Klinik Mutiara Cikutra

Tips Penyimpanan ASI yang Benar Selama Masa Laktasi

Tips Penyimpanan ASI yang Benar Selama Masa Laktasi

Tips Penyimpanan ASI yang Benar Selama Masa Laktasi

Laktasi
Sumber : Envanto

Masa laktasi merupakan salah satu periode penting dalam kehidupan seorang ibu. Pada momen ini, Anda perlu mencurahkan perhatian khusus untuk mendukung tumbuh kembang si kecil. Sayangnya, tidak semua ibu bisa menjalani masa laktasi dengan lancar.

Sebab, beberapa ibu nyatanya tidak dapat menyusui langsung setiap saat. Terutama bagi mereka yang bekerja atau memiliki aktivitas tertentu di luar rumah. Nah, dalam kondisi ini, salah satu solusi yang banyak dipilih ibu adalah memerah dan menyimpan ASI agar tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi si kecil.

Lantas, bagaimana cara memerah dan menyimpan ASI yang benar selama masa laktasi? Berikut informasi lengkapnya untuk Anda. Yuk, simak!

ASI dan Manfaatnya untuk Bayi

Laktasi
Sumber : Envanto

ASI merupakan singkatan dari “air susu ibu”. Ini adalah cairan alami yang diproduksi oleh kelenjar payudara ibu setelah mereka melahirkan, dan merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi.

ASI eksklusif dari ibu sangat baik untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi. Sebab, ASI mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan bayi, termasuk protein, vitamin, mineral, dan lain-lain.

Dibandingkan susu formula, ASI alami jauh lebih mudah dicerna dan komposisinya pun lebih sesuai dengan kebutuhan bayi. Nah, berikut beberapa manfaat ASI untuk bayi:

  • Dapat meningkatkan kecerdasan bayi.
  • Membantu mengurangi risiko alergi pada bayi.
  • Dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi.
  • Membantu menjaga berat badan bayi agar tetap ideal.
  • Membantu mengurangi risiko Sudden Infant Death Syndrome (SIDS), yaitu sindrom kematian bayi mendadak.

Memberikan ASI eksklusif kepada bayi juga bermanfaat untuk ibu. Hal ini dapat meningkatkan emosional antara ibu dan bayi. Juga dapat membantu menurunkan berat badan ibu setelah melahirkan. Sebab, saat memproduksi ASI, setidaknya 500 kalori bisa terbakar.

Selain itu, pemberian ASI eksklusif juga dapat menjadi KB alami (metode amenore laktasi) yang efektif. Khususnya jika bayi menyusu secara rutin siang dan malam selama enam bulan pertama.

Cara Memerah ASI yang Benar

Laktasi
Sumber : Envanto

Secara umum, Anda bisa memerah ASI dengan dua cara, yaitu menggunakan pompa ASI dan pompa tangan. Adapun pompa ASI juga terbagi atas dua jenis lagi, yakni pompa ASI elektrik (listrik) serta pompa ASI manual.

Nah, jika Anda tertarik untuk memerah ASI secara manual alias langsung dengan tangan, berikut adalah langkah-langkah cara yang benar:

  • Pertama-tama, cuci tangan Anda hingga benar-benar bersih menggunakan air dan sabun. Setelah itu, keringkan.
  • Selanjutnya, siapkan botol atau wadah yang telah disterilkan. Lalu, tempatkan di bawah payudara Anda. Tujuannya, yaitu untuk menampung ASI yang akan keluar.
  • Jika sudah, mulai pijat payudara secara perlahan. Posisikan jari-jari Anda hingga membentuk huruf C di sekitar areola, lalu tekan dengan lembut. Usahakan untuk tidak memberi tekanan berlebihan pada puting. Sebab, hal ini dapat memicu rasa nyeri, sekaligus bisa menghambat aliran ASI.
  • Saat ASI sudah keluar, lepaskan tekanan. Ulangi kembali menekan secara perlahan sampai kebutuhan ASI yang Anda inginkan tercukupi.

