Klinik Mutiara Cikutra

Kondisi Anak yang Tidak Disarankan Melakukan Imunisasi

Kondisi Anak yang Tidak Disarankan Melakukan Imunisasi

Kondisi Anak yang Tidak Disarankan Melakukan Imunisasi

dokter anak
Sumber : Envanto

Salah satu langkah penting dalam melindungi anak dari berbagai penyakit berbahaya adalah dengan melakukan imunisasi. Namun, sama halnya dengan tindakan medis lainnya, upaya ini juga harus benar-benar memperhatikan kondisi kesehatan anak secara menyeluruh agar tetap aman dan hasilnya maksimal.

Nah, dalam artikel ini, Anda bisa mengetahui beberapa kondisi anak yang tidak disarankan untuk diimunisasi atau sebaiknya ditunda dulu. Apa saja kira-kira? Berikut informasi lengkapnya. Yuk, simak!

Imunisasi, Definisi dan Manfaatnya

dokter anak
Sumber : Envanto

Imunisasi adalah pemberian vaksin yang bertujuan untuk merangsang kekebalan tubuh. Dengan memberikan vaksin kepada anak, sistem imun mereka diharapkan meningkat sehingga bisa kebal terhadap penyakit-penyakit tertentu.

Dengan kata lain, vaksin yang diberikan berperan dalam menciptakan antibodi, yaitu zat yang bertugas melawan infeksi. Hasilnya, anak akan kebal terhadap penyakit-penyakit tertentu. Kalaupun di kemudian hari mereka sakit, maka setidaknya gejalanya tidak akan separah anak yang tidak melakukan imunisasi sama sekali.

Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa manfaat dari imunisasi:

  • Mencegah penyakit menular berbahaya.
  • Mengurangi risiko komplikasi dan kematian.
  • Menurunkan angka kejadian penyakit dan kecacatan.
  • Menghemat waktu dan biaya pengobatan jangka panjang.
  • Membantu membentuk kekebalan individu dan kelompok (herd immunity), sehingga dapat melindungi diri sendiri serta masyarakat dari wabah penyakit.

Kondisi Anak Tidak Disarankan Imunisasi

dokter anak
Sumber : Envanto

Berikut beberapa kondisi anak yang tidak disarankan/dibolehkan atau ditunda dulu untuk diimunisasi:

Sistem Kekebalan Tubuh Sedang Menurun

Imunisasi tidak disarankan dilakukan ketika sistem kekebalan tubuh anak sedang menurun. Hal ini biasanya terjadi pada anak yang menjalani pengobatan tertentu setelah transplantasi organ, kemoterapi, mengidap HIV, dan lain-lain.

Alasannya, memberikan vaksin hidup (meski sudah dilemahkan) pada anak dengan sistem imun yang lemah justru dapat membuat virus/bakteri hidup tersebut berkembang biak hingga menyebabkan infeksi serius.

Memiliki Gangguan Saraf Progresif

Anak dengan gangguan saraf progresif umumnya tidak dianjurkan untuk menerima imunisasi hingga kondisi mereka stabil. Sebab, sistem saraf yang belum terkendali dapat berisiko mengalami kerusakan lebih lanjut jika tubuh bereaksi terhadap vaksin.

Gangguan saraf progresif seperti epilepsi yang tidak terkontrol dapat memengaruhi fungsi otak, dan demam atau respon imun pasca vaksinasi bisa semakin memperburuk gejala tersebut.

Selain itu, pemberian vaksin yang mengandung virus hidup juga berpotensi memicu reaksi yang lebih kuat dan berisiko pada anak dengan masalah neurologis aktif. Oleh karena itu, imunisasi disarankan ditunda terlebih dahulu, setidaknya sampai gangguan saraf pada anak benar-benar teratasi.

Menderita Penyakit Kronis

Jika anak menderita penyakit akut atau kronis seperti kanker dan lain sejenisnya, imunisasi harus ditunda dulu sampai keadaan mereka benar-benar membaik. Jika tetap dipaksakan, maka kemungkinan besar vaksin tidak akan bisa bekerja secara optimal. 

