitis, dan poliomyelitis, Anda bisa melakukannya di klinik kesehatan berkualitas. Nah, salah satu rekomendasi terbaiknya yaitu Klinik Mutiara Cikutra (KMC).

Klinik Mutiara Cikutra merupakan klinik kesehatan yang telah terdaftar dan bersertifikat resmi dari Kementerian Kesehatan. Klinik ini didukung oleh fasilitas lengkap nan modern serta tenaga medis profesional ahli yang berpengalaman di bidangnya.

KMC berdedikasi memberikan pelayanan seramah keluarga dan tempat yang senyaman rumah sendiri. Sangat cocok bagi Anda yang mengutamakan kualitas sekaligus kenyamanan.

Di sini tersedia berbagai layanan kesehatan, termasuk salah satunya layanan vaksinasi. Jadi, jika Anda tertarik untuk melakukan vaksinasi internasional, Klinik Mutiara Cikutra siap membantu!

Yuk, kunjungi KMC sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Si Kecil Menolak Makan? Yuk, Konsultasi ke Dokter Anak untuk Atasi GTM

Si Kecil Menolak Makan? Yuk, Konsultasi ke Dokter Anak untuk Atasi GTM

Si Kecil Menolak Makan? Yuk, Konsultasi ke Dokter Anak untuk Atasi GTM

 

Melihat si kecil tumbuh dengan sehat tentunya menjadi salah satu kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Namun, ada kalanya masalah-masalah tertentu terjadi seiring perjalanan tumbuh kembang sang buah hati. Salah satunya yaitu ketika mereka menolak makan atau yang sering disebut “GTM”.

Hal ini kerap menimbulkan kekhawatiran serta kecemasan, sekaligus rasa bingung harus melakukan apa untuk mengatasinya. Oleh karena itu, sebagai orang tua bijak, jangan sampai Anda mengabaikan aksi GTM anak begitu saja.

Jika GTM telah berlangsung cukup lama, apalagi disertai gejala-gejala lain, maka sudah saatnya Anda membawa si kecil ke dokter anak. Dengan demikian, Anda bisa melakukan konsultasi hingga mendapat penanganan yang tepat.

GTM Anak
Sumber : Envanto

GTM

GTM merupakan singkatan dari “gerakan tutup mulut”. Sesuai namanya, ini adalah aksi “tutup mulut” yang dilakukan si kecil ketika diberi makanan. Dengan kata lain, GTM adalah istilah yang merujuk pada kondisi anak yang menolak makan dengan cara menutup mulut saat disuapi.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), GTM pada anak dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti sakit, bosan, tidak lapar, hingga trauma dengan makanan tertentu.

Umumnya, GTM kerap terjadi saat anak memasuki usia satu tahun dan biasanya kian memuncak ketika mereka menginjak usia dua tahun. Dalam fase ini, si kecil cenderung merasa mulai “besar” dan ingin menunjukkan sisi mandirinya dengan sedikit “pemberontakan”

Penyebab GTM

Namun, tahukah Anda? Nyatanya, ada sejumlah penyebab lain yang bisa menjadi kemungkinan munculnya aksi GTM pada anak. Apa saja? Berikut beberapa di antaranya:

  • Kelelahan.
  • Kesulitan mengunyah.
  • Porsi makanan terlalu banyak atau tidak sesuai dengan selera anak.
  • Anak picky eater dan lebih sering mengemil serta minum minuman manis.
  • Ada gangguan (distraksi) saat makan, misalnya sesuatu yang mengalihkan fokus anak dari makanan.
  • Nafsu makan berkurang karena terjadi perubahan laju pertumbuhan yang turut memengaruhi kebutuhan nutrisi.
  • Kebiasaan memberi junk food sehingga anak menjadi ketagihan dan ketika diberi makanan sehat, mereka jadi cenderung menolak.
  • Tumbuh gigi geraham yang membuat gusi bengkak dan sensitif. Hal ini membuat anak tidak nyaman hingga nafsu makannya pun menurun.
  • Pemberian susu yang tidak tepat sehingga kemungkinan pada jam-jam makan, anak seringnya masih merasa kenyang dan akhirnya terbiasa menolak makan.
  • Trauma pada makanan tertentu atau pada perlakuan orang tua. Misalnya, Anda tak sengaja membentak atau mengancam anak ketika memberi makan agar makanannya cepat habis.
  • Anak takut mencoba karena belum terbiasa dengan makanan baru. Biasanya, ini terjadi ketika ada pergantian menu. Jadi, selain bosan dengan makanan yang itu-itu saja, hal sebaliknya juga dapat membuat mereka GTM.
  • Terbiasa diiming-imingi sesuatu. Terkadang orang tua menarik perhatian anak untuk makan dengan menjanjikan hadiah. Mungkin satu-dua kali berhasil, tetapi lama-kelamaan jadi bumerang tersendiri karena ada kemungkinan membuat anak hanya mau makan jika dijanjikan imbalan.

Tips Mengatasi GTM pada Anak

Apabila si kecil mengalami GTM, jangan langsung panik. Berikut beberapa tips yang dapat Anda coba untuk mengatasi GTM pada anak:

  • Berikan makanan sesuai porsinya.
  • Ciptakan suasana menyenangkan saat anak makan.
  • Berikan susu secukupnya dan hanya pada waktu-waktu tertentu.
  • Minimalkan distraksi saat memberi anak makan agar fokus mereka tidak terpecah.
  • Coba buat variasi makanan untuk menghindari rasa bosan anak dengan menu yang itu-itu saja.
  • Atur jadwal makanan dengan tepat (kapan harus memberi makanan utama dan selingan seperti snack atau camilan lainnya).
  • Jangan memaksa anak makan. Usahakan agar mereka mau makan dengan sendirinya agar mereka dapat mengenal sinyal lapar dan sinyal kenyangnya sendiri.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter Anak?

Meski tampak sepele, nyatanya GTM bisa menjadi masalah serius jika terus berlanjut dan disertai dengan gejala-gejala lain. Contohnya, apabila GTM berlangsung sudah lebih dari dua minggu dan disertai gejala sakit, maka saatnya Anda berkonsultasi dengan dokter anak.

Nah, salah satu rekomendasi fasilitas kesehatan dengan layanan dokter anak berkualitas adalah Klinik Mutiara Cikutra. Sebuah klinik kesehatan yang menawarkan berbagai layanan, termasuk layanan kesehatan anak dengan dukungan dokter spesialis anak profesional yang ramah.

Selain itu, Klinik Mutiara Cikutra juga ditunjang oleh ruangan poli anak yang nyaman dengan fasilitas super lengkap nan modern. Jadi, soal kualitas, Anda tidak perlu khawatir!

Tunggu apa lagi? Yuk, segera jadwalkan kunjungan Anda!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/