Sedikit tips, jika aliran ASI mulai berhenti, pijat bagian lain sampai rata hingga ke seluruh permukaan payudara. Ulangi juga langkah-langkah di atas untuk payudara satunya lagi.

Tips Penyimpanan ASI di Masa Laktasi

Setelah sukses memerah ASI, langkah selanjutnya yaitu menyimpan ASI dengan tepat. Agar tidak salah langkah, berikut beberapa tips penyimpanan ASI di masa laktasi yang bisa Anda terapkan:

  • Sebelum wadah ASI digunakan, cuci dan sterilkan terlebih dahulu.
  • Gunakan wadah penyimpanan ASI yang aman, seperti botol kaca atau plastik bebas BPA.
  • Jika ASI akan dibawa keluar, gunakan tas khusus atau tas cooler agar kualitas ASI tetap terjaga.
  • Jika ASI hanya untuk disimpan di rumah, simpan ASI di dalam kulkas dan sebaiknya di tempat yang paling dingin, yaitu di bagian paling belakang freezer.
  • Perhatikan waktu penyimpanan ASI. Hindari menyimpan terlalu lama, karena semakin lama ASI disimpan, kandungan vitamin C-nya akan semakin hilang. Selain itu, hal ini juga penting untuk menghindari risiko keracunan.

Jika Anda masih memiliki pertanyaan seputar cara menyimpan ASI yang benar atau mengalami tantangan lain selama masa menyusui, silakan berkonsultasi langsung ke poli laktasi

Nah, salah satu rekomendasi fasilitas kesehatan terbaik yang menawarkan layanan ini adalah Klinik Mutiara Cikutra (KMC). Di sini, Anda bisa mendapatkan pendampingan berkualitas oleh tenaga medis profesional.

Jadi, yuk segera jadwalkan kunjungan Anda!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Kapan Waktu Tepat Pemberian ASI dan MPASI? Yuk, Konsultasi ke Poli Laktasi

Kapan Waktu Tepat Pemberian ASI dan MPASI? Yuk, Konsultasi ke Poli Laktasi

Kapan Waktu Tepat Pemberian ASI dan MPASI? Yuk, Konsultasi ke Poli Laktasi

laktasi
Sumber : Envanto

Untuk menunjang tumbuh kembang bayi agar optimal, pemberian ASI eksklusif dan MPASI menjadi hal yang sangat penting. Sayangnya, tak dimungkiri bahwa masih cukup banyak orang tua—khususnya orang tua baru—yang bingung terkait waktu yang tepat dalam pemberian ASI eksklusif hingga transisi ke MPASI ini.

Padahal, pemahaman yang tepat tentu saja akan memudahkan orang tua dalam memenuhi asupan gizi terbaik yang dibutuhkan si kecil. Oleh karena itu, melakukan konsultasi hingga mendapatkan edukasi dan bimbingan langsung dari tenaga medis profesional sangat dianjurkan.

Bagaimana caranya? Salah satu solusinya yaitu dengan berkonsultasi langsung ke poli laktasi. Dengan demikian, proses menyusui hingga transisi pemberian ASI dapat berjalan lancar dan efektif.

Yuk, simak penjelasannya berikut ini, lengkap rekomendasi layanan poli laktasi berkualitas di akhir  artikel!

Pemberian ASI Eksklusif, Seberapa Penting?

ASI merupakan singkatan dari “air susu ibu” yang dapat membantu menunjang tumbuh kembang buah hati kesayangan. ASI menjadi asupan bergizi dengan kandungan karbohidrat, protein, mineral, dan lemak dalam jumlah seimbang yang sesuai kebutuhan bayi.

Oleh sebab itu, pemberian ASI eksklusif sangatlah penting karena ASI merupakan makanan terbaik dengan banyak kandungan gizi yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan asupan bayi.

Lantas, apa yang dimaksud dengan ASI eksklusif? ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan secara eksklusif tanpa tambahan makanan maupun minuman—termasuk air putih—ketika bayi berusia 0 sampai 6 bulan.