Sebab, pemberian vaksin ke dalam tubuh anak bertujuan untuk merangsang sistem imun agar lebih kebal. Di sisi lain, ketika anak menderita penyakit kronis, respons imun mereka terhadap vaksin justru menurun.

Mengalami Alergi Parah

Apabila si kecil pernah mengalami reaksi alergi yang parah akibat imunisasi, sebaiknya Anda tidak melanjutkan tahap selanjutnya sebelum berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter.

Selain alergi, dalam sejumlah kasus, beberapa anak bahkan bisa mengalami reaksi lain seperti kejang setelah diimunisasi. Terlebih jika mereka menerima vaksin yang memang dapat memicu demam ringan sebagai efek sampingnya.

Demam Tinggi

Anak yang mengalami demam ringan tetap diperbolehkan menerima vaksin. Namun, lain halnya jika anak demam tinggi dengan suhu lebih dari 38,3 derajat Celcius. Apabila buah hati kesayangan Anda mengalami hal ini, terlebih jika memang memiliki riwayat kejang demam, maka imunisasi sebaiknya ditunda dulu.

Rekomendasi Layanan Imunisasi Berkualitas

Bagi Anda yang ingin memberikan pengalaman imunisasi terbaik untuk si kecil, pastikan Anda memilih fasilitas kesehatan berkualitas seperti KMC alias Klinik Mutiara Cikutra.

Ini adalah klinik kesehatan yang telah terdaftar resmi dan berizin Kementerian Kesehatan. Jadi, dipastikan sangat aman dan sesuai standar yang berlaku. Terlebih lagi, Klinik Mutiara Cikutra didukung oleh dokter serta tim medis profesional yang berpengalaman di bidangnya.

Selain itu, klinik ini juga menawarkan tempat senyaman rumah sendiri dan pelayanan yang seramah keluarga. Cocok bagi Anda yang memprioritaskan keamanan, sekaligus kenyamanan.

Di Klinik Mutiara Cikutra tersedia layanan imunisasi yang lengkap, baik imunisasi wajib dari pemerintah maupun imunisasi tambahan. Jadi, yuk, jadwalkan kunjungan Anda bersama si kecil sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Mengenal Imunisasi BCG, Bisa Sebabkan Bisulan pada Anak?

Mengenal Imunisasi BCG, Bisa Sebabkan Bisulan pada Anak?

Mengenal Imunisasi BCG, Bisa Sebabkan Bisulan pada Anak?

 

Imunisasi adalah proses pemberian vaksin ke dalam tubuh yang tujuannya untuk merangsang imunitas atau sistem kekebalan tubuh agar ke depannya kebal terhadap berbagai jenis penyakit.

Jenis-jenis imunisasi sebenarnya cukup banyak dan beragam. Salah satunya adalah imunisasi BCG. Apa itu? Benarkah efek sampingnya dapat menyebabkan munculnya bisul pada anak? Jika iya, apakah berbahaya?

Tenang, jangan panik dulu. Sebab, artikel ini akan memberikan Anda informasi lengkap terkait imunisasi BCG, sekaligus rekomendasi klinik pilihan berkualitas di akhir artikel. Jadi, yuk, simak hingga akhir!

Mengenal Imunisasi BCG

imunisasi

Imunisasi BCG termasuk salah satu imunisasi dasar untuk anak di Indonesia. Biasanya diberikan ketika anak masih bayi dengan rentang usia 1-3 bulan, seringnya bersamaan imunisasi polio 1. Nah, di usia di usia-usia tersebut, sistem imun bayi sudah mulai matang.

Jadi, secara umum, vaksin BCG memang hanya dianjurkan untuk diberikan kepada bayi. Namun, dengan pertimbangan khusus, anak yang lebih besar juga bisa mendapat vaksin ini jika memiliki risiko tinggi tertular tuberkulosis.

Adapun untuk efeknya, vaksin BCG telah terbukti sangat efektif pada bayi. Sementara itu, untuk anak yang lebih besar, terlebih remaja dan orang dewasa, tingkat keberhasilannya bisa lebih bervariasi.

