Klinik Mutiara Cikutra

Si Kecil Demam Setelah Lebaran, Apa Penyebabnya? Ini Penjelasan dan Rekomendasi Dokter Anak Bandung untuk Penanganan Terbaik

Si Kecil Demam Setelah Lebaran, Apa Penyebabnya? Ini Penjelasan dan Rekomendasi Dokter Anak Bandung untuk Penanganan Terbaik

Si Kecil Demam Setelah Lebaran, Apa Penyebabnya? Ini Penjelasan dan Rekomendasi Dokter Anak Bandung untuk Penanganan Terbaik

demam anak
Sumber : Envanto

Momen Lebaran merupakan salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu banyak orang. Namun, setelah merayakannya bersama teman dan kerabat, tentu saja Anda harus kembali menata rutinitas harian seperti sedia kala. Ini juga termasuk rutinitas untuk si kecil.

Sayangnya, tak jarang muncul kekhawatiran tersendiri ketika anak tiba-tiba tidak fit hingga bahkan demam usai Lebaran. Mungkin Anda pun bertanya-tanya mengapa si kecil rentan sakit pada periode ini?

Tenang, jangan panik. Anda harus memahami situasinya terlebih dahulu. Oleh karena itu, artikel ini hadir untuk membantu Anda dengan menghadirkan penjelasan terkait hal tersebut.

Mulai dari penyebab, langkah apa yang harus dilakukan, hingga rekomendasi dokter anak Bandung berkualitas untuk penanganan terbaik jika memang diperlukan, semua ada di sini.

Penyebab Umum Anak Demam Setelah Lebaran

Sumber : Envato

Meski Lebaran merupakan momen menyenangkan yang penuh sukacita, sering kali kita justru menjumpai buah hati yang mengalami gangguan kesehatan seperti demam setelahnya.

Sebenarnya, hal ini termasuk wajar dan penyebabnya pun bisa cukup beragam. Mulai dari pola makan yang berubah drastis usai berpuasa di bulan Ramadan, kurangnya istirahat—misalnya karena terlalu banyak bermain, udara di lingkungan baru yang tidak cocok (saat mudik), dan lain-lain.

Belum lagi jika anak pada dasarnya memang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Jika kondisinya demikian, maka tak heran apabila mereka menjadi lebih rentan terpapar virus atau sejenisnya yang dapat memicu demam.

Dalam sebuah siaran virtual IDAI yang dilansir dari laman Detik, dr. Anggi mengimbau orang tua agar melakukan pengecekan suhu tubuh anak usai libur Lebaran. Menurutnya, suhu tubuh anak yang normal berkisar pada 38,8°C. Jadi, jika lebih dari itu, Anda harus bersikap waspada.

Pasalnya, demam bisa saja muncul sebagai gejala penyakit infeksi. Meskipun sebenarnya, gejala tersebut bisa juga terjadi karena tubuh anak memang hanya sedang beradaptasi kembali dengan rutinitas normal mereka.

Selain itu, Lebaran identik dengan liburan dan momen mudik ke kampung halaman. Aktivitas ini sejatinya juga dapat meningkatkan risiko si kecil terjangkit penyakit-penyakit tertentu yang ditandai dengan gejala awal seperti demam.

Nah, secara singkat, berikut beberapa penyebab umum anak demam setelah momen Lebaran:

  • Perubahan pola makan, tidur, dan aktivitas.
  • Paparan lingkungan baru yang kurang cocok.
  • Infeksi virus/bakteri setelah berkumpul di keramaian.

Apa yang Harus Dilakukan ketika Anak Demam Setelah Lebaran?

demam anak
Sumber : Envanto

Pertama-tama, Anda harus tetap tenang dalam menyikapi situasi ini. Namun, di saat yang bersamaan, Anda juga tetap bersikap waspada dan tidak menyepelekan gejala demam pada anak.

Sebab, pada dasarnya, demam merupakan respons alami yang akan terjadi ketika tubuh terinfeksi. Biasanya, hal ini memang cukup meningkat setelah periode liburan, termasuk libur Lebaran.

Jadi, Anda dapat fokus pada penanganan awal yang meliputi pemantauan kondisi anak secara menyeluruh. Mulai dari suhu tubuh, asupan cairan, asupan makanan, hingga tingkat aktivitas anak.

Pastikan mereka mendapatkan istirahat yang cukup dan cairan yang memadai guna mencegah dehidrasi. Selain itu, Anda juga bisa menggunakan obat penurun panas dengan dosis yang sesuai dengan usia anak.

Namun, jika kondisi anak tak kunjung membaik alias demam tidak turun, segera periksakan mereka ke dokter untuk diagnosis akurat dan penanganan terbaik.