ASI dianjurkan untuk diberikan sesering mungkin, yaitu sekitar 8-12 kali sehari atau disesuaikan dengan kebutuhan bayi, terutama pada minggu-minggu awal sejak bayi dilahirkan. 

Sebagai informasi, bayi yang baru lahir umumnya membutuhkan sekitar 30-60 ml ASI per 1-3 jam sekali setiap harinya. Namun, frekuensi ini bisa bervariasi, tergantung usia bayi dan produksi ASI sang ibu.

Waktu Tepat Pemberian ASI dan Transisi ke MPASI

laktasi
Sumber : Envanto

Pemberian ASI eksklusif dapat dimulai sejak bayi lahir hingga menginjak usia enam bulan—yang kemudian dianjurkan untuk dilanjutkan sampai mereka berusia dua tahun, dengan pemberian makanan yang sesuai.

Adapun untuk transisi ASI ke MPASI bisa mulai dilakukan ketika bayi berusia enam bulan. Pasalnya, di usia ini, sistem pencernaan yang dimiliki oleh bayi sudah siap untuk mencerna makanan-makanan padat.

Selain itu, saat bayi menginjak usia enam bulan, mereka cenderung mulai membutuhkan zat gizi tambahan. Contohnya seperti zat besi dan zinc yang tidak lagi cukup dipenuhi dengan pemberian ASI semata, sehingga dibutuhkan bantuan dari MPASI.

MPASI sendiri merupakan singkatan dari “makanan pendamping ASI (air susu ibu)”. Sesuai namanya, ini adalah makanan yang diberikan kepada anak sebagai pendamping atau tambahan asupan nutrisi selain ASI.

Selain untuk memenuhi asupan gizi si kecil, pemberian MPASI juga bertujuan untuk membantu keterampilan makan anak, sekaligus sebagai langkah awal memperkenalkan mereka dengan berbagai rasa dan tekstur makanan.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa dari  segi tekstur, Anda harus tetap menyesuaikan pemberian MPASI yang sesuai secara bertahap. Misalnya, dimulai dengan bubur halus terlebih dahulu, kemudian ditingkatkan jadi bubur saring, lalu makanan lumat, hingga akhirnya makanan-makanan tertentu yang aman dikonsumsi si kecil.

Rekomendasi Poli Laktasi Berkualitas untuk Konsultasi ASI dan MPASI

Bagi Anda yang ingin tahu lebih banyak terkait hal-hal seputar menyusui, termasuk konsultasi ASI dan MPASI, langkah bijak yang dapat Anda ambil yaitu mengunjungi poli laktasi.

Nah, salah satu rekomendasi fasilitas kesehatan dengan layanan poli laktasi berkualitas adalah KMC alias Klinik Mutiara Cikutra. Ini adalah klinik kesehatan yang terdaftar resmi dan memiliki izin Kementerian Kesehatan. Jadi, dari segi kualitas, Anda tidak perlu khawatir.

Klinik Mutiara Cikutra menyediakan berbagai layanan kesehatan, baik untuk ibu, anak, keluarga, dan lain-lain. Salah satunya termasuk layanan poli laktasi yang didukung oleh tenaga medis berkualitas dan tempat poli yang super nyaman.

Hal ini karena Klinik Mutiara Cikutra berdedikasi untuk memberikan pengalaman pemeriksaan terbaik untuk Anda dan keluarga melalui pelayanan yang seramah keluarga serta tempat yang senyaman rumah sendiri.

Bagaimana? Tertarik mencoba? Jangan ditunda-tunda, yuk segera kunjungi Klinik Mutiara Cikutra dan dapatkan pengalaman terbaik Anda dengan layanan poli laktasi berkualitas dari KMC!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

ASI Tidak Keluar? Poli Laktasi Bandung Ini Siap Bantu!

ASI Tidak Keluar? Poli Laktasi Bandung Ini Siap Bantu!