Sesuai namanya, imunisasi BCG adalah imunisasi yang menggunakan vaksin BCG. BCG sendiri merupakan kependekan dari Bacillus Calmette-Guerin, yaitu vaksin dengan kandungan bakteri hidup Mycobacterium bovis yang sudah dilemahkan.

Vaksin ini diberikan dengan tujuan untuk mencegah penyakit tuberkulosis (TB/TBC) dan juga radang otak akibat TB. Namun, apabila sudah telanjur terpapar, maka vaksin BCG bisa membantu mencegah bentuk penyakit TB yang parah, misalnya seperti meningitis TB.

Namun, perlu Anda ketahui bahwa pemberian vaksin BCG pada bayi disarankan ditunda terlebih dahulu jika mereka mengalami kondisi-kondisi tertentu, seperti:

  • Kondisi kesehatan bayi tidak stabil.
  • Bayi memiliki berat tubuh (bobot) di bawah 2,5 kilogram.
  • Bayi sedang demam atau menderita penyakit berat lainnya.
  • Bayi dilahirkan oleh seorang ibu yang positif HIV dan hasil tes HIV pada bayi hasilnya belum diketahui.

Proses Munculnya Bisul Setelah Imunisasi BCG, Bahayakah?

imunisasi anak
Sumber Envanto

Sama halnya dengan imunisasi lain pada umumnya, imunisasi BCG juga dapat menimbulkan reaksi tertentu alias efek samping. Adapun efek samping tersebut, yaitu munculnya bisul di area luka bekas suntikan. Tepatnya di sekitar area lengan atas bagian kanan.

Proses munculnya bisul ini dimulai dari bekas suntikan yang awalnya kemungkinan hanya terlihat seperti bintik merah biasa. Namun, bekas suntikan tersebut lambat laun akan berubah menjadi luka. Luka inilah yang kemudian dapat berkembang dengan isian nanah hingga akhirnya membentuk benjolan yang disebut bisul.

Ketika hal ini terjadi, biasanya sebagian orang tua akan merasa panik dan khawatir. Banyak di antara mereka yang lalu bertanya-tanya apakah hal tersebut merupakan hal normal atau justru tanda bahaya bagi buah hati kesayangan. Lantas, apa jawabannya?

Apabila si kecil bisulan setelah menerima vaksin BCG—yang biasanya muncul dalam waktu 2-12 minggu pascaimunisasi, Anda tidak perlu khawatir. Pasalnya, reaksi tersebut merupakan hal wajar setelah pemberian imunisasi ini. Tanpa penanganan khusus pun, bisul bisa sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Jadi, benjolan bisul yang berisi nanah tersebut nantinya akan mengering dan hanya meninggalkan bekas luka atau jaringan parut berdiameter sekitar 2-6 milimeter di area kulit yang telah disuntik.

Rekomendasi Klinik dengan Layanan Imunisasi Berkualitas

Setiap orang tua tentunya menginginkan semua hal terbaik untuk buah hati kesayangan, termasuk dalam persoalan imunisasi. Nah, bagi Anda yang mencari rekomendasi klinik kesehatan berkualitas dengan layanan imunisasi terbaik, rekomendasi yang dapat Anda pertimbangkan adalah Klinik Mutiara Cikutra (KMC).

KMC adalah klinik kesehatan yang telah terdaftar resmi dan memiliki izin Kementerian Kesehatan. Jadi, soal kualitas, tak perlu diragukan lagi. Pasalnya, Klinik Mutiara Cikutra berdedikasi memberikan pelayanan terbaik yang seramah keluarga dan tempat yang nyaman senyaman rumah sendiri.

Menyediakan berbagai layanan kesehatan, salah satunya ada layanan imunisasi. Mulai dari imunisasi wajib program pemerintah hingga imunisasi tambahan, semuanya tersedia lengkap di KMC.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, jadwalkan kunjungan Anda ke KMC bersama si kecil sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Imunisasi Polio: Hal-Hal yang Perlu Diketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Melakukannya

Imunisasi Polio: Hal-Hal yang Perlu Diketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Melakukannya

Imunisasi Polio: Hal-Hal yang Perlu Diketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Melakukannya

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Pemberian imunisasi secara umum merupakan salah satu upaya untuk melindungi tubuh dari berbagai jenis penyakit, tak terkecuali imunisasi polio. Polio (poliomyelitis) sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio.