Rekomendasi Dokter Anak Bandung Terbaik untuk Penanganan Anak Demam

konsultasi demam anak

Nah, bagi Anda warga Bandung dan sekitarnya, salah satu rekomendasi layanan dokter anak Bandung terbaik untuk penanganan anak demam dapat Anda temukan di Klinik Mutiara Cikutra (KMC).

Ini adalah klinik berkualitas yang ramah anak dengan tempat yang senyaman rumah sendiri. Klinik ini pun telah mengantongi izin resmi Kementerian Kesehatan sehingga Anda tidak perlu ragu akan keamanan maupun kualitasnya.

Di Klinik Mutiara Cikutra tersedia berbagai jenis layanan kesehatan, termasuk layanan dokter anak Bandung yang profesional dan berpengalaman di bidangnya. Mereka siap siaga membantu Anda dan si kecil kesayangan kapan pun Anda butuh.

Jika tertarik, silakan datang langsung ke klinik utama Mutiara Cikutra yang berlokasi di Bandung. Tepatnya di Jl. Cikutra No. 115 Blok A-B, Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Bandung, Jawa Barat.

Yuk, kunjungi sekarang juga dan dapatkan pengalaman pemeriksaan terbaik bersama dokter anak Bandung KMC!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Gejala dan Penanganan Demam Tifoid

Gejala dan Penanganan Demam Tifoid

Gejala dan Penanganan Demam Tifoid

Demam tifoid atau yang lebih sering dikenal dengan tipes sering dikaitkan dengan kualitas higiene dan sanitasi lingkungan yang kurang terjaga kebersihannya. Di Indonesia, angka kejadian demam tifoid sering terjadi khususnya pada orang dewasa. Yuk simak ulasan berikut ini tentang gejala dan cara penanganan demam tifoid, Pearls!

 

GEJALA

Gejala yang dapat muncul pada anak yang mengalami tifoid antaralain :

  •   Demam turun naik terutama sore dan malam hari
  •   Nyeri kepala
  •   Gangguan saluran pencernaan seperti diare, sulit BAB atau konstipasi, mual, muntah, nyeri perut atau terkadang bisa muncul BAB berdarah
  •   Gejala lain dapat muncul seperti nyeri otot, pegal-pegal, tidak nafsu makan, sulit tidur
  •   Pada kasus demam tifoid berat, dapat terjadi penurunan kesadaran atau kejang

FAKTOR RISIKO

Faktor resiko penyebab anak dapat mengalami demam tifoid antaralain :

  •   Jarang mencuci tangan
  •   Konsumsi makanan yang terkontaminasi, tercemar debu, sampah, atau dihinggapi lalat
  •   Adanya wabah demam tifoid di sekitar tempat tinggal
  •   Kebersihan lingkungan yang kurang baik
  •   Kondisi daya tahan tubuh rendah

 

DIAGNOSIS

Untuk mendiagnosis apakah ada demam tifoid, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mendukung diagnosis ke arah tipes atau demam tifoid, yiatu tes darah lengkap, tes serologi dengan Tubex yang dapat mendeteksi bakteri Salmonella typhi, Tes Widal, atau kultur bakteri Salmonella typhi.

PENANGANAN

Langkah penanganan pada anak yang mengalami deman tifoid, pearls bisa lakukan ini :

  • Lakukan tirah baring dengan istirahat yang cukup
  • Menjaga kebutuh asupan cairan
  • Cukupi kebutuhan nutrisi dengan makanan bergizi seimbang
  • Konsumsi obat antibiotik sesuai dengan anjuran dokter
  • Konsumsi obat sesuai dengan gejala seperti obat demam dan untuk mengurangi keluhan saluran pencernaan

Pearls yang mengalami tipes atau demam tifoid dapat melakukan perawatan di rumah apabila dengan gejala yang ringan, kesadaran baik, dan dapat makan serta minum dengan baik. 

Sekian informasi dan penjelasan tentang penyakit tipes. Semoga bermanfaat dan tidak perlu panik ya, Pearls!

 

REFERENSI :

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) (2017) ‘Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer’, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, pp. 162, 364.

Mengenal Penyakit Difteri Pada Anak

Mengenal Penyakit Difteri Pada Anak

Mengenal Penyakit Difteri Pada Anak

Penyakit difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphteria yang menyerang selaput lendir di hidung dan tenggorokan. Difteri dapat menular dengan cepat melalui kontak fisik atau lewat percikan air liur dari batuk ataupun bersin atau lewat sentuhan langsung pada luka penderita difteri. Seorang anak berpotensi untuk tertular penyakit difteri terutama apabila belum mendapatkan imunisasi. Yuk, simak lebih lanjut ulasan tentang penyakit difteri pada anak!

