Klinik Mutiara Cikutra

Imunisasi Polio: Hal-Hal yang Perlu Diketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Melakukannya

Imunisasi Polio: Hal-Hal yang Perlu Diketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Melakukannya

Imunisasi Polio: Hal-Hal yang Perlu Diketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Melakukannya

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Pemberian imunisasi secara umum merupakan salah satu upaya untuk melindungi tubuh dari berbagai jenis penyakit, tak terkecuali imunisasi polio. Polio (poliomyelitis) sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio.

Penyakit polio menyerang sistem saraf pusat (otak serta sumsum tulang belakang) dan dapat merusak sistem saraf motorik. Akibatnya, seseorang yang terjangkit penyakit polio akan mengalami kelumpuhan anggota gerak, bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Nah, terkait imunisasi polio ini, berikut hal-hal yang perlu Anda ketahui. Di sini, Anda juga akan tahu rekomendasi dokter anak berkualitas untuk melakukannya. Yuk, simak!

Mengenal Imunisasi Polio dan Jenisnya

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Sesuai namanya, imunisasi polio adalah imunisasi yang menggunakan vaksin polio. Ini termasuk salah satu imunisasi dasar yang berlaku di Indonesia. Tujuannya adalah memperkuat sistem imun tubuh seseorang agar kebal terhadap virus tersebut.

Imunisasi polio menjadi imunisasi wajib bagi anak Indonesia. Tindakan ini merupakan langkah preventif untuk melindungi anak sejak dini dari serangan virus polio yang berbahaya.

Terlebih lagi, kebanyakan anak-anak berusia di bawah 5 tahun sangat rentan tertular penyakit polio. Biasanya, virusnya menular melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Selain itu, virus polio juga dapat menyebar melalui makanan atau air yang telah terkontaminasi feses penderita.

Adapun untuk jenisnya, imunisasi polio terbagi atas dua: Oral Polio Vaccine (OPV) dan Inactivated Polio Vaccine (IPV). OPV juga dikenal sebagai “vaksin polio suntik”, sedangkan IPV sebutan lainnya adalah “vaksin polio oral”.

Inactivated Polio Vaccine (IPV)

Ini adalah pemberian vaksin polio melalui suntikan. Jadi, virus polio yang telah mati/tidak aktif diinjeksi ke lengan atas atau paha anak. Namun, vaksin ini hanya membentuk kekebalan dalam darah, tetapi tidak pada usus.

Alhasil, masih ada kemungkinan anak tetap dapat terserang penyakit polio lantaran virus yang bisa berkembang bebas di usus. Oleh karena itu, pemberian IPV perlu didampingi dengan OPV.

Oral Polio Vaccine (OPV)

Ini adalah pemberian vaksin melalui oral. Dengan kata lain, vaksin diberikan dengan cara diteteskan langsung ke mulut anak. Berbeda dengan IPV yang menggunakan virus polio yang telah dinonaktifkan, OPV menggunakan virus polio yang masih aktif tetapi sudah dilemahkan. Jadi, imunisasi ini tetap aman dan tidak berbahaya.

Tujuan pemberian OPV untuk membentuk zat kekebalan tubuh (antibodi) di dalam usus, tak hanya darah. Jadi, dengan IPV dan OPV, virus polio yang berkembang di usus dan darah bisa terbunuh sekaligus. Hasilnya? Anak pun akan terhindar dari penyakit polio.

Kapan Anak Harus Diberikan Imunisasi Polio?

Berdasarkan jadwal imunisasi polio dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin polio umumnya diberikan saat anak masih bayi sebanyak 4 kali. Waktunya adalah ketika bayi baru lahir serta ketika mereka menginjak usia 2, 3, dan 4 bulan.

Untuk bayi yang baru lahir, dokter menganjurkan imunisasi polio pertama berupa OPV. Sementara itu, IPV bisa diberikan pada imunisasi selanjutnya, meski bayi tetap bisa diberikan OPV kembali.

Sebagai tambahan, anak juga bisa mendapat vaksin booster saat mereka memasuki usia 18-24 bulan dan 5 tahun. Hal ini bertujuan untuk menjaga sekaligus memperkuat kekebalan tubuh terhadap virus polio yang kemungkinan sudah mulai menurun.

Hal-Hal yang Perlu Anda  Ketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Imunisasi Polio

Meski sangat bermanfaat, Anda perlu tahu bahwa imunisasi polio tetap memiliki risiko efek samping. Beberapa di antaranya, yaitu:

  • Demam ringan.
  • Rasa nyeri di bekas suntikan.
  • Pengerasan kulit di area suntikan.

Selain itu, Anda juga harus memperhatikan reaksi alergi anak. Jika sebelumnya anak pernah mengalami alergi berat terhadap IPV, maka sebaiknya mereka tidak menerimanya kembali pada imunisasi selanjutnya .

Nah, bagi Anda yang ingin memberikan pengalaman imunisasi terbaik untuk buah hati kesayangan, Klinik Mutiara Cikutra bisa menjadi pilihan utama Anda. Sebab, klinik ini menyediakan berbagai layanan kesehatan, termasuk layanan dokter anak berkualitas.

Imunisasi lengkap dengan dokter anak di KMC dipastikan aman dan nyaman bagi si kecil. Pasalnya, Klinik Mutiara Cikutra berdedikasi memberikan pelayanan terbaik yang seramah keluarga dan tempat yang senyaman rumah sendiri.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, jadwalkan kunjungan Anda bersama si kecil ke dokter anak KMC sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Lindungi Anak Sejak Dini, Ketahui Jenis Imunisasi Wajib Ini

Lindungi Anak Sejak Dini, Ketahui Jenis Imunisasi Wajib Ini

Lindungi Anak Sejak Dini, Ketahui Jenis Imunisasi Wajib Ini

 

Langkah terbaik dari orang tua untuk melindungi anak dari berbagai macam penyakit berbahaya adalah dengan memberikan imunisasi wajib.

Oleh karena itu, mengetahui serta memahami jenis-jenisnya sangat dianjurkan agar Anda bisa memberikan perlindungan maksimal untuk buah hati kesayangan sejak dini, baik dari penyakit polio, campak, tetanus, maupun gangguan kesehatan serius lainnya.

Jenis-Jenis Imunisasi Wajib untuk Anak

imunisasi anak
Sumber Envanto

Imunisasi adalah upaya untuk memperkuat atau meningkatkan sistem imun/kekebalan melalui vaksin agar tubuh dapat menangkal berbagai penyakit berbahaya. Kalaupun suatu hari terjangkit penyakit tertentu, setidaknya efeknya tidak akan parah alias kemungkinan besar hanya berupa sakit ringan.

Lantas, apa itu imunisasi wajib? Sesuai namanya, ini adalah jenis imunisasi yang bersifat wajib alias harus diberikan kepada anak sebelum mereka genap berusia satu tahun.

Adapun istilah ini sebenarnya merujuk pada program pemerintah, yaitu program pemberian beberapa jenis vaksin dengan dosis lengkap secara gratis untuk anak-anak. Di Indonesia sendiri, ada 5 jenis imunisasi yang wajib diperoleh anak—yang pemberiannya perlu mengikuti jadwal IDAI agar hasilnya efektif.