ASI Tidak Keluar? Poli Laktasi Bandung Ini Siap Bantu!

 

Masa kehamilan, persalinan, hingga menyusui merupakan momen-momen penting nan berkesan bagi sebagian besar ibu di seluruh dunia. Kendati demikian, umumnya, orang-orang hanya akan fokus pada masa kehamilan dan persalinan. Padahal, sebenarnya tahap menyusui juga tak kalah krusialnya.

Pasalnya, ASI alias air susu ibu adalah sumber nutrisi utama yang paling ideal bagi bayi baru lahir. Sayangnya, ternyata tidak semua ibu langsung bisa memberikan ASI eksklusif kepada buah hati setelah melahirkan. Mengapa?

Yuk, simak pembahasan lengkapnya dalam artikel ini. Anda akan menemukan informasi penyebab ASI tidak keluar, hal yang harus Anda lakukan jika mengalaminya, hingga rekomendasi poli laktasi Bandung—khusus bagi Anda para warga Bandung!

Penyebab ASI Tidak Keluar

ASI
Sumber : Envanto

Salah satu tantangan/hambatan sekaligus masalah meresahkan yang cukup sering dialami oleh ibu yang baru melahirkan (pejuang ASI) adalah tidak keluarnya ASI. Padahal, bayi sangat membutuhkan nutrisi dari air susu ibu ini untuk menunjang tumbuh kembang mereka.

Memang, ada ibu yang bisa langsung menyusui sesaat setelah melahirkan atau ketika melakukan inisiasi menyusui dini (IMD). Namun, nyatanya ada juga ibu yang baru bisa menyusui setelah hari kedua dan ketiga pasca-melahirkan. Itu pun terkadang dengan kuantitas yang tidak optimal sehingga pemberian ASI juga menjadi tidak maksimal.

Lantas, apa kira-kira penyebab ASI tidak keluar atau tidak lancar? Berikut beberapa di antaranya:

  • Stres. Terlebih lagi, seorang ibu mengalami proses persalinan yang traumatik. Sebab, stres cukup memengaruhi penurunan hormon oksitosin yang memiliki peran penting dalam produksi ASI. Ini bisa berujung pada ASI tidak/susah keluar.
  • Kelahiran prematur. Ini bisa menghambat produksi ASI karena ketidaksiapan hormon, minimnya stimulasi dari isapan bayi (biasanya tidak sekuat bayi normal), hingga kemungkinan stres emosional ibu.
  • Kelelahan. Rasa lelah biasanya datang dari kurang tidur atau hal-hal sejenisnya, dan ini cukup sering dialami oleh ibu yang baru saja melakukan persalinan.
  • Pemberian cairan infus saat bersalin. Hal ini bisa membuat payudara bengkak sehingga ASI menjadi sulit keluar sampai payudara kembali normal.
  • Ibu memiliki kondisi tertentu, seperti obesitas, kanker payudara, anemia, dan lain-lain.
  • Terjadi masalah pada plasenta sehingga produksi ASI tertunda.
  • Ibu memiliki kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol.
  • Cara menyusui keliru, seperti perlekatan yang kurang tepat.
  • Ibu kehilangan banyak darah usai melahirkan.
  • Efek samping obat-obatan tertentu.

Hal yang Harus Dilakukan ketika ASI Tidak Keluar

ASI
Sumber : Envanto

Jika Anda saat ini kebingungan karena ASI tidak bisa keluar atau tidak lancar, berikut beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya:

  • Mempelajari posisi menyusui yang tepat agar tidak keliru. Pastikan mulut bayi melekat dengan benar ke payudara dan jangan menyusui melalui salah satu payudara saja.
  • Melakukan kontak kulit dengan bayi untuk merangsang oksitosin dan prolaktin. Keduanya merupakan hormon yang berperan dalam produksi ASI.
  • Memompa ASI dan menyusui secara rutin agar payudara terus-menerus mendapat rangsangan untuk memproduksi ASI.
  • Merelaksasikan tubuh agar bisa melancarkan pelepasan hormon laktasi yang berperan dalam proses pengeluaran ASI.
  • Minum air putih yang cukup agar tidak dehidrasi, sekaligus sebagai upaya untuk mencegah produksi ASI menurun.
  • Melakukan pijat payudara (pijat laktasi) guna memperlancar peredaran darah dan produksi ASI.
  • Beristirahat dengan baik, jangan stres, dan pastikan mengonsumsi makanan sehat bergizi.
  • Berkonsultasi ke poli laktasi.