Penyakit polio menyerang sistem saraf pusat (otak serta sumsum tulang belakang) dan dapat merusak sistem saraf motorik. Akibatnya, seseorang yang terjangkit penyakit polio akan mengalami kelumpuhan anggota gerak, bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Nah, terkait imunisasi polio ini, berikut hal-hal yang perlu Anda ketahui. Di sini, Anda juga akan tahu rekomendasi dokter anak berkualitas untuk melakukannya. Yuk, simak!

Mengenal Imunisasi Polio dan Jenisnya

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Sesuai namanya, imunisasi polio adalah imunisasi yang menggunakan vaksin polio. Ini termasuk salah satu imunisasi dasar yang berlaku di Indonesia. Tujuannya adalah memperkuat sistem imun tubuh seseorang agar kebal terhadap virus tersebut.

Imunisasi polio menjadi imunisasi wajib bagi anak Indonesia. Tindakan ini merupakan langkah preventif untuk melindungi anak sejak dini dari serangan virus polio yang berbahaya.

Terlebih lagi, kebanyakan anak-anak berusia di bawah 5 tahun sangat rentan tertular penyakit polio. Biasanya, virusnya menular melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Selain itu, virus polio juga dapat menyebar melalui makanan atau air yang telah terkontaminasi feses penderita.

Adapun untuk jenisnya, imunisasi polio terbagi atas dua: Oral Polio Vaccine (OPV) dan Inactivated Polio Vaccine (IPV). OPV juga dikenal sebagai “vaksin polio suntik”, sedangkan IPV sebutan lainnya adalah “vaksin polio oral”.

Inactivated Polio Vaccine (IPV)

Ini adalah pemberian vaksin polio melalui suntikan. Jadi, virus polio yang telah mati/tidak aktif diinjeksi ke lengan atas atau paha anak. Namun, vaksin ini hanya membentuk kekebalan dalam darah, tetapi tidak pada usus.

Alhasil, masih ada kemungkinan anak tetap dapat terserang penyakit polio lantaran virus yang bisa berkembang bebas di usus. Oleh karena itu, pemberian IPV perlu didampingi dengan OPV.

Oral Polio Vaccine (OPV)

Ini adalah pemberian vaksin melalui oral. Dengan kata lain, vaksin diberikan dengan cara diteteskan langsung ke mulut anak. Berbeda dengan IPV yang menggunakan virus polio yang telah dinonaktifkan, OPV menggunakan virus polio yang masih aktif tetapi sudah dilemahkan. Jadi, imunisasi ini tetap aman dan tidak berbahaya.

Tujuan pemberian OPV untuk membentuk zat kekebalan tubuh (antibodi) di dalam usus, tak hanya darah. Jadi, dengan IPV dan OPV, virus polio yang berkembang di usus dan darah bisa terbunuh sekaligus. Hasilnya? Anak pun akan terhindar dari penyakit polio.

Kapan Anak Harus Diberikan Imunisasi Polio?

Berdasarkan jadwal imunisasi polio dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin polio umumnya diberikan saat anak masih bayi sebanyak 4 kali. Waktunya adalah ketika bayi baru lahir serta ketika mereka menginjak usia 2, 3, dan 4 bulan.

Untuk bayi yang baru lahir, dokter menganjurkan imunisasi polio pertama berupa OPV. Sementara itu, IPV bisa diberikan pada imunisasi selanjutnya, meski bayi tetap bisa diberikan OPV kembali.

Sebagai tambahan, anak juga bisa mendapat vaksin booster saat mereka memasuki usia 18-24 bulan dan 5 tahun. Hal ini bertujuan untuk menjaga sekaligus memperkuat kekebalan tubuh terhadap virus polio yang kemungkinan sudah mulai menurun.