Apa saja kira-kira? Berikut detailnya:

Imunisasi Polio

Ini adalah imunisasi yang berfungsi untuk melindungi anak dari risiko tertular infeksi virus polio. Seperti diketahui, polio merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh adanya infeksi virus pada sistem saraf otak dan sistem saraf sumsum tulang belakang.

Penyakit ini terbilang serius, karena pada kasus yang parah dapat menyebabkan gangguan-gangguan lain. Mulai dari sesak napas, meningitis, kelumpuhan, bahkan hingga kematian.

Nah, untuk imunisasi polio, anak akan diberikan vaksin dalam bentuk tetes atau oral sebanyak empat kali, yaitu pada saat bayi baru lahir serta saat bayi berusia 2, 3, dan 4 bulan. Sementara itu, vaksin polio suntik atau IPV diberikan satu kali pada usia 4 bulan untuk menyempurnakan kekebalan.

Imunisasi BCG

Ini adalah jenis imunisasi yang bertujuan untuk melindungi tubuh anak dari kuman penyebab TBC alias penyakit tuberkulosis, dan bisa diberikan segera setelah bayi lahir dengan metode suntik di lengan kanan atas.

Imunisasi Hepatitis B

Seperti namanya, ini merupakan jenis imunisasi untuk melindungi tubuh dari penyakit hepatitis B, yaitu infeksi hati karena serangan virus hepatitis B (HBV) yang dapat berujung pada kerusakan hati, kanker hati, gagal hati, dan lain-lain.

Imunisasi Hepatitis B ini diberikan sebanyak lima kali, yaitu sesaat setelah bayi lahir, lalu dosis selanjutnya berturut-turut pada usia 2, 3, 4, dan 18 bulan melalui suntikan di bagian otot paha.

Imunisasi DPT-HB-HiB

Ini adalah jenis imunisasi yang kegunaannya cukup banyak karena dapat melindungi tubuh dan mencegah anak terjangkit enam penyakit sekaligus. Adapun keenam penyakit tersebut meliputi tetanus, difteri, pneumonia, meningitis, hepatitis B, dan batuk rejan.

Metode pemberian imunisasi ini juga melalui suntikan vaksin di otot paha anak, yang diberikan secara berturut-turut pada usia 2, 3, 4, dan 18 bulan.

Imunisasi Campak Rubella

Ini merupakan imunisasi wajib yang diberikan kepada anak sebagai upaya pencegahan penyakit campak dan rubella. Kuantitas pemberiannya adalah tiga kali melalui suntikan di lengan atas pada saat anak menginjak usia 9 bulan, 18 bulan, dan 5 tahun.

Rekomendasi Tempat Imunisasi Berkualitas untuk Anak

imunisasi anak

Sebenarnya, imunisasi dapat dilakukan di berbagai fasilitas layanan kesehatan, seperti rumah sakit, klinik, puskesmas, hingga posyandu. Namun, tak dimungkiri bahwa vaksin yang tersedia di rumah sakit maupun klinik umumnya lebih lengkap dari imunisasi dasar yang biasanya ada di puskesmas atau posyandu.

Anda juga bisa mempertimbangkan untuk melakukannya di klinik kesehatan berkualitas seperti Klinik Mutiara Cikutra (KMC).

Klinik Mutiara Cikutra merupakan klinik kesehatan yang menyediakan berbagai layanan kesehatan, termasuk salah satunya imunisasi. Di klinik ini tersedia pilihan imunisasi yang super lengkap, mulai dari imunisasi wajib program pemerintah hingga imunisasi tambahan tertentu.

Didukung oleh tenaga medis profesional, pelayanan seramah keluarga, dan tempat yang senyaman rumah sendiri, Klinik Mutiara Cikutra dipastikan bisa menjadi solusi tepat untuk imunisasi berkualitas si kecil.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, jadwalkan kunjungan Anda ke KMC sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

https://www.alodokter.com/daftar-imunisasi-wajib-yang-harus-didapat-si-kecil

Anak Bisulan Setelah Imunisasi, Bahayakah? Ini Penjelasannya, Lengkap Rekomendasi Imunisasi Bandung

Anak Bisulan Setelah Imunisasi, Bahayakah? Ini Penjelasannya, Lengkap Rekomendasi Imunisasi Bandung

Anak Bisulan Setelah Imunisasi, Bahayakah? Ini Penjelasannya, Lengkap Rekomendasi Imunisasi Bandung

imunisasi Anak
Sumber : Envanto

Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk tumbuh kembang buah hati, termasuk dalam pemberian imunisasi. Sayangnya, terlepas dari berbagai manfaatnya, ada kalanya Anda juga mungkin merasa khawatir akan timbulnya efek samping atau reaksi tertentu setelah melakukan prosedur ini.

Salah satu contohnya, yaitu munculnya bisul pada anak setelah melakukan imunisasi. Pertanyaannya, apakah hal tersebut normal? Atau justru berbahaya bagi si kecil?

Jika saat ini Anda sedang mengalami permasalahan serupa, jangan panik dulu. Sebab, bisa jadi itu memang termasuk salah satu reaksi pascaimunisasi. Untuk lebih jelasnya, berikut informasinya untuk Anda, lengkap rekomendasi layanan imunisasi Bandung terbaik bagi Anda yang berdomisili di Bandung. Yuk, simak!

Penyebab Anak Bisulan Setelah Imunisasi

Munculnya bisul atau anak menjadi bisulan setelah imunisasi biasanya disebabkan oleh vaksin BCG, yang merupakan salah satu imunisasi dasar untuk anak di Indonesia. Imunisasi sendiri adalah prosedur pemberian vaksin ke dalam tubuh guna meningkatkan sistem imun/kekebalan terhadap berbagai jenis penyakit.

Nah, kalaupun di kemudian hari anak yang telah diimunisasi ternyata terjangkit penyakit, maka setidaknya hanya akan berupa sakit ringan alias tidak parah seperti mereka yang tidak pernah menerima imunisasi sama sekali.

Seperti yang telah dipaparkan di atas, vaksin BCG merupakan salah satu jenis vaksin yang diterima anak ketika melakukan imunisasi dasar. Biasanya pemberiannya dilakukan ketika mereka berusia 2-3 bulan (masih bayi) di saat sistem imunnya mulai matang.

BCG merupakan singkatan dari Bacillus Calmette-Guerin, yaitu vaksin yang mengandung kuman Mycobacterium bovis yang sudah dilemahkan. Pemberiannya bertujuan untuk mencegah penyakit TB/TBC alias tuberkulosis serta radang otak akibat TB.

Namun, sama halnya dengan imunisasi-imunisasi lain pada umumnya, pemberian vaksin BCG sebagai salah satu imunisasi dasar juga dapat menimbulkan efek samping atau reaksi tertentu. Nah, salah satunya adalah bisulan di area suntikan yang biasanya berada di area lengan atas sebelah kanan.

Bekas suntikan tersebut dapat menimbulkan luka. Awalnya mungkin hanya akan terlihat seperti bintik merah biasa, tetapi lama-kelamaan dapat berkembang dengan isian nanah hingga akhirnya berubah menjadi benjolan yang disebut bisul. Lantas, apakah ini termasuk hal wajar atau justru berbahaya?

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Berbahayakah Bisul yang Muncul Setelah Imunisasi?