Rekomendasi Poli Laktasi Bandung Berkualitas

Apabila Anda telah mencoba cara-cara di atas, tetapi ASI tak kunjung keluar atau tidak lancar, maka saatnya Anda mengambil langkah bijak: segera berkonsultasi ke poli laktasi.

Nah, khusus para warga Bandung, salah satu rekomendasi fasilitas kesehatan terbaik di Kota Kembang yang menawarkan layanan poli laktasi Bandung berkualitas adalah Klinik Mutiara Cikutra alias KMC.

Di poli laktasi Bandung milik Klinik Mutiara Cikutra ini, tersedia berbagai pelayanan seputar menyusui. Beberapa di antaranya, seperti:

  • Konsultasi laktasi
  • Edukasi menyusui
  • Penyimpanan ASI
  • Pemeriksaan payudara
  • Pijat oksitosin dan laktasi

Namun, selain layanan umum di atas, KMC juga menyediakan induksi dan relaktasi. Induksi berguna untuk merangsang produksi ASI pada wanita yang tidak sedang hamil (contohnya jika ibu mengadopsi bayi), sedangkan relaktasi bisa membantu ibu yang sempat berhenti menyusui untuk kembali memproduksi ASI.

Jadi, yuk, segera konsultasikan berbagai permasalahan laktasi/menyusui Anda di poli laktasi Bandung Klinik Mutiara Cikutra! Silakan datang langsung ke Jl. Cikutra No. 115 Blok A-B, Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat!

 

Referensi:

https://mutiaracikutra.com/

Berbagai Posisi Menyusui dan Perlekatan Menyusui yang Benar

Berbagai Posisi Menyusui dan Perlekatan Menyusui yang Benar

Berbagai Posisi Menyusui
& Perlekatan Menyusui yang Benar

 

Tau gak sih moms kalau keberhasilan menyusui tergantung pada posisi dan perlekatan bayi ke payudara loh. Ketika bayi diposisikan dan dilekatkan dengan benar, mereka akan menyusu dengan baik dan Moms tidak akan merasakan sakit. Saat Moms mulai menyusui, mungkin akan merasa tidak nyaman, tetapi lama kelamaan Moms akan terbiasa dengan perasaan itu. Posisi menyusui bisa berbeda-beda, jadi temukan satu yang paling sesuai untuk Moms dan bayi, ya!

 

Berbagai posisi menyusui yang dapat Moms coba di antaranya :


  1.   Cradle Position

Cradle Position
Cradle Position

Cradle Position merupakan posisi menyusui yang paling banyak dilakukan, yaitu dengan posisi Moms tegak dan bayi diposisikan miring, kepala dan leher berbaring di sepanjang lengan bawah serta tubuh menempel pada perut Moms. Moms bisa menggunakan bantal di belakang Moms dan bantal menyusui di pangkuan untuk menopang bayi dan lengan Moms. Jika menggunakan bantal menyusui pastikan posisi bayi tidak terlalu tinggi untuk menghindari putting yang sakit dan perlekatan yang terlalu tegang.

 


  1.   Cross-Cradle Position

Cross-Cradle
Cross-Cradle

Posisi ini terlihat mirip dengan Cradle, tetapi bayi diletakkan di sepanjang lengan yang berlawanan. Tujuannya adalah untuk menopang bayi di sekitar leher dan bahu agar bisa memiringkan kepalanya sebelum menempel. Posisi ini sangat bagus unutk bayi baru lahir terutama untuk bayi dengan tubuh kecil dan bayi-bayi yang kesulitan menempel pada tubuh ibu.