Hal-Hal yang Perlu Anda  Ketahui dan Rekomendasi Dokter Anak untuk Imunisasi Polio

Meski sangat bermanfaat, Anda perlu tahu bahwa imunisasi polio tetap memiliki risiko efek samping. Beberapa di antaranya, yaitu:

  • Demam ringan.
  • Rasa nyeri di bekas suntikan.
  • Pengerasan kulit di area suntikan.

Selain itu, Anda juga harus memperhatikan reaksi alergi anak. Jika sebelumnya anak pernah mengalami alergi berat terhadap IPV, maka sebaiknya mereka tidak menerimanya kembali pada imunisasi selanjutnya .

Nah, bagi Anda yang ingin memberikan pengalaman imunisasi terbaik untuk buah hati kesayangan, Klinik Mutiara Cikutra bisa menjadi pilihan utama Anda. Sebab, klinik ini menyediakan berbagai layanan kesehatan, termasuk layanan dokter anak berkualitas.

Imunisasi lengkap dengan dokter anak di KMC dipastikan aman dan nyaman bagi si kecil. Pasalnya, Klinik Mutiara Cikutra berdedikasi memberikan pelayanan terbaik yang seramah keluarga dan tempat yang senyaman rumah sendiri.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, jadwalkan kunjungan Anda bersama si kecil ke dokter anak KMC sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Imunisasi: Definisi, Jadwal IDAI, dan Daftar Penyakit yang Dapat Dicegahnya

Imunisasi: Definisi, Jadwal IDAI, dan Daftar Penyakit yang Dapat Dicegahnya

Sumber Envanto
imunisasi
Sumber Envanto

Imunisasi: Definisi, Jadwal IDAI, dan Daftar Penyakit yang Dapat Dicegahnya

 

Imunisasi merupakan salah satu upaya kesehatan masyarakat yang efektif dan efisien dalam meningkatkan kualitas hidup serta menurunkan jumlah kasus penyakit maupun risiko kematian.

Dalam artikel ini, Anda akan menemukan sejumlah informasi menarik terkait imunisasi. Mulai dari definisi, daftar penyakit yang dapat dicegahnya, hingga jadwal lengkap imunisasi  IDAI. Yuk, simak!

Definisi Imunisasi dan Daftar Penyakit yang Dapat Dicegahnya

Sumber Envanto

Imunisasi adalah sebuah upaya pengebalan tubuh anak terhadap berbagai penyakit melalui penyuntikan vaksin. Kalaupun terjangkit, maka akan sebatas sakit ringan saja. Selain itu, imunisasi juga dapat memberikan kontribusi terhadap pembentukan kekebalan kelompok (herd immunity) guna mencegah wabah penyakit di masyarakat.

Nah, berikut beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi:

  • Difteri
  • Pertusis
  • Tetanus
  • Hepatitis B
  • Tuberkulosis
  • Poliomyelitis (Penyakit Polio)
  • Pneumonia dan meningitis yang disebabkan oleh Haemophilus Influenza tipe b (Hib), dan masih banyak lagi.

Jadwal Imunisasi IDAI 2024

 

Berikut jadwal lengkap imunisasi IDAI terbaru (2024) berdasarkan usia anak dan jenis-jenis vaksinnya.

Jadwal Imunisasi Berdasarkan Usia Anak

  • 0 Bulan (Saat Lahir)
    • Hepatitis B 0
    • Polio 0

 

  • <1 Bulan
    • BCG

 

  • 2 Bulan
    • DTP 1
    • Polio 1
    • Hepatitis B 1
    • Hib 1
    • PCV 1
    • Rotavirus 1

(Untuk DTP 1, Polio 1, Hepatitis B 1, Hib 1, dan PCV bisa dengan vaksin kombinasi Combo DTP 1).

 

  • 3 Bulan
    • DTP 2
    • Polio 2
    • Hepatitis B 2
    • Hib 2

(Untuk seluruh vaksin ini bisa menggunakan vaksin kombinasi Combo DTP 2).