Bisul pada buah hati yang telah diimunisasi dengan vaksin BCG biasanya baru akan muncul saat 2-12 minggu pascaimunisasi. Setelah itu, bisul akan sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Luka yang tadinya berupa benjolan berisi cairan nanah, lambat laun akan mengering hingga akhirnya hanya akan meninggalkan bekas luka atau jaringan parut di area yang telah disuntik. Adapun jaringan parut tersebut biasanya terbentuk dalam kurun waktu tiga bulan dengan diameter sekitar 2-6 milimeter (mm).

Nah, sekarang pertanyaannya adalah, apakah bisul yang muncul setelah imunisasi dengan vaksin BCG ini tergolong berbahaya bagi tumbuh kembang buah hati kesayangan?

Jawabannya “tidak”. Bisul yang muncul akibat efek samping atau reaksi setelah pemberian vaksin BCG tidaklah berbahaya, sehingga Anda tidak perlu khawatir akan hal ini.

Dalam artian, Anda tidak perlu memeriksakan si kecil ke dokter, kecuali memang muncul gejala-gejala lain yang kemungkinan terjadi karena anak telah terpapar kuman TB sebelum vaksin dilakukan. Beberapa gejala tersebut, antara lain:

  • Anak demam tinggi.
  • Terbentuk keloid pada bekas luka.
  • Nanah pada bisul tergolong banyak (abses).

Rekomendasi Imunisasi Bandung Layanan Berkualitas

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Bagi Anda yang tinggal di area Bandung dan sekitarnya, jangan lupa untuk memberikan imunisasi Bandung terbaik untuk buah hati kesayangan. Jika Anda bingung mencari fasilitas kesehatan berkualitas dengan layanan imunisasi Bandung yang baik, Anda dapat mempertimbangkan KMC alias Klinik Mutiara Cikutra.

Klinik Mutiara Cikutra merupakan klinik kesehatan yang terdaftar secara resmi dan memiliki izin Kementerian Kesehatan, sehingga kualitas serta pelayanannya sudah pasti terjamin.

Di sini tersedia berbagai layanan kesehatan, baik untuk ibu, keluarga, bahkan untuk anak. Salah satunya ada layanan imunisasi lengkap yang didukung oleh dokter bersertifikasi yang ahli dan berpengalaman di bidangnya.

Jika tertarik, Anda bisa langsung mengunjungi Klinik Mutiara Cikutra Bandung yang berlokasi di Jl. Cikutra No. 115 Blok A-B, Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat.

Yuk, segera jadwalkan kunjungan Anda bersama buah hati ke KMC dan dapatkan pengalaman imunisasi Bandung terbaik untuk kesayangan!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Si Kecil Alergi? Kenali Tanda dan Jenisnya, Jangan Lupa Konsultasi ke Dokter Anak!

Si Kecil Alergi? Kenali Tanda dan Jenisnya, Jangan Lupa Konsultasi ke Dokter Anak!

Si Kecil Alergi? Kenali Tanda dan Jenisnya, Jangan Lupa Konsultasi ke Dokter Anak!

 

Pernahkah Anda melihat si kecil mengalami reaksi seperti bersin, batuk, gatal, dan lain-lain ketika berinteraksi dengan hal-hal tertentu? Jika iya, kemungkinan itu adalah reaksi alergi.

Yuk, simak artikel berikut untuk informasi lebih lanjut terkait alergi, termasuk definisi, tanda, jenis, solusi, hingga rekomendasi dokter anak terbaik untuk atasi alergi pada buah hati kesayangan.

Alergi pada Anak dan Tandanya

batuk pilek anak
Sumber : Envanto

Alergi adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap zat tertentu, yang sebenarnya bagi sebagian orang tidak berbahaya, tetapi justru dapat memicu sejumlah gejala/reaksi pada sebagian lainnya.

Alergi dapat menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Adapun tanda-tandanya cukup beragam. Beberapa di antaranya, yaitu:

  • Batuk.
  • Sering bersin.
  • Kulit terasa gatal.
  • Hidung tersumbat.
  • Pusing/sakit kepala.
  • Muncul ruam pada kulit.
  • Wajah dan bibir bengkak.
  • Alami gangguan pernapasan.
  • Kulit kemerahan atau terasa panas.
  • Muncul gangguan pencernaan, seperti mual atau diare.

Jenis-Jenis Alergi pada Anak dan Solusinya

Sumber : Envato

Sejatinya, alergi pada anak terbagi atas beberapa jenis. Apa saja? Berikut beberapa di antaranya:

Alergi Obat

Beberapa obat-obatan, termasuk vaksin, suplemen herbal, atau antibiotik bisa menimbulkan alergi pada anak seperti gatal dan kemerahan di kulit.

Alergi Debu

Jika Anda melihat buah hati kesayangan gatal-gatal, pilek, hingga mata berair ketika berada di tempat kotor, maka kemungkinan mereka memiliki alergi terhadap debu. Reaksi ini biasanya muncul saat debu beterbangan, menempel, dan terhirup oleh mereka.

Alergi Makanan

Beberapa makanan tertentu, seperti telur, kacang-kacangan, gandum, kerang, dan lain-lain juga bisa menimbulkan alergi pada anak. Adapun gejalanya, biasanya meliputi gatal, perasaan lelah, gelisah, hingga sakit kepala.

Alergi Susu Sapi

Selain makanan-makanan tertentu, ternyata minuman seperti susu sapi juga dapat memicu alergi, bahkan menjadi salah satu yang paling umum dialami anak-anak. Biasanya reaksi muncul tidak lama setelah mereka mengonsumsi susu sapi.

Alergi Bulu Hewan

Apabila Anda mendapati anak sering bersin dan mengi ketika berinteraksi dengan hewan, misalnya hewan peliharaan, maka kemungkinan mereka sedang mengalami reaksi alergi. Alergi ini umumnya berasal dari bulu hewan, tetapi juga bisa dari air liur, urin, serta sel kulit mati hewan.

Alergi pada Hidung

Selanjutnya, jenis alergi pada hidung atau saluran pernapasan, biasanya dialami oleh anak dengan rentang usia 2 hingga 3 tahun. Beberapa gejalanya yang dapat berlangsung selama lebih dari beberapa minggu, yaitu mata berair yang tampak merah, sering batuk, hidung tersumbat—gatal dan juga berair.

Alergi Serbuk Sari (Pollens)

Sesuai namanya, ini merupakan jenis alergi yang dipicu oleh serbuk sari, yaitu bubuk halus yang dihasilkan oleh bagian jantan bunga (benang sari). Fungsinya agar tanaman dapat bereproduksi ketika mencapai bagian betina bunga (putik sari).

Nah, lantaran sangat ringan, maka serbuk ini mudah terbawa angin dan menyebar di udara, sehingga memicu reaksi alergi pada sebagian orang yang tak sengaja menghirupnya.

Alergi Kulit (Dermatitis Atopik)

Alergi ini juga sering disebut eksim (eczema), yang penyebabnya adalah perbedaan dalam cara sistem kekebalan tubuh anak bereaksi terhadap berbagai hal. Adapun gejala-gejalanya, antara lain kulit gatal, kemerahan, bersisik, dan bahkan dalam kondisi tertentu dapat berupa benjolan yang mengeluarkan cairan lalu mengeras.