 


  1. Football Hold Position

Football Hold Position
Football Hold Position

Posisi ini merupakan posisi menyusui yang baik untuk Moms yang menjalani operasi Caesar, ibu dengan payudara besar atau bayi kecil. Caranya yaitu dengan meletakkan bantal di sebelah Moms. Kemudian gendong bayi menghadap ke atas di lengan Moms. Gunakan telapak tangan Moms di lengan yang sama untuk menopang leher bayi dan sandarkan sisi bayi ke sisi tubuh Moms. Kemudian angkat bayi ke payudara Moms.

 


  1. Laid Back Position

Laid Back Positions
Laid Back Position

Jika Anda pernah melahirkan secara operasi caesar dan tidak dapat menemukan posisi menyusui yang nyaman, posisi ini dapat membantu. Berbaring dengan tubuh bayi di bahu Moms akan membuat Moms menyusui dengan nyaman tanpa beban atau tekanan pada luka Moms.

 


  1. Side Lying Position

  

Side Lying
Side Lying

Posisi ini juga nyaman bagi ibu yang pernah menjalani operasi caesar karena bayi tidak memberikan tekanan pada perut ibu. Mulailah dengan berbaring miring dengan bayi Moms menghadap Anda. Bayi harus diposisikan sehingga hidungnya berseberangan dengan puting susu Moms. Gunakan lengan bawah Moms untuk menggendong punggung bayi, atau Moms dapat menyelipkan selimut yang digulung di belakang bayi untuk membantu meletakkan bayi di dekat Moms sementara Moms dapat menggunakan lengan untuk menopang kepala Moms sendiri. Moms dapat menopang payudara Moms dengan tangan yang lain.

 

Perlekatan menyusui yang benar :

perlekatan yang benar

  1.   Dekatkan seluruh badan bayi dan hidung dekat dengan puting susu ibu
  2.   Biarkan kepala bayi agak ke belakang sehingga bagian atas bibir bayi dapat menyentuh puting ibu
  3.   Ketika mulut bayi terbuka lebar, dagu bayi akan menyentuh payudara, disertai bagian belakang kepala ke belakang sehingga lidah bayi dapat menyentuh keseluruhan payudara
  4.   Dengan posisi dagu yang menempel pada payudara dan posisi hidung terbuka, disertai mulut bayi yang terbuka lebar, maka pipi bayi akan terlihat bulat dan penuh selama bayi sedang menetek

 

Tanda-tanda bayi melekat dengan benar:

  • Bayi harus memiliki mulut penuh payudara di mulutnya
  • Dagu harus menyentuh payudara Moms
  • Moms mungkin melihat bibir atas dan bawah bayi melengkung
  • Pipi bayi harus penuh dan bulat, Moms seharusnya tidak melihat lesung pipi saat bayi menetek
  • Rahang bayi harus bergerak, mungkin juga melihat telinga bayi berkedut saat mereka makan
  • Bayi akan mulai dengan hisapan cepat pendek, kemudian berubah menjadi hisapan panjang dalam dengan jeda untuk bernapas
  • Moms harus mendengar bayi menelan saat volume ASI meningkat
  • Moms seharusnya tidak mendengar suara seperti “klik”
  • Bayi harus menyusui dengan tenang dan tidak berpindah-pindah payudara
  • Bayi selesai menyusu dan tampak puas
  • Moms akan merasa nyaman saat menyusui dan puting tidak akan sakit

 

 

Sumber :

https://www.nhs.uk/start4life/baby/feeding-your-baby/breastfeeding/how-to-breastfeed/breastfeeding-positions/

https://www2.hse.ie/wellbeing/babies-and-children/breastfeeding/a-good-start/positioning-and-attachment/

 

 

Tips Menyimpan dan Menghangatkan ASIP

Tips Menyimpan dan Menghangatkan ASIP

Tips Menyimpan dan Menghangatkan ASIP

 

Memompa ASI sangat bermanfaat untuk dilakukan sehingga Moms bisa menyimpan ASI di freezer untuk digunakan di lain waktu. Simak ulasannya berikut ini, Moms. 