 

  • 4 Bulan
    • DTP 3
    • Polio 3
    • Hepatitis B 3
    • Hib 3
    • PCV 2
    • Rotavirus 2

(Untuk DTP 3, Polio 3, Hepatitis B 3, dan Hib 3 gunakan vaksin kombinasi Combo DTP 3).

 

  • 6 Bulan
    • PCV 3
    • Rotavirus 3
    • Influenza 1
    • (+) HFMD (Flu Singapore) 1

 

  • 7 Bulan
    • Influenza 2
    • (+) HFMD (Flu Singapore) 2

 

  • 9 Bulan
    • MR 1
    • Japanese Encephalitis (JE) 1

 

  • 12 Bulan
    • PCV 4
    • Varicella 1
    • Hepatitis A 1

Jadwal Imunisasi IDAI 2024

  • 14 Bulan
    • Varicella 2

 

  • 18 Bulan
    • DTP 4
    • Polio 4
    • Hepatitis B 4
    • Hib 4
    • MMR 1
    • Hepatitis A 2

(Untuk DTP 4, Polio 4, Hepatitis B 4, dan Hib 4 bisa menggunakan vaksin kombinasi Combo DTP 4).

 

  • 24 Bulan
    • Japanese Encephalitis (JE) 2
    • Tifoid 1
    • Influenza (tahunan)

 

  • 3 – 4 Tahun
    • Influenza (tahunan)

 

  • 5 Tahun
    • DTP 5
    • Polio 5
    • MMR 2
    • Influenza (tahunan)
    • Tifoid (3 tahunan)

(Untuk DTP 5 dan Polio 5 bisa menggunakan vaksin kombinasi Combo DTP 5).

 

  • 6 Tahun
    • Influenza (tahunan)
    • Demam Berdarah 1

 

  • 6 Tahun 3 Bulan
    • Demam Berdarah 2

 

  • 7 – 8 Tahun
    • Influenza (tahunan)
    • Tifoid (3 tahunan)

 

  • 9 Tahun
    • HPV 1
    • Influenza (tahunan)

 

  • 9,5 Tahun
    • HPV 2

 

  • 10 Tahun
    • DTP 6 (dalam bentuk Tdap)
    • Influenza (tahunan)

 

  • 11 – 18 Tahun
    • Influenza (ulangan tiap tahun)
    • Tifoid (ulangan tiap 3 tahun)

 

Jadwal Imunisasi Berdasarkan Jenis-Jenis Vaksin

  • Vaksin Hepatitis B (Hep B) – 5 Dosis:
    • Hep B 0: Saat lahir
    • Hep B 1: 2 bulan
    • Hep B 2: 3 bulan
    • Hep B 3: 4 bulan
    • Hep B 4: 18 bulan

(Hep B 1, 2, 3, & 4 diberikan dengan vaksin lain dalam bentuk Combo DTP)

 

  • Vaksin Polio – 5 Dosis:
    • Polio 0: Saat lahir
    • Polio 1: 2 bulan
    • Polio 2: 3 bulan
    • Polio 3: 4 bulan
    • Polio 4 : 18 bulan

(Polio 1, 2, 3, & 4 diberikan dengan vaksin lain dalam bentuk Combo DTP)

 

  • Vaksin BCG – 1 Dosis:
    • BCG: Setelah lahir, sebelum usia 1 bulan

 

  • Vaksin DTP – 6 Dosis:
    • DTP 1: 2 bulan
    • DTP 2: 3 atau 4 bulan
    • DTP 3: 4 atau 6 bulan
    • DTP 4: 18 bulan
    • DTP 5: 5 – 7 tahun
    • DTP 6: 10 – 18 tahun

 

  • Vaksin Hib – 4 Dosis:
    • Hib 1: 2 bulan
    • Hib 2: 3 atau 4 bulan
    • Hib 3: 4 atau 6 bulan
    • Hib 4: 18 bulan

(Hib 1, 2, 3, & 4 diiberikan dengan vaksin lain dalam bentuk Combo DTP)

 

  • Vaksin PCV – 4 Dosis:
    • PCV 1: 2 bulan
    • PCV 2: 4 bulan
    • PCV 3: 6 bulan
    • PCV 4: 12 bulan

 

  • Vaksin Rotavirus – 3 Dosis:
    • Rotavirus 1: 2 bulan
    • Rotavirus 2: 4 bulan
    • Rotavirus 3: 6 bulan

(Untuk vaksin Rotavirus jenis pentavalen).