Lantas, bagaimana solusi mengatasi alergi-alergi di atas? Sebagai orang tua bijak, Anda perlu mengawasi buah hati agar mereka dapat terhindar dari hal-hal yang dapat memicu reaksi alergi tertentu, misalnya tidak memakan/meminum pantangannya, tidak berinteraksi langsung dengan hewan penyebab alergi, dan lain sejenisnya.

Namun, untuk penanganan lebih tepat, sangat disarankan Anda mengunjungi dan berkonsultasi dengan dokter anak secara langsung. 

Rekomendasi Dokter Anak untuk Atasi Alergi

vaksin

Salah satu fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan dokter anak berkualitas adalah KMC alias Klinik Mutiara Cikutra. Ini merupakan klinik kesehatan yang telah terdaftar dan memiliki izin resmi dari Kementerian Kesehatan.

Di sini tersedia berbagai layanan, salah satunya layanan kesehatan anak yang ditunjang oleh poli anak yang nyaman dan penanganan oleh dokter anak bersertifikat nan berpengalaman di bidangnya.

Klinik Mutiara Cikutra berdedikasi memberikan pelayanan terbaik yang seramah keluarga dan tempat yang senyaman rumah sendiri. Jadi, Anda tidak perlu khawatir soal kualitasnya.

Tunggu apa lagi? Yuk, jadwalkan kunjungan Anda bersama buah hati kesayangan ke KMC untuk mendapat penanganan alergi terbaik oleh dokter anak berkualitas!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Vaksin Internasional untuk Umrah dan Liburan: Hal yang Perlu Diketahui Serta Rekomendasi Kliniknya

Vaksin Internasional untuk Umrah dan Liburan: Hal yang Perlu Diketahui Serta Rekomendasi Kliniknya

Vaksin Internasional untuk Umrah dan Liburan: Hal yang Perlu Diketahui Serta Rekomendasi Kliniknya

 

Sebagian besar dari Anda pastinya sudah tahu bahwa bepergian ke luar negeri, seperti umrah, haji, ataupun sekadar liburan, membutuhkan persiapan tertentu. Salah satunya, yaitu melakukan vaksin internasional.

Adapun untuk jenisnya bisa berbeda-beda, tergantung apa negara tujuan Anda dan bagaimana persyaratan yang berlaku di negara tersebut. Hal ini membuat vaksinasi internasional menjadi krusial. Pasalnya, vaksinasi tersebut dapat memengaruhi kenyamanan serta kelancaran perjalanan Anda, khususnya ketika pengurusan visa ataupun proses imigrasi.

vaksin internasional
Sumber : Envanto

Apa Itu Vaksin Internasional?

Sesuai namanya, vaksin internasional adalah jenis vaksin yang bersifat internasional. Dalam artian, ini merupakan vaksinasi yang berlaku di kancah internasional, diberikan untuk seseorang yang hendak bepergian ke luar negeri. Terlebih lagi, tujuannya adalah negara-negara yang memiliki risiko tinggi akan penularan penyakit tertentu.

Biasanya, vaksin internasional ini direkomendasikan atau bahkan diwajibkan bagi orang-orang yang hendak melakukan perjalanan umrah, haji, serta liburan. Untuk haji dan umrah ke Arab Saudi, misalnya, salah satu syarat utamanya adalah jemaah harus melakukan vaksin meningitis.

Contoh lainnya, ada vaksin demam kuning (yellow fever), yang biasanya dianjurkan ketika Anda ingin berlibur ke tempat tertentu seperti sejumlah daerah di Afrika dan Amerika Selatan.

Vaksin Internasional yang Penting untuk Perjalanan Umrah dan Liburan

Berikut beberapa jenis vaksin internasional yang penting Anda ketahui jika hendak melakukan perjalanan umrah, haji, ataupun liburan:

Vaksin Influenza

Vaksin influenza adalah vaksin yang dilakukan untuk melindungi diri dari penyakit flu yang pada dasarnya memang sangat mudah menyebar. Pasalnya, meskipun tampak sepele dan termasuk penyakit ringan, nyatanya flu tetap dapat menimbulkan masalah. Bahkan dalam kasus tertentu, penyakit ini bisa berujung menjadi komplikasi serius.

Namun, terlepas dari pemberiannya yang biasanya untuk tujuan bepergian ke luar negeri, vaksin influenza sebenarnya memang dianjurkan dilakukan setiap setahun sekali. Utamanya untuk orang-orang yang berisiko, seperti lansia di atas 65 tahun, anak di bawah 5 tahun, dan wanita hamil.

Selain itu, vaksin influenza juga sebaiknya diberikan rutin untuk penderita penyakit-penyakit tertentu, seperti penyakit jantung, asma, paru kronis, HIV/AIDS, dan lain-lain.

Vaksin Meningitis

Vaksin meningitis adalah vaksin untuk mencegah meningitis. Penyakit ini merupakan peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri.

Ini merupakan vaksin yang menjadi syarat wajib bagi orang yang akan melakukan umrah, haji, maupun perjalanan ke negara tujuan tertentu yang tingkat penyebaran meningitis-nya tinggi.

Vaksin Poliomyelitis

Vaksin poliomyelitis atau yang familier disebut “vaksin polio” merupakan jenis vaksin yang berfungsi untuk mencegah terjadinya polio. Ini adalah penyakit saraf karena virus polio yang dapat membuat kelumpuhan secara permanen, kesulitan bernapas, bahkan kematian.

Biasanya, penularan penyakit polio terjadi melalui beberapa cara, yaitu:

  • Paparan percikan air liur, misalnya ketika pengidapnya batuk atau bersin.
  • Pengonsumsian makanan dan minuman yang telah terkontaminasi atau tercemar oleh virus polio.
  • Kontak langsung dengan feses atau cairan tubuh penderita polio. Biasanya juga dapat tertular dari interaksi kontak fisik dengan pengidap terinfeksi.

Lainnya

Selain ketiga vaksin di atas, masih ada beberapa jenis vaksin internasional lainnya yang biasanya dianjurkan untuk tujuan bepergian ke negara-negara tertentu, seperti:

  • Vaksin Typhoid
  • Vaksin Hepatitis A
  • Vaksin Hepatitis B
  • Vaksin Pneumonia
  • Vaksin Yellow Fever (Demam Kuning)
  • Vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella)

Rekomendasi Klinik dengan Layanan Vaksin Internasional Berkualitas

vaksin
Sumber : Envanto

Bagi Anda yang ingin melakukan vaksin internasional, seperti vaksin influenza, meningitis, dan poliomyelitis, Anda bisa melakukannya di klinik kesehatan berkualitas. Nah, salah satu rekomendasi terbaiknya yaitu Klinik Mutiara Cikutra (KMC).

Klinik Mutiara Cikutra merupakan klinik kesehatan yang telah terdaftar dan bersertifikat resmi dari Kementerian Kesehatan. Klinik ini didukung oleh fasilitas lengkap nan modern serta tenaga medis profesional ahli yang berpengalaman di bidangnya.

KMC berdedikasi memberikan pelayanan seramah keluarga dan tempat yang senyaman rumah sendiri. Sangat cocok bagi Anda yang mengutamakan kualitas sekaligus kenyamanan.

Di sini tersedia berbagai layanan kesehatan, termasuk salah satunya layanan vaksinasi. Jadi, jika Anda tertarik untuk melakukan vaksinasi internasional, Klinik Mutiara Cikutra siap membantu!