Beberapa hal yang harus dilakukan sebelum memerah ASI :

  • Cuci tangan dengan benar menggunakan air dan sabun. Jika sabun dan air tidak tersedia, boleh menggunakan hand-sanitizer berbasis alkohol minimal 60%
  • Moms dapat memompa ASI dengan pompa manual atau elektrik
  • Jika menggunakan pompa, periksa kit pompa dan tabung harus dalam kondisi bersih

Tips menyimpan ASIP :

  • Gunakan wadah food grade untuk menyimpan ASIP. Moms harus memastikan bahwa wadah yang terbuat dari kaca atau plastik memiliki tutup yang rapat. Hindari wadah plastik dengan simbol daur ulang nomor 7 karena memungkinkan wadah terbuat dari plastik yang mengandung BPA
  • Hindari menyimpan ASIP dalam wadah atau botol pastik yang tidak direkomendasikan untuk menyimpan ASI
  • ASIP yang telah dipompa dapat disimpan pada :
    o  Suhu kamar hingga 4 jam
    o  Di kulkas tahan selama 4 hari
    o  Di dalam freezer tahan selama 6-12 bulan (paling direkomendasikan)
  • Beri label tanggal dan jam kapan ASI dipompa pada wadah penyimpan ASIP
  • Jangan simpan ASIP pada pintu kulkas atau freezer. Hal ini akan melindungi kualitas ASIP dari perubahan suhu saat pintu kulkas atau freezer dibuka dan ditutup
  • Simpan di dalam freezer jika ASIP belum akan dipakai dalam 4 hari ke depan
  • Bekukan ASIP di freezer dalam jumlah sedikit untuk menghindari pemborosan ASIP yang belum habis
  • Sisakan satu inci pada bagian atas wadah karena ASIP akan mengembang saat beku

 

Tips mencairkan ASIP :

  • Moms selalu cairkan ASIP yang terlama terlebih dahulu. ASIP pertama yang masuk adalah ASIP yang pertama digunakan karena semakin lama kualitas ASIP semakin menurun
  • Terdapat beberapa cara untuk mencairkan ASIP yang disimpan di dalam freezer :
  • Simpan di kulkas semalaman
  • Letakkan dalam wadah berisi air hangat
  • Letakkan dibawah air hangat
  • Jangat pernah mencairkan atau memanaskan ASIP dalam microwave karena dapat merusak nutrisi ASI dan membuat sensasi panas yang bisa membakar mulut bayi
  • Jika Moms mencairkan ASIP di kulkas, gunakan ASIP dalam 24 jam. Mulai hitung 24 jam setelah ASIP cair sepenuhnya
  • Jika ASIP dicarikan dalam suhu ruangan, segera gunakan dalam waktu 2 jam
  • Jangan bekukan kembali ASIP yang sudah dicairkan

 

Tips menghangatkan ASIP :

  • Pastikan wadah ASIP tertutup rapat
  • Simpan wadah berisi ASIP pada mangkok berisi air hangat atau letakkan dibawah air hangat, bukan air panas. Moms bisa melakukannya selama beberapa menit
  • Cek suhu dari ASIP sebelum diberikan pada bayi dengan meneteskannya di pergelangan tangan, rasakan apakah ASIP terasa hangat atau terlalu panas
  • Jangan hangatkan secara langsung ASIP dengan kompor atau microwave
  • Aduk ASIP untuk mencampur lemak yang mungkin telah terpisah
  • Jika ASIP tidak habis di dalam botol, gunakan sisa ASIP dalam waktu 2 jam setelah bayi selesai menyusu. Jika setelah 2 jam ASIP masih ada, maka ASIP harus dibuang dan tidak bisa digunakan lagi

Sekian tips tentang cara menyimpan dan menghangatkan ASIP yang perlu Moms ketahui. Semoga bermanfaat untuk Si Kecil ya Moms!