Jadwal Imunisasi Berdasarkan Jenis-Jenis Vaksin 

  • Vaksin Influenza – 2 Dosis:
    • Influenza 1: 6 bulan
    • Influenza 2: 7 bulan

(Selanjutnya diulang 1 dosis setiap tahun).

 

  • Vaksin MR/MMR – 3 Dosis:
    • MR: 9 bulan
    • MMR 1: 18 bulan
    • MMR 2: 5 tahun

 

  • Vaksin Japanese Encephalitis – 2 Dosis:
    • JE 1: 9 bulan
    • JE 2: 2 tahun

 

  • Vaksin Varicella – 2 Dosis:
    • Varicella 1: 12 bulan
    • Varicella 2: 14 bulan

 

  • Vaksin Hepatitis A – 2 Dosis:
    • Hepatitis A 1: 12 bulan
    • Hepatitis A 2: 18 bulan

 

  • Vaksin Tifoid – 1 Dosis:
    • Tifoid: Usia 2 tahun, selanjutnya diulang 1 dosis per 3 tahun.

 

  • Vaksin HPV – 2 atau 3 Dosis

Usia 9 – 14 tahun:

  • HPV 1: 9 – 14 tahun
  • HPV 2: 6 bulan dari dosis 1

Usia >15 tahun

  • HPV 1: 15 tahun ke atas
  • HPV 2: 2 bulan dari dosis 1
  • HPV 3: 6 bulan dari dosis 1

 

  • Vaksin Demam Berdarah Dengue – 2 Dosis:
    • DBD 1: minimal usia 6 tahun
    • DBD 2: 3 bulan dari dosis 1

 

  • Vaksin HFMD (Flu Singapore), vaksin baru – 2 Dosis:
    • Usia 6 bulan hingga 3 tahun, 2 dosis dengan jarak sebulan. 

Nah, bagi Anda para orang tua yang ingin memberikan pengalaman imunisasi terbaik untuk buah hati, Klinik Mutiara Cikutra (KMC) merupakan salah satu rekomendasi berkualitas yang layak Anda coba!

Klinik berizin resmi dari Kementerian Kesehatan ini menawarkan berbagai layanan kesehatan, termasuk layanan imunisasi yang lengkap. Mulai dari imunisasi wajib program pemerintah hingga imunisasi tambahan.

Jadi, yuk, kunjungi KMC sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

https://www.idai.or.id/news-event/agenda-nasional/others/6798

 

Imunisasi di Bandung: Tips Memilih Tempat yang Tepat untuk Anak Anda

Imunisasi di Bandung: Tips Memilih Tempat yang Tepat untuk Anak Anda

Imunisasi di Bandung: Tips Memilih Tempat yang Tepat untuk Anak Anda

 

Salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan anak sejak dini yaitu dengan melakukan imunisasi. Berbagai penelitian medis dan program kesehatan global pun telah membuktikan betapa pentingnya hal ini.

Oleh sebab itu, Anda sebagai orang tua harus berperan aktif mewujudkan langkah penting ini. Salah satu caranya dengan memilih tempat imunisasi yang tepat sehingga anak bisa mendapatkan pelayanan dan penanganan imunisasi terbaik.

Nah, khusus bagi Anda yang berdomisili di Bandung, artikel ini akan memberikan Anda rekomendasi tempat imunisasi Bandung berkualitas. Selain itu, di sini Anda juga akan menemukan sejumlah informasi menarik terkait imunisasi, mulai dari definisi, tujuan, hingga tips memilih tempat imunisasi Bandung.

Yuk, simak pembahasan lengkapnya berikut ini!

Imunisasi, Definisi dan Tujuannya

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), imunisasi adalah upaya perlindungan tubuh (terhadap penyakit) melalui penyuntikan vaksin agar tubuh membuat antibodi untuk mencegah penyakit tertentu.