Yuk, kunjungi KMC sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Si Kecil Menolak Makan? Yuk, Konsultasi ke Dokter Anak untuk Atasi GTM

Si Kecil Menolak Makan? Yuk, Konsultasi ke Dokter Anak untuk Atasi GTM

Si Kecil Menolak Makan? Yuk, Konsultasi ke Dokter Anak untuk Atasi GTM

 

Melihat si kecil tumbuh dengan sehat tentunya menjadi salah satu kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Namun, ada kalanya masalah-masalah tertentu terjadi seiring perjalanan tumbuh kembang sang buah hati. Salah satunya yaitu ketika mereka menolak makan atau yang sering disebut “GTM”.

Hal ini kerap menimbulkan kekhawatiran serta kecemasan, sekaligus rasa bingung harus melakukan apa untuk mengatasinya. Oleh karena itu, sebagai orang tua bijak, jangan sampai Anda mengabaikan aksi GTM anak begitu saja.

Jika GTM telah berlangsung cukup lama, apalagi disertai gejala-gejala lain, maka sudah saatnya Anda membawa si kecil ke dokter anak. Dengan demikian, Anda bisa melakukan konsultasi hingga mendapat penanganan yang tepat.

GTM Anak
Sumber : Envanto

GTM

GTM merupakan singkatan dari “gerakan tutup mulut”. Sesuai namanya, ini adalah aksi “tutup mulut” yang dilakukan si kecil ketika diberi makanan. Dengan kata lain, GTM adalah istilah yang merujuk pada kondisi anak yang menolak makan dengan cara menutup mulut saat disuapi.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), GTM pada anak dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti sakit, bosan, tidak lapar, hingga trauma dengan makanan tertentu.

Umumnya, GTM kerap terjadi saat anak memasuki usia satu tahun dan biasanya kian memuncak ketika mereka menginjak usia dua tahun. Dalam fase ini, si kecil cenderung merasa mulai “besar” dan ingin menunjukkan sisi mandirinya dengan sedikit “pemberontakan”

Penyebab GTM

Namun, tahukah Anda? Nyatanya, ada sejumlah penyebab lain yang bisa menjadi kemungkinan munculnya aksi GTM pada anak. Apa saja? Berikut beberapa di antaranya:

  • Kelelahan.
  • Kesulitan mengunyah.
  • Porsi makanan terlalu banyak atau tidak sesuai dengan selera anak.
  • Anak picky eater dan lebih sering mengemil serta minum minuman manis.
  • Ada gangguan (distraksi) saat makan, misalnya sesuatu yang mengalihkan fokus anak dari makanan.
  • Nafsu makan berkurang karena terjadi perubahan laju pertumbuhan yang turut memengaruhi kebutuhan nutrisi.
  • Kebiasaan memberi junk food sehingga anak menjadi ketagihan dan ketika diberi makanan sehat, mereka jadi cenderung menolak.
  • Tumbuh gigi geraham yang membuat gusi bengkak dan sensitif. Hal ini membuat anak tidak nyaman hingga nafsu makannya pun menurun.
  • Pemberian susu yang tidak tepat sehingga kemungkinan pada jam-jam makan, anak seringnya masih merasa kenyang dan akhirnya terbiasa menolak makan.
  • Trauma pada makanan tertentu atau pada perlakuan orang tua. Misalnya, Anda tak sengaja membentak atau mengancam anak ketika memberi makan agar makanannya cepat habis.
  • Anak takut mencoba karena belum terbiasa dengan makanan baru. Biasanya, ini terjadi ketika ada pergantian menu. Jadi, selain bosan dengan makanan yang itu-itu saja, hal sebaliknya juga dapat membuat mereka GTM.
  • Terbiasa diiming-imingi sesuatu. Terkadang orang tua menarik perhatian anak untuk makan dengan menjanjikan hadiah. Mungkin satu-dua kali berhasil, tetapi lama-kelamaan jadi bumerang tersendiri karena ada kemungkinan membuat anak hanya mau makan jika dijanjikan imbalan.

Tips Mengatasi GTM pada Anak

Apabila si kecil mengalami GTM, jangan langsung panik. Berikut beberapa tips yang dapat Anda coba untuk mengatasi GTM pada anak:

  • Berikan makanan sesuai porsinya.
  • Ciptakan suasana menyenangkan saat anak makan.
  • Berikan susu secukupnya dan hanya pada waktu-waktu tertentu.
  • Minimalkan distraksi saat memberi anak makan agar fokus mereka tidak terpecah.
  • Coba buat variasi makanan untuk menghindari rasa bosan anak dengan menu yang itu-itu saja.
  • Atur jadwal makanan dengan tepat (kapan harus memberi makanan utama dan selingan seperti snack atau camilan lainnya).
  • Jangan memaksa anak makan. Usahakan agar mereka mau makan dengan sendirinya agar mereka dapat mengenal sinyal lapar dan sinyal kenyangnya sendiri.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter Anak?

Meski tampak sepele, nyatanya GTM bisa menjadi masalah serius jika terus berlanjut dan disertai dengan gejala-gejala lain. Contohnya, apabila GTM berlangsung sudah lebih dari dua minggu dan disertai gejala sakit, maka saatnya Anda berkonsultasi dengan dokter anak.

Nah, salah satu rekomendasi fasilitas kesehatan dengan layanan dokter anak berkualitas adalah Klinik Mutiara Cikutra. Sebuah klinik kesehatan yang menawarkan berbagai layanan, termasuk layanan kesehatan anak dengan dukungan dokter spesialis anak profesional yang ramah.

Selain itu, Klinik Mutiara Cikutra juga ditunjang oleh ruangan poli anak yang nyaman dengan fasilitas super lengkap nan modern. Jadi, soal kualitas, Anda tidak perlu khawatir!

Tunggu apa lagi? Yuk, segera jadwalkan kunjungan Anda!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Gigi Anak Tumbuh Tidak Beraturan? Yuk, Konsultasikan dengan Dokter Gigi Anak

Gigi Anak Tumbuh Tidak Beraturan? Yuk, Konsultasikan dengan Dokter Gigi Anak

Gigi Anak Tumbuh Tidak Beraturan? Yuk, Konsultasikan dengan Dokter Gigi Anak

 

Momen pertumbuhan gigi merupakan salah satu tahap penting dalam perkembangan anak. Namun, tidak semua anak memiliki pertumbuhan gigi yang sempurna. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang memiliki pola tumbuh gigi yang tidak beraturan alias berantakan.

Tak heran, hal ini kerap kali menimbulkan rasa khawatir pada orang tua. Pasalnya, susunan gigi si kecil yang tidak sejajar atau bahkan tumbuh di posisi yang tidak semestinya bisa berdampak cukup besar bagi anak.

Mulai dari kepercayaan diri yang menurun hingga faktor kenyamanan saat mereka makan dan berbicara. Oleh karena itu, berkonsultasi dengan dokter gigi anak merupakan solusi terbaik yang dapat Anda lakukan sebagai bentuk kepedulian sekaligus dukungan terhadap kesehatan gigi si kecil.

Penyebab Gigi Anak Tidak Beraturan

gigi anak
Sumber : Envanto

Gigi yang tumbuh tidak beraturan atau berantakan pada anak bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti genetik, kebiasaan sehari-hari, hingga kondisi kesehatan mereka secara umum.