 

Sumber :

https://www.cdc.gov/breastfeeding/recommendations/handling_breastmilk.html

https://www.nhs.uk/conditions/baby/breastfeeding-and-bottle-feeding/breastfeeding/expressing-breast-milk/

Bagaimana Cara Kerja Produksi ASI dalam Tubuh Ibu Menyusui?

Bagaimana Cara Kerja Produksi ASI dalam Tubuh Ibu Menyusui?

Bagaimana Cara Kerja Produksi ASI
dalam Tubuh Ibu Menyusui?

 

Ketika Moms mengetahui bagaimana ASI dibuat, maka akan lebih mudah memahami mengapa bayi sering menyusu. Setelah bayi berusia sekitar 1-2 minggu, maka bayi memiliki kemampuan sepenuhnya untuk menyusu dan jika bayi mampu mengosongkan ASI dari payudara, maka berpengaruh pada jumlah ASI yang dihasilkan. Simak ulasannya berikut ini, Moms!

Kolostrum

Saat Moms masih hamil dan setelah melahirkan, payudara akan membuat kolostrum, yaitu ASI yang pertama kali keluar. Kolostrum seringkali berwarna kuning tua atau oranye. Kolostrum berkonsistensi kental dengan jumlah sedikit dan mengandung nutrisi yang sangat baik untuk bayi. Penting untuk diingat bahwa perut bayi sangat kecil dan tidak membutuhkan banyak susu untuk diisi. Jika bayi terlihat puas setelah menyusu dan BAB serta BAK di popok, maka tubuh Moms membuat semua yang diperlukan bayi. Tetap menyusui ketika bayi memberi tahu Moms bahwa bayi lapar, dan tubuh akan merespons sinyal untuk membuat lebih banyak susu.

Hormon dan ASI

Selama fase produksi ASI, tubuh Moms akan menunggu kadar hormon kehamilan yaitu hormon progesteron untuk mulai bekerja setelah bayi dan plasenta lahir serta hormon penghasil ASI termasuk prolaktin, insulin, dan hidrokortison. Hormon ini akan “memberi tahu” payudara bahwa inilah saatnya untuk mulai memproduksi ASI dalam jumlah besar. Peningkatan produksi ASI biasanya terjadi pada saat bayi berusia 3 sampai dengan 5 hari, meskipun bayi belum menyusu dengan baik atau sering. Namun, seringnya bayi menyusui bisa mempercepat proses produksi ASI menjadi lebih banyak. Pada saat ASI mulai diproduksi, payudara Moms akan mulai terasa lebih kencang dan penuh.

Setelah ASI diproduksi

Produksi susu jangka panjang yang sedang berlangsung sebagian besar bergantung pada pengeluaran ASI. Semakin sering ASI dikeluarkan, semakin banyak ASI yang dihasilkan payudara. Begitupun sebaliknya. Ketika ASI dikeluarkan lebih jarang, maka payudara akan mendapatkan sinyal untuk memperlambat produksi ASI dan membuat produksinya menjadi lebih sedikit.

Proses menyusui

Untuk mengosongkan payudara sepenuhnya, bayi harus memiliki perlekatan yang baik saat menyusui. Bayi harus menempel sepenuhnya ke payudara dan menggunakan lidah serta bibir di mulutnya untuk mengisap dengan baik, kemudian menelan. Saat bayi Moms melakukan ini, tubuh akan merespons sinyal tersebut dengan mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini menyebabkan keluarnya volume susu menjadi lebih besar.

Moms dapat menggunakan pumping ASI untuk mengosongkan payudara sepenuhnya. Moms dapat memerah ASI dengan pumping manual menggunakan tangan atau bisa memerah ASI dengan pumping elektrik.

 

 

Sumber :

https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=how-breastmilk-is-made-90-P02635

https://www.medela.com/breastfeeding/mums-journey/breast-milk-supply-and-demand