Melalui pemberian vaksin, tubuh anak dibantu untuk membentuk kekebalan terhadap berbagai penyakit menular yang berbahaya, seperti campak, polio, difteri, hepatitis, dan lain-lain.

Dalam artian, dengan meningkatnya kekebalan anak, maka apabila suatu saat anak terjangkit penyakit tertentu, risikonya bisa lebih kecil (sakit ringan saja) atau bahkan tidak terjangkit sama sekali (kebal).

Jadi, bisa dibilang bahwa tujuan melakukan imunisasi secara lengkap dan tepat waktu, yaitu agar dapat menekan risiko komplikasi serius—bahkan kematian akibat penyakit infeksi—secara signifikan.

Selain itu, tindakan ini tidak hanya melindungi anak secara individu, melainkan turut berkontribusi pada terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity) yang penting untuk mencegah wabah penyakit di masyarakat.

Tips Memilih Tempat Imunisasi untuk Anak

Jika masih bingung dalam menentukan pilihan, berikut beberapa tips yang dapat Anda terapkan dalam memilih tempat imunisasi terbaik untuk buah hati kesayangan Anda:

  • Pilih tempat imunisasi resmi tepercaya, yang memiliki izin dari Kementerian Kesehatan atau dinas kesehatan setempat. Bisa di posyandu, puskesmas, klinik, rumah sakit, ataupun tempat praktik dokter anak.
  • Cek ulasan dan reputasi tempat imunisasi tujuan Anda. Jika perlu, lakukan perbandingan beberapa tempat, lalu pilih yang terbaik di antara semua pilihan. Caranya  bisa dengan mengecek review online ataupun bertanya langsung pada orang sekitar yang sudah pernah mencoba di tempat-tempat tersebut.
  • Pastikan tempat imunisasi tujuan Anda didukung oleh tenaga medis berkualitas yang profesional, bersertifikat dan ahli di bidangnya, serta tentunya ramah terhadap anak.
  • Pertimbangkan kebersihan dan kenyamanan tempat imunisasi. Sebab, lingkungan yang bersih, rapi, dan ramah anak akan membuat proses imunisasi lebih nyaman
  • Pertimbangkan ketersediaan dan jenis vaksin, begitu pula dengan jadwal yang fleksibel. Sebab, tempat imunisasi yang memiliki sistem pendaftaran atau antrean yang tertata baik dan waktu layanan fleksibel akan memudahkan Anda sebagai orang tua dalam mengatur waktu.

Rekomendasi Tempat Imunisasi Bandung Berkualitas

imunisasi anak
Sumber : Envanto

Pada dasarnya, imunisasi bisa dilakukan di berbagai tempat resmi, seperti posyandu, puskesmas, rumah sakit, maupun klinik. Namun, posyandu dan puskesmas yang biasanya menyediakan imunisasi secara gratis sering kali hanya menyediakan imunisasi dasar.

Sementara itu, melakukan imunisasi di rumah sakit ataupun klinik biasanya menawarkan pilihan imunisasi yang lebih lengkap bahkan kombinasi

Oleh karena itu, bagi Anda orang tua di Bandung yang merasa lebih tertarik untuk melakukan imunisasi anak di klinik, salah satu rekomendasi tempat imunisasi Bandung yang layak Anda pertimbangkan adalah Klinik Mutiara Cikutra (KMC).

Tempat imunisasi Bandung yang satu ini menawarkan tempat senyaman rumah dan pelayanan yang seramah keluarga. Jadi, Anda tidak perlu khawatir buah hati kesayangan Anda mengalami kesulitan saat proses imunisasi berlangsung.

Terlebih, klinik ini menawarkan layanan imunisasi lengkap, mulai dari imunisasi wajib program pemerintah hingga imunisasi tambahan.

Nah, jika Anda tertarik, Anda bisa langsung mengunjungi Klinik Mutiara Cikutra Bandung, yaitu di Jl. Cikutra No. 115 Blok. A-B, Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat.

Yuk, jadwalkan kunjungan Anda sekarang juga!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hari-pertama-kehidupan/seputar-imunisasi