Kendati demikian, bisa dikatakan bahwa penyebab utama yang membuat gigi anak tidak beraturan alias tumbuh dengan berantakan adalah pertumbuhan gigi susu yang kurang baik. Pasalnya, meski tampak sepele, pertumbuhan gigi susu ini cukup berpengaruh pada pertumbuhan gigi permanen.

Apabila gigi susu berantakan, maka ruang yang tersedia untuk gigi permanen pun akan sangat terpengaruh. Hal ini karena gigi permanen yang sudah berkembang sepenuhnya akan mulai muncul dan mendorong gigi susu untuk tanggal.

Perlu Anda ketahui bahwa sebenarnya gigi permanen memang sudah berkembang dalam gusi dan hanya menunggu waktu yang tepat untuk muncul ke permukaan menggantikan gigi susu.

Oleh karena itu, jika gigi susu tanggal lebih awal (bisa juga berantakan karena terlalu lama tanggal), maka ada kemungkinan gigi permanen menjadi lebih bebas menempati ruang yang tersedia. Bahkan tidak jarang justru sampai menempati ruang lain yang bukan miliknya.

Selain itu, gigi susu yang rusak (berlubang atau masalah-masalah lainnya) juga dapat memengaruhi pertumbuhan gigi permanen. Hal ini membuat gigi susu tidak dapat menempatkan gigi permanen di posisi ideal yang sebagaimana mestinya.

Faktor-faktor tersebutlah yang acap kali menjadi penyebab gigi pada anak tumbuh tidak beraturan—dan bahkan dalam kondisi tertentu bisa bertumpuk, sehingga terkesan berantakan.

Tips agar Gigi Anak Tidak Berantakan

gigi
Sumber : Envanto

Setelah mengetahui penyebab umum yang dapat membuat gigi anak tumbuh tidak beraturan, mungkin kini Anda bertanya-tanya: “Apakah ada solusi atau tips tertentu yang bisa dilakukan agar gigi anak tidak berantakan?”.

Jawabannya tentu saja ada. Berikut beberapa di antaranya:

  • Memperhatikan kesehatan gigi dan mulut anak sejak dini.
  • Memberlakukan sikat gigi rutin pada anak sejak dini.
  • Menghindari kebiasaan mengedot dengan botol.
  • Menghentikan kebiasaan buruk anak, seperti menggigit kuku, mengisap jempol, atau menggigit bibir.
  • Rutin memeriksakan gigi anak ke dokter gigi anak, misalnya setiap enam bulan sekali. Dan jika gigi sudah telanjur berantakan, maka mempertimbangkan tindakan korektif seperti penggunaan behel atau alat ortodonti lainnya tidak ada salahnya.

Rekomendasi Dokter Gigi Anak Berkualitas

Sebagai orang tua bijak yang peduli terhadap kesehatan gigi dan mulut si kecil, penting bagi Anda untuk mengambil peran aktif dalam hal ini. Anda harus paham kapan saat yang tepat untuk membawa si kecil untuk berkonsultasi dengan dokter gigi anak profesional, agar berbagai masalah dapat ditangani sedini mungkin.

Nah, salah satu rekomendasi fasilitas kesehatan terbaik yang menawarkan layanan dokter gigi anak berkualitas adalah Klinik Mutiara Cikutra alias KMC. Ini adalah klinik kesehatan berizin resmi yang sesuai standar Kementerian Kesehatan.

Di klinik ini tersedia berbagai layanan kesehatan, salah satunya ada poli gigi yang menyediakan beberapa praktik, yaitu:

  • Dokter gigi
  • Dokter spesialis gigi anak
  • Dokter spesialis bedah mulut

Jadi, bagi Anda yang memiliki berbagai masalah terkait kesehatan gigi dan mulut, KMC merupakan pilihan terbaik. Di sini, Anda dan si kecil bisa bersama-sama menjalani pemeriksaan gigi dengan nyaman karena didukung oleh tenaga medis profesional bersertifikat yang berpengalaman di bidangnya.

Terlebih, Klinik Mutiara Cikutra juga berdedikasi tinggi untuk memberikan pelayanan yang seramah keluarga dan tempat yang senyaman rumah sendiri. Sangat menarik, bukan?

Makanya, yuk, jadwalkan pemeriksaan gigi Anda bersama si kecil sekarang juga, dan nikmati pengalaman berkesan nan menyenangkan hanya di Klinik Mutiara Cikutra!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Demam Berdarah pada Si Kecil: Cegah dan Tangani Lebih Cepat Bersama Dokter Anak

Demam Berdarah pada Si Kecil: Cegah dan Tangani Lebih Cepat Bersama Dokter Anak

Demam Berdarah pada Si Kecil: Cegah dan Tangani Lebih Cepat Bersama Dokter Anak

 

Dari sekian banyak penyakit di sekitar kita, salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah demam berdarah, terutama pada anak-anak, karena sistem kekebalan tubuh mereka memang belum sekuat orang dewasa.

Namun, lantaran gejala demam berdarah cenderung mirip dengan penyakit biasa, hal ini sering membuat kewaspadaan orang tua menurun. Hasilnya, banyak dari mereka yang terlambat menyadari bahwa sang buah hati sedang terjangkit penyakit serius.

Padahal, demam berdarah sangat memerlukan penanganan yang cepat dan tepat guna mencegah terjadinya komplikasi yang bisa mengundang masalah lebih serius.

Nah, di sini lah peran dokter anak menjadi sangat krusial. Sebab, dengan pemantauan dan diagnosis akurat dari dokter anak, orang tua juga dapat melakukan penanganan yang sesuai sejak munculnya gejala awal.

Demam Berdarah, Penyebab dan Gejalanya

demam berdarah
Sumber : Envanto

Demam berdarah adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Oleh sebab itu, penyakit ini juga sering disebut DBD alias demam berdarah dengue. Adapun virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang memiliki ciri berwarna hitam dengan garis-garis putih seperti belang di bagian punggung dan kakinya.

Umumnya, penyakit ini sering muncul di wilayah atau daerah tropis dan subtropis seperti Indonesia, utamanya saat musim hujan ketika populasi nyamuk cenderung meningkat.

Demam berdarah sebenarnya dapat menyerang siapa saja, tetapi tak dimungkiri bahwa anak-anak memang lebih rentan terjangkit penyakit ini. Kendati demikian, selain anak-anak, ada beberapa kelompok lain dengan faktor risiko lebih tinggi terserang penyakit ini.

Misalnya wanita yang sedang hamil, lansia (orang lanjut usia/orang tua), orang dengan daya tahan tubuh lemah, dan orang yang sebelumnya sudah pernah terjangkit demam berdarah.

Lantas, apa saja gejala dari demam berdarah? Secara umum, gejala utamanya adalah demam tinggi (sekitar 39°-40° C) secara mendadak, kemudian turun selama beberapa hari sebelum akhirnya kembali naik.

Namun, selain itu, biasanya demam berdarah juga disertai dengan gejala-gejala lain, seperti:

  • Tubuh lemas
  • Mual dan muntah
  • Nafsu makan hilang
  • Otot dan sendi sakit
  • Sakit kepala yang parah
  • Bagian belakang mata nyeri
  • Muncul ruam kemerahan (timbul atau tidak timbul)

Pertolongan Pertama Demam Berdarah pada Anak

demam berdarah
Sumber : Envanto

Jika Anda merasa bahwa si kecil kemungkinan terjangkit penyakit demam berdarah, ada beberapa pertolongan pertama yang dapat Anda lakukan. Berikut beberapa di antaranya:

Kompres Dingin atau Berikan Obat Pereda Nyeri

Gejala awal munculnya demam berdarah adalah demam tinggi. Oleh karena itu, memberikan kompres dingin menjadi salah satu pertolongan pertama yang dapat Anda lakukan.

Gunakan kain atau handuk bersih yang telah direndam di dalam air dingin, lalu kompreskan ke beberapa bagian tubuh anak seperti dahi, lipatan siku, ketiak, hingga selangkangan.

Adapun alternatif lain jika Anda ingin mempercepat demam anak turun, Anda bisa memberikan obat pereda nyeri seperti paracetamol.

Pastikan Anak Beristirahat dengan Cukup

Istirahat yang cukup juga dapat membantu si kecil agar kondisi kesehatannya dapat pulih dengan lebih cepat.

Berikan Makanan Bergizi dengan Asupan Bernutrisi

Makanan sehat nan bergizi dan bernutrisi juga terbilang bisa membantu memperkuat imun anak agar dapat melawan infeksi virus dengue yang menyebabkan penyakit DBD.

Berikan Banyak Cairan

Cairan seperti air putih, sup hangat, dan sejenisnya juga merupakan salah satu pertolongan pertama penyakit demam berdarah. Sebab, DBD memang bisa meningkatkan risiko dehidrasi karena adanya gejala demam tinggi, diare, muntah,dan lain-lain.

Namun, perlu diingat bahwa apabila anak tak kunjung sembuh, bahkan setelah pemberian sejumlah pertolongan pertama, maka saatnya Anda membawa mereka ke dokter anak untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Rekomendasi Dokter Anak

dokter anak
Sumber : Envanto

Nah, salah satu rekomendasi fasilitas kesehatan terbaik yang menyediakan layanan dokter anak adalah Klinik Mutiara Cikutra (KMC). Ini adalah klinik yang mengutamakan kenyamanan dan keamanan, berdedikasi memberikan pelayanan seramah keluarga dan tempat yang nyaman senyaman rumah sendiri.

Di sini tersedia berbagai layanan kesehatan, termasuk layanan kesehatan poli anak yang didukung oleh dokter spesialis anak bersertifikat dan profesional, sehingga dipastikan ahli di bidangnya.

Dengan ruang poli yang nyaman serta dokter yang ramah anak, Anda dan buah hati dijamin bisa mendapatkan pengalaman berobat berkualitas nan menyenangkan di Klinik Mutiara Cikutra.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, jadwalkan kunjungan Anda dan si kecil ke KMC sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Kebiasaan Ini Bisa Merusak Gigi si Kecil! Segera Cek ke Dokter Gigi Anak Bandung Berikut!

Kebiasaan Ini Bisa Merusak Gigi si Kecil! Segera Cek ke Dokter Gigi Anak Bandung Berikut!

Hati-Hati, Kebiasaan Ini Bisa Merusak Gigi si Kecil! Segera Cek ke Dokter Gigi Anak Bandung Berikut!

 

Merawat kesehatan gigi dan mulut merupakan hal yang penting dilakukan. Terlebih lagi, bagi anak-anak yang giginya masih dalam tahap perkembangan sehingga cenderung lebih rentan terhadap risiko kerusakan.

Sayangnya, justru banyak kebiasaan sehari-hari anak yang mungkin saja tampak sepele, tetapi sebenarnya cukup berbahaya—bahkan berpotensi merusak gigi. Jika terus dibiarkan tanpa penanganan dokter, hal ini bisa menimbulkan gangguan serius ke depannya.

Nah, khusus bagi Anda warga Bandung yang mencari dokter gigi anak Bandung berkualitas, jangan sampai Anda melewatkan artikel ini. Terlebih lagi, Anda juga akan menemukan informasi menarik lainnya terkait kebiasaan-kebiasaan anak yang dapat merusak gigi mereka.

Penasaran? Yuk, simak selengkapnya!

Kebiasaan-Kebiasaan yang Bisa Merusak Gigi Anak

Gigi Anak
Sumber : Envanto

Ada banyak faktor yang dapat menjadi penyebab rusaknya gigi si kecil, salah satunya adalah faktor kebiasaan. Jadi, untuk mencegah hal ini terjadi, Anda harus tahu apa saja kebiasaan-kebiasaan tersebut. Berikut beberapa di antaranya:

Mengonsumsi Makanan dan Minuman Manis

Makanan maupun minuman manis memang pada umumnya sangat disukai anak-anak. Namun, kandungan gula yang tinggi di dalamnya bisa merusak gigi. Jika menempel dan mengendap dalam waktu lama, maka hal tersebut akan memunculkan plak yang bisa berujung pada masalah kesehatan lebih serius lainnya.

Jadi, jika si kecil suka memakan makanan manis seperti permen, cokelat, dan sejenisnya, sebaiknya segera hentikan. Ini juga termasuk minum minuman manis seperti jus, susu kemasan, dan lain-lain

Hal ini penting dilakukan untuk menghindari kerusakan lapisan email gigi. Jika terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin gigi anak akan berlubang, busuk, hingga akhirnya harus dicabut sebelum waktunya.

Menelan Pasta Gigi

Pasta gigi anak kebanyakan memiliki rasa dan warna yang menarik. Alhasil, tak heran anak cukup sering menelannya saat menyikat gigi. Padahal, fluoride yang terlalu banyak tertelan atau digunakan berlebihan bisa menyebabkan fluorosis. Kandungan ini dapat memicu munculnya bintik putih atau cokelat pada gigi.

Mengisap Jempol dan Empeng

Kebiasaan ini biasanya cukup efektif untuk menenangkan anak, tetapi ternyata bisa berubah menjadi kebiasaan buruk yang berpotensi membuat gigi tumbuh berantakan. Selain itu, kebiasaan mengisap jempol atau dot/empeng juga dapat mempersulit anak mengunyah, mengucapkan kata-kata yang benar, hingga memengaruhi bentuk rahang.

Aktif Menyusu ASI di Malam Hari

Sebagai orang tua, sadar atau tidak, kebiasaan si kecil yang aktif menyusu di malam hari—apalagi setelah menggosok gigi—bisa menjadi kebiasaan sepele yang dapat merusak gigi. Sisa-sisa ASI yang menempel semalaman di dalam mulut dan pada lapisan gigi bisa memicu kerusakan, apalagi jika terjadi secara terus-menerus.

Perlu Anda ketahui bahwa ASI sebenarnya mengandung laktosa (jenis gula dalam susu). Meski tidak secara langsung menyebabkan kerusakan, hal tersebut dapat memicu karies gigi jika pemberian ASI tidak tepat atau terlalu sering. Akibatnya, gigi anak menjadi lebih mudah berlubang dan rusak.

Menggigit Alat Tulis atau Sejenisnya

Memasuki usia prasekolah atau usia sekolah, anak biasanya mulai terbiasa dengan penggunaan alat tulis. Nah, beberapa anak bahkan terkadang memiliki kebiasaan menggigiti alat tulis seperti pensil, pena, dan sejenisnya.

Kebiasaan ini bukanlah kebiasaan yang baik karena dapat mengundang masuknya virus dan bakteri ke dalam mulut. Alhasil, anak menjadi rentan terkena penyakit, termasuk dapat memicu kerusakan dan keretakan pada gigi. Hal ini bisa pula menimbulkan luka jika disertai benturan cukup keras dalam mulut.

Rekomendasi Dokter Gigi Anak Bandung Berkualitas

Gigi Anak
Sumber : Envanto
Gigi Anak
Sumber : Envanto

Jika buah hati kesayangan Anda cukup sering melakukan satu atau beberapa dari kebiasaan di atas, tidak ada salahnya Anda bersikap waspada dan hati-hati. Langkah bijak yang dapat Anda lakukan ketika berada di situasi ini adalah segera memeriksakan anak ke dokter gigi guna mencegah potensi kerusakan lebih serius.

Di Bandung, misalnya, ada Klinik Mutiara Cikutra (KMC) yang menawarkan layanan dokter gigi anak Bandung berkualitas. Klinik ini cocok menjadi pilihan bagi Anda yang mengutamakan keamanan dan kenyamanan. Sebab, KMC dikenal dengan pelayanannya yang ramah keluarga dan tempatnya yang senyaman rumah.

Di KMC sendiri tersedia berbagai layanan kesehatan. Salah satunya poli gigi khusus anak yang didukung oleh dokter spesialis gigi anak yang siap menangani berbagai masalah kesehatan gigi si kecil.

Jadi, yuk, rencanakan segera pertemuan Anda dan si kecil dengan dokter anak Bandung berkualitas di KMC!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Batuk Pilek Anak, Kapan Harus Dibawa ke Dokter? Segera Periksakan ke Dokter Anak Bandung!

Batuk Pilek Anak, Kapan Harus Dibawa ke Dokter? Segera Periksakan ke Dokter Anak Bandung!

Batuk Pilek Anak, Kapan Harus Dibawa ke Dokter? Segera Periksakan ke Dokter Anak Bandung!

 

Masa kanak-kanak merupakan masa yang cukup rentan bagi buah hati terjangkit berbagai jenis penyakit, salah satunya batuk pilek. Penyakit ini bahkan bisa terjadi hingga delapan kali dalam setahun pada anak.

Pada dasarnya, batuk pilek merupakan penyakit umum yang sebenarnya bersifat ringan dan bahkan bisa sembuh dalam beberapa hari. Namun, apa jadinya jika batuk dan pilek masih terus berlanjut?

Jika demikian, maka mungkin itulah saatnya Anda sebagai orang tua harus segera mengambil langkah bijak dengan memeriksakan buah hati ke dokter anak Bandung—apabila Anda berdomisili di Bandung.

Lantas, apa penyebab batuk pilek? Dan kapan waktu terbaik untuk membawa anak ke dokter? Yuk, simak penjelasannya dalam artikel berikut, lengkap dengan tips penanganan awal untuk batuk pilek anak hingga rekomendasi dokter anak Bandung terbaik yang lokasinya tak jauh dari tempat Anda.

Batuk Pilek Anak, Penyebab dan Waktu Terbaik untuk ke Dokter

sumber : Envanto

Batuk pilek atau juga sering disebut “bapil” merupakan gangguan kesehatan yang umum terjadi, termasuk pada anak-anak. Umumnya, penyebab batuk pilek adalah infeksi virus (rhinovirus) pada saluran pernapasan atas seperti hidung dan tenggorokan.

Sesuai namanya, “bapil” atau batuk-pilek merupakan kondisi ketika anak mengalami batuk yang disertai dengan pilek (hidung berair/tersumbat). Saat hal ini terjadi, biasanya tenggorokan juga akan terasa gatal dan umumnya disertai gejala lain, seperti demam ringan, bersin berkali-kali, mudah lelah, dan sebagainya.

Namun, dalam kasus yang lebih parah, lendir/ingus pada anak akan berwarna kuning atau hijau dengan tekstur yang “kental”. Biasanya, bapil juga disertai diare, muntah, demam tinggi, bahkan hingga ruam.

Lantas, kapan anak harus dibawa ke dokter? Menilik penjelasan di atas, Anda bisa segera memeriksakan buah hati ke dokter anak jika gejalanya semakin serius dan mengkhawatirkan, seperti:

  • Demam
  • Mengi atau napas bunyi seperti “ngik”
  • Ketika bernapas, lubang hidung mengembang.
  • Napas menjadi pendek sehingga kesulitan berbicara banyak dalam satu waktu.
  • Kulit tampak terisap/tersedot di sekitar tenggorokan atau di bawah tulang rusuk ketika anak bernapas.

Tips Penanganan Awal untuk Meredakan Batuk Pilek Anak

batuk pilek anak
Sumber : Envanto

Biasanya, batuk pilek pada anak bisa sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun, jika Anda khawatir dan ingin melakukan sesuatu, setidaknya ada sejumlah tips penanganan awal yang dapat Anda terapkan. Berikut beberapa di antaranya:

  • Pastikan anak memiliki waktu istirahat yang cukup agar sistem imun dapat bekerja dengan baik melawan virus penyebab infeksi dalam tubuh.
  • Pastikan kebutuhan cairan anak terpenuhi. Ini penting dilakukan agar lendir/ingus/dahak pada anak bisa lebih mudah dikeluarkan dari hidung.
  • Jika hidung anak tersumbat, Anda bisa mencoba menggunakan alat penyedot seperti bulb syringe untuk menyedot lendir dari hidung (biasanya pada bayi atau anak usia 1-3 tahun).
  • Gunakan cairan saline atau larutan garam sekitar 2-3 tetes pada masing-masing lubang hidung secara bergantian; fungsinya untuk “mencuci” hidung anak.
  • Untuk batuk, Anda bisa memberikan madu pada anak. Namun, ini hanya dianjurkan untuk anak usia di atas satu tahun.
  • Untuk demam, jika memang cukup tinggi, Anda bisa memberikan obat umum seperti parasetamol dan ibuprofen.

Rekomendasi Dokter Anak Bandung Berkualitas

Batuk pilek yang ringan pada anak memang bisa ditangani sendiri di rumah. Namun, dalam kasus tertentu, Anda tentunya harus segera membawa mereka ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Nah, bagi Anda orang tua di Bandung yang sedang bingung karena tengah mengalami hal ini, kini Anda bisa bernapas lega. Sebab, ada fasilitas kesehatan tepercaya di Bandung dengan layanan dokter anak Bandung berkualitas yang siap membantu Anda menyembuhkan batuk pilek si kecil, yaitu Klinik Mutiara Cikutra (KMC).

Klinik Mutiara Cikutra merupakan klinik berizin resmi dari Kementerian Kesehatan yang menawarkan berbagai jenis layanan kesehatan, termasuk salah satunya Layanan Kesehatan Anak—terdiri dari khitan, imunisasi, dan poli anak.

Poli anak di KMC didukung oleh tim dokter spesialis anak profesional yang ramah dan berpengalaman di bidangnya. Selain itu, klinik ini juga menyediakan ruang poli yang nyaman agar Anda dan buah hati mendapat pengalaman berobat yang menyenangkan.

Bagaimana? Tertarik? Yuk, segera temui dokter anak Bandung di Klinik Mutiara Cikutra yang berlokasi di Jl. Cikutra No. 115 Blok A-B, Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat.

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/