GEJALA

Gejala yang dapat muncul pada anak yang terkena difteri sebagai berikut :

  • Demam
  • Sakit tenggorokan
  • Kedua sisi leher bengkak (bull neck)
  • Hidung meler
  • Nyeri menelan
  • Suara serak
  • Sakit kepala
  • Detak jantung meningkat

DIAGNOSIS

         Untuk menentukan seorang anak terkena penyakit difteri, dokter akan melakukan pemeriksaan berdasarkan gejala klinik yang muncul, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang dengan swab tenggorok, kultur, atau PCR. Pada pemeriksaan fisik tonsil dapat ditemukan tonsil membengkak ditutupi oleh bercak putih kotor yang makin lama makin meluas. Kasus konfirmasi difteri didapatkan hasil kultur atau PCR dengan bakteri Corynebacterium diphteria positif.

PENCEGAHAN

         Pencegahan agar seorang anak tidak mengalami penyakit difteri yaitu dengan melakukan vaksin difteri  yang dapat diberikan dalam bentuk kombinasi DPT-HB-Hib. Vaksin ini dapat diberikan 3 kali yaitu saat berusia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. Kemudian untuk selanjutnya diberikan saat anak berusia 18 bulan dan dalam bentuk Td diberikan saat kegiatan bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

 

TATALAKSANA

Langkah penanganan pada anak yang mengalami difteri sebagai berikut :

  1. Istirahat cukup
  2. Makan makanan lunak dan hindari makanan yang dapat mengiritasi
  3. Jaga kebersihan mulut
  4. Menggunakan obat kumur antiseptik

Dokter akan memberikan pengobatan pada pasien anak dengan difteri dengan 2 macam obat yaitu dengan antitoksin untuk menetralisir racun dari difteri di dalam tubuh dan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri difteri. Anak yang terdiagnosis difteri harus dilakukan perawatan di rumah sakit untuk mencegah komplikasi akibat difteri yang dapat terjadi seperti gangguan irama jantung, otot jantung, atau gangguan saraf.

 

REFERENSI :

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) (2017) ‘Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer’, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, pp. 162, 364.

MENGENAL KEJANG DEMAM PADA ANAK

MENGENAL KEJANG DEMAM PADA ANAK

MENGENAL KEJANG DEMAM PADA ANAK

Kejang demam merupakan suatu bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (di atas 38°C) pada anak berusia 6 bulan – 5 tahun dan tidak disebabkan oleh proses intrakranial (seperti infeksi atau radang otak). (Pusponegoro, Widodo and Ismael, 2006)

 Penanganan saat anak kejang 

Beberapa hal yang harus dilakukan oleh Moms saat kejang terjadi di rumah :

  1.   Tetap tenang dan jangan panik
  2.   Bawa ke lokasi aman
  3.   Taruh anak di tempat beralas datar
  4.   Longgarkan pakaian anak terutama di sekitar leher
  5.   Miringkan kepala, badan, pinggul ke satu sisi (kiri atau kanan)
  6.   Ukur suhu, observasi, dan catat lama dan bentuk kejang
  7.   Tetap bersama pasien selama kejang
  8.   Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut anak pada saat kejang terjadi
  9.   Masukkan obat anti kejang dari anus sesuai dengan dosis yang dianjurkan oleh dokter, obat ini hanya boleh diberikan 1x di rumah. Dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti. Jika kejang sudah berhenti setelah pemberian obat anti kejang, maka Moms segera bawa anak ke IGD Rumah Sakit terdekat

 Pemeriksaan pada anak kejang

Beberapa pemeriksaan tambahan yang dilakukan oleh dokter saat anak datang dengan riwayat kejang demam :

  1. Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain misalnya penyakit saluran pencernaan disertai dehidrasi dan demam. Pemeriksaan labora- torium yang dapat dikerjakan misalnya darah perifer, elektrolit dan gula darah.

  2. Pemeriksaan cairan serebrospinal dapat dilakukan pada pasien yang dicurigai mengalami peradangan selaput otak (meningtitis). Dokter juga akan melakukan pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) untuk memperkirakan kemungkinan terjadi epilepsi pada pasien kejang demam.

Faktor risiko

Faktor risiko kemungkinan berulangnya kejang demam :

  1. Riwayat kejang demam dalam keluarga
  2. Usia kurang dari 12 bulan
  3. Suhu yang rendah saat terjadi kejang
  4. Cepatnya kejang setelah demam

Moms tetap tenang ya jika anak mengalami kejang demam. Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam belum pernah dilaporkan. Perkembangan mental dan saraf pasien kejang demam juga cenderung normal. Kejang demam yang menyebabkan kematian juga belum pernah dilaporkan. Tetap sehat selalu untuk si Kecil, Moms!

REFERENSI :

Pusponegoro, H., Widodo, D. P. and Ismael, S. (Ikatan D. A. I. (2006) ‘Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam’, Ikatan Dokter Anak Indonesia, pp. 1–23. Available at: http://spesialis1.ika.fk.unair.ac.id/wp-content/uploads/2017/03/Konsensus-Penatalaksanaan-Kejang-Demam.